FF/HATRED BREATH/EXO/
TWOSHOOT /SONGFIC
TITTLE : HATRED BREATH
(1/2)
AUTHOR : BIM @noninodi
CAST : OH SEHUN
KIM
YOOJUNG
WU
YIFAN
LENGTH : ONESHOOT
GENRE : FANTACY-HOROR
MISTERY/ SONGFIC (INSP : WOLF – EXO)
RATING : PG14
NB : well, ini termasuk ff horor debutan gw. jadi sory banget kalo gajenya gak naudzubillah heheh... trus ff ini juga termasuk ff rookie bergenre SONGFIC. yeh, gw lagi demen banget nih ma lagu WOLFnya EXO sukaaaaaaa.... banget. apa lagi smaa artinya.. makanya lahirlah ff gaje dari otak gw. yesudlah... silahkan yang pengen baca, yang pengen pipis dulu juga silahkan, buat yang mau makan, minum, sholat dulu juga silahkan, sangat dianjurkan. kalo yang mau CLOSE TAB, please jangan TT__TT semua cerita, alur, tokoh, karakter milik gw. *MauApaLo? :P #NoBash #NoProtes #TidakMenerimaTerorDalamBentukApapun #TelorMataSapiItuSyahdu #plakkk...
happy reading TOLONG MENJEJAK YAH READERSKU SAYAAAANGGG,... :*
oh yah buat kalian yang penegn paham maksud lagu WOLF silahkan Klik Disini ^^
oh yah buat kalian yang penegn paham maksud lagu WOLF silahkan Klik Disini ^^
Author POV
31 Oktober 2002,
I like simple things
The things hidden inside of me
have opened its eyes
Suara gemuruh petir
berkecamuk. Berkali-kali melontarkan kilatan listrik, mencambuk kasar wajah bumi.
Deru kencang tiupan angin saling membelit bertiup goyangkan langit. Tak ingin
kalah, serbuan rintik hujan turut meramaikan cengkraman kekelaman malam itu.
Seorang bocah
menatap getir gejolak alam di luar sana. Tanpa rasa takut ataupun risau, ia tak
membiarkan satu detikpun kehilangan wajah alam yang murka karena perbuatannya.
Rumah mewah yang ia
tempati tak lagi terlihat layak huni. Hanya ada pecahan kaca dan kerusakan di
sana sini. Vas bunga yang tak lagi berwujud sempurna tergeletak tak berharga di
sepanjang lobi. Lukisan-lukisan usang yang bergelantungan tak bernyawa di
dinding, hanya pasrah menunggu waktunya terjatuh dan menjadi bagian dari
pecahan-pecahan kenangan seperti semua properti pelengkap rumah agung ini.
Bau anyir darah
tercium pekat di seluruh ruangan tempat bocah itu berdiri. Di tangan kanannya
masih tergenggam sebuah pisau dengan lumuran darah segar di tepi sisinya. Dia
tersenyum getir mengalihkan pandangannya pada dua sosok yang tergeletak tak
bernyawa di sisi kakinya.
Seorang lelaki tegap
berbaju hitam lengkap dengan tudung kepalanya, muncul dari kegelapan ruang
kosong yang penuh cengkaman. Berjalan perlahan mendekati bocah kecil di tepi
sekat jendela raksasa.
Hanya dengan satu
kali lompatan, namja bertudung hitam itu merubah wujudnya menjadi seekor
serigala besar yang mencabik sadis 2 raga yang tergeletak tak bernyawa.
Menyayat tiap urat daging dan menghancurkan tiap bagian lembut tulang belulang tubuh gempal mahluk itu. Melumatnya tanpa
menyisakan bangkai yang mungkin akan terambil oleh burung-burung hitam gagak setan.
Tak perlu waktu
lama, 2 jasad kaku itu telah bersih tak berbekas. Hanya simbahan darah yang
masih mengucur di lantai putih yang ternoda. Perlahan serigala kotor itu
kembali pada wujudnya semula.
Namja itu berjalan
perlahan mendekati bocah lusuh di tepi jendela yang tak gentar menyimak 2 sosok
mayat di hadapannya, yang telah tercabik sadis oleh mahluk keji berbulu itu.
“kau melakukannya
dengan baik.” Bisiknya memeluk tubuh ringkih bocah berwajah dingin itu.
“aku telah seorang
pembunuh. Apa Tuhan akan memaafkanku?” tanyanya polos. Namja itu hanya
tersenyum sengit.
“ya, Tuhanmu tak
akan pernah mengampuni dosa-dosamu.” Bisik namja itu membuat bocah di pelukannya
berkeringat ketakutan. “tapi MAMA akan