Sabtu, 15 Juni 2013

FF / HATRED BREATH / EXO / TWOSHOOT / (1/2)

FF/HATRED BREATH/EXO/ TWOSHOOT /SONGFIC
TITTLE : HATRED BREATH (1/2)
AUTHOR : BIM @noninodi
CAST : OH SEHUN
KIM YOOJUNG
WU YIFAN
LENGTH : ONESHOOT
GENRE : FANTACY-HOROR MISTERY/ SONGFIC (INSP : WOLF – EXO)
RATING : PG14





NB : well, ini termasuk ff  horor debutan gw. jadi sory banget kalo gajenya gak naudzubillah heheh... trus ff ini juga termasuk ff rookie bergenre SONGFIC. yeh, gw lagi demen banget nih ma lagu WOLFnya EXO sukaaaaaaa.... banget. apa lagi smaa artinya.. makanya lahirlah ff gaje dari otak gw. yesudlah... silahkan yang pengen baca, yang pengen pipis dulu juga silahkan, buat yang mau makan, minum, sholat dulu juga silahkan, sangat dianjurkan. kalo yang mau CLOSE TAB, please jangan TT__TT  semua cerita, alur, tokoh, karakter milik gw. *MauApaLo? :P #NoBash #NoProtes #TidakMenerimaTerorDalamBentukApapun #TelorMataSapiItuSyahdu #plakkk...
happy reading TOLONG MENJEJAK YAH READERSKU SAYAAAANGGG,... :*
oh yah buat kalian yang penegn paham maksud lagu WOLF silahkan Klik Disini ^^




Author POV

31 Oktober 2002,

I like simple things
The things hidden inside of me
have opened its eyes

Suara gemuruh petir berkecamuk. Berkali-kali melontarkan kilatan listrik, mencambuk kasar wajah bumi. Deru kencang tiupan angin saling membelit bertiup goyangkan langit. Tak ingin kalah, serbuan rintik hujan turut meramaikan cengkraman kekelaman malam itu.
Seorang bocah menatap getir gejolak alam di luar sana. Tanpa rasa takut ataupun risau, ia tak membiarkan satu detikpun kehilangan wajah alam yang murka karena perbuatannya.
Rumah mewah yang ia tempati tak lagi terlihat layak huni. Hanya ada pecahan kaca dan kerusakan di sana sini. Vas bunga yang tak lagi berwujud sempurna tergeletak tak berharga di sepanjang lobi. Lukisan-lukisan usang yang bergelantungan tak bernyawa di dinding, hanya pasrah menunggu waktunya terjatuh dan menjadi bagian dari pecahan-pecahan kenangan seperti semua properti pelengkap rumah agung ini.
Bau anyir darah tercium pekat di seluruh ruangan tempat bocah itu berdiri. Di tangan kanannya masih tergenggam sebuah pisau dengan lumuran darah segar di tepi sisinya. Dia tersenyum getir mengalihkan pandangannya pada dua sosok yang tergeletak tak bernyawa di sisi kakinya.
Seorang lelaki tegap berbaju hitam lengkap dengan tudung kepalanya, muncul dari kegelapan ruang kosong yang penuh cengkaman. Berjalan perlahan mendekati bocah kecil di tepi sekat jendela raksasa.
Hanya dengan satu kali lompatan, namja bertudung hitam itu merubah wujudnya menjadi seekor serigala besar yang mencabik sadis 2 raga yang tergeletak tak bernyawa. Menyayat tiap urat daging dan menghancurkan tiap bagian lembut tulang belulang  tubuh gempal mahluk itu. Melumatnya tanpa menyisakan bangkai yang mungkin akan terambil oleh burung-burung hitam gagak setan.
Tak perlu waktu lama, 2 jasad kaku itu telah bersih tak berbekas. Hanya simbahan darah yang masih mengucur di lantai putih yang ternoda. Perlahan serigala kotor itu kembali pada wujudnya semula.
Namja itu berjalan perlahan mendekati bocah lusuh di tepi jendela yang tak gentar menyimak 2 sosok mayat di hadapannya, yang telah tercabik sadis oleh mahluk keji berbulu itu.
“kau melakukannya dengan baik.” Bisiknya memeluk tubuh ringkih bocah berwajah dingin itu.
“aku telah seorang pembunuh. Apa Tuhan akan memaafkanku?” tanyanya polos. Namja itu hanya tersenyum sengit.
“ya, Tuhanmu tak akan pernah mengampuni dosa-dosamu.” Bisik namja itu membuat bocah di pelukannya berkeringat ketakutan. “tapi MAMA akan bangga dengan anak sepertimu.”
“MA-MAMA...?”
“kami hanya membutuhkan kebencian untuk bertahan hidup. Dan membunuh manusia pendosa yang membuatmu membenci mereka bukanlah dosa bagi MAMA. MAMA menghargai apa yang tak pernah manusia hargai. Jadi, ikuti aku danHiduplah bersama kami.” Jelas namja itu mengulurkan tangannya pada tangan mungil bocah kecil di sampingnya. Mengajaknya untuk hidup bersama dengan kaum iblis yang mengatas-namakan kebebasan dalam membenci umat manusia yang penuh dosa.

>>> 

12 Mei 2012

“Oh Sehun. Kumohon bantulah aku!” pinta seorang gadis berlutut tepat dihadapan seorang namja tampan yang masih sibuk dengan buku usang di tangannya. Mengabaikan permintaannya yang telah terucap berulang kali yang hingga saat ini belum mendapatkan perhatiannya.
“kumohon selamatkanlah orang tuaku. Aku tak tahu harus kemana lagi meminta. Hanya kau yang dapat aku harapkan.”
“mengapa harus aku?” balas Sehun dingin masih tak mengalihkan matanya pada buku tebal di tangannya.
“karena... karena kau tidak memiliki wali dan semua yang kau miliki adalah milikmu.” Jawab Yoojung sendu menahan air matanya. “Aku berjanji akan membayar semua kebaikanmu dan segera mengembalikan uangmu. Kumohon bantulah aku.” Imbuhnya.
“keure, aku akan membantumu.” Ujar Sehun memecah kebisuannya setelah sekian lama terdiam tak menindak permintaan gadis manis di hadapannya.
“mwo?”
“aku hanya perlu melunasi seluruh hutang ayahmu dengan jaminan dirimu sendiri. Baiklah kurasa itu tidak sulit.Lagipula kau terlalu penakut untuk kabur dengan uang-uangku, bukan? Arraseo.Aku akan melakukannya. ”
“jinjayo?” Sehun hanya mengangguk mengiyakan, membuat senyuman manis di bibir tipis gadis itu mengembang. Menepis buliran-buliran bening yang telah terlebih dahulu membasahi pipi mulusnya. “apa yang dapat aku lakukan untukmu?” tawarnya mengusap pipinya.
Sehun mendekat. Kian mendekat, dan berbisik pelan. “dapatkah kau membunuh mereka untukku?” Yoojung terlonjak. Menjauhkan dirinya dari bisikan sadis Sehun.
“mwo?”
“kau mudah sekali ditipu.” Ujar Sehun tersenyum. “temui aku di malam pertama bulan purnama tepat tengah malam di Hutan Pinus Koreyo.” Imbuh Sehun.
“mwo? Tengah malam? Hutan Pinus Koreyo? A... apa yang akan kau lakukan?” tanya Yoojung merasa ganjal.
Sehun terdiam sejenak. Memandang Yoojung yang nampak mulai khawatir akan titahnya. “menurutmu, apa yang akan dilakukan seorang namja dan seorang yeoja di tengah hutan pinus pada tengah malam bulan purnama?” balas Sehunberlalu meninggalkan senyuman kecilnya dan Yoojung seorang diri di tengah kekosongan koridor sepi yang jarang dilalui oleh penghuni sekolah ini.
“mwo?”

>>> 

Sehun POV

I get a feeling all at once
In one bite, I will put you in my mouth like cheese

Samar-sama kusimak langkah demi langkah kaki yang goyah. Dari jauh dapat dengan mudah kutangkap aroma darahnya yang tersamarkan oleh bau basah debu-debu yang tersapu rintikan hujan. Derap-derap detak jantungnya semakin berdegup entah karena apa. Mungkin karna ia menyadari keberadaanku ataukah karna rasa takut yang menyelimutinya. Berada dalam cengkraman kegelapan malam di bawah keredupan cahaya rembulan yang terselimuti awan-awan tebal di temani dengan titik-titik hujan yang jatuh membasahinya.
Aku masih saja tak berpaling memandang lurus jurang di sudut hutan pinus untuk merasakan kehadirannya. Memberikan ruang masa baginya untuk sejenak bernafas sebelum pada akhirnya aku kan menerkamnya.Menunggu waktuku tiba untuk menyergapnya.
Tap. Langkah goyah itupun kini terhenti tepat di belakangku. Seiring dengan suara genderang yang menari-nari di telingaku tiap aku menyimak detakan cepat pembuluh nadinya. Sama halnya dengan puluhan orang sebelumnya yang menemuiku untuk menjemput ajalnya.
Aku berbalik. Memperhatikan wujud lesunya di hadapanku. Menatapku pilu seolah memohon “tolong lepaskan aku.” Cih, tak akan semudah itu seorang Oh Sehun melepaskan mangsa empuknya. Dia sendiri yang datang menemuiku. Aku hanya membuka pintu mempersilahkan tamu terhormatku untuk bergabung denganku. Tak sopan bila aku dengan mudah melepasnya hanya karna kaca-kaca matanya.
“Apa sekarang kau menyesalinya?” cibirku. Dia masih terdiam mempertahankan buliran bening agar tak menjatuhi pipi mulusnya.
“tak ada yang membuatku menyesal untuk menyelamatkan keluargaku. Hanya saja...” ia memotong ucapannya. Sedetik berfikir dan menatapku tajam. “... aku tak menyangka bahwa kau termasuk dalam golongan orang picik penghuni Korea.” Balasnya
Aku tersenyum sinis mendengar celotehannya, “jangan samakan aku dengan mereka. Aku tak pernah memaksamu datang. Kau sendiri yang melangkahkan kakimu untuk menemuiku. Apakah kau tak mengingat bagaimana dirimu saat itu?”
“ya  kau benar. Memang aku datang tanpa paksaan kepadamu. Dan menyetujui membayar seluruh hutangku dengan segala permintaanmu. Tapi aku tak pernah berfikir bahwa kau akan melakukan ini. Memintaku datang menemui di tengah hutan pinus selarut ini. Aku tak tau apa yang kau pikirkan. Satu hal yang perlu kau ingat. Aku tak akan menyerahkan diriku pada namja brengsek sepertimu.” Tegasnya
Tawa sinisku terpecah ketika mendengar pernyataan dangkalnya. “haha... kau fikir kau siapa? Kau seharusnya tau di mana posisimu berada. Dan seharusnya kau sadar bahwa kau tak berhak memikirkan hal bodoh itu. Apalagi mengharapkan aku akan menyukaimu. Ayolah nona kim. Aku dan kau berbeda.”
“tak ada satupun manusia di bumi ini yang mau mengakui keburukannya. Kau juga. Seharusnya kau berhenti bersikap naif seperti ini.”
“mwo?”
“aku pikir kau berbeda dengan ratusan penghuni Sopa, namun aku salah. Penampilan santunmu hanya sebuah bungkus untuk menutupi semua kebusukanmu. Kau benar. Tak sepantasnya aku mengharapkanmu. Bodoh sekali aku berfikir kau berbeda. Aku salah hanya menilai penampilanmu saja.” Celotehnya kian menjadi.
Aku menariknya dan menghempaskan tubuh kurusnya menghantam batang pinus yang berdiri kokoh tak jauh dari tempatnya berdiri. Mengunci tubuhnya dengan tanganku. Tak membiarkan ada ruang gerak dalam pergerakannya. Menatapnya tajam yang berusaha menghindari mataku yang mungkin kini telah memerah.
“seharusnya kau membiarkan keluargamu sengsara karna lilitan hutang mereka. Seharusnya kau tak mengasihi orang tua tak bertanggung jawab seperti mereka. Dan kau tak seharusnya datang pula padaku saat itu untuk memintaku menolongmu jika pada detik ini kau menyesalinya. Apa untungnya bagimu melakukan semua itu? Kau tau, kau bodoh karna sikap naifmu.”
“tak ada satu rumusan untuk mengasihi keluarganya sendiri. Tak ada pula kata untung rugi untuk menyelamatkan orang-orang yang kau cintai. Tak pernahkah kau memahami semua itu Oh Sehun?” tandasnya kian lancang.
“ne, aku tak perlu memahaminya dan tak ada yang perlu dipahami. Aku hidup sendiri. Hanya sendiri dan tak butuh sanggahan dari siapaun di dunia ini. Tidak orang tuaku. Orang-orang terdekatku ataupun dirimu. Aku hidup sendiri dalam duniaku. ”
“apa kau tak merindukan mereka?”
“tidak dan tak akan pernah.” Jawabku kemudian.
Aku mendekatinya. Mendekatkan wajahku pada wajahnya. Mendekapnya begitu erat untuk kunikmati tubuhnya. Hanya 3 cm, ataumungkin hanya 1 cm saja jarak antara kami. Tak butuh waktu lama aku dapat merasakan sesapan bibirnya.

I’ll smell your scent, enjoy your color
And eat you more elegantly than drinking wine

Basah. Itu yang kurasakan. Entah rintikan hangat darimana. Namun kurasa bendungan airmatanya telah tumpah menyelingi kecupan singkat ini. Kulepaskan bibiku dari tepi tipis bibirnya.
“apa kau puas? Apa ini yang aku harapkan?” gumamnya sinis masih mencoba menahan tangis. Aku  hanya tersenyum licik dan hendak mendaratkan lagi bibirku. Siap mencabaik bagian terlembut tubuhnya. Tak butuh waktu lama aku telah siap menggigit lehernya.
Sehembus angin kencanag bertiup di sekitarku. Lagi dan lagi tubuh ini serasa begitu panas meskipun masih ada satu dua titik hujatan bening darilangit. Ruas tulangku serasa membengkak membesar memaksa tubuhku untuk mengikuti alur pertumbuhannya. Bulu-bulu kasar mulai tumbuh menutupi pori-pori kulitku. Kulihat bulatan sempurna rembulan yang bertengger tepat dipuncak kepalaku. Dengan jelas kini kudengar suara “awooooo....” lolongan bangsaku saling bersahutan memanggilku.
Kulonggarkan cengkraman tanganku. Meninggalkan kesempatanku mencabik-cabik tubuhnya. Meninggalkannya yang takpercaya melihatku telah berubah menjadi serigala.

End POV

>>> 









TBC


ini lanjutan  HATRED BREATH (2/2) jangan lupa untuk MENJEJAK ^^V

Tidak ada komentar:

Posting Komentar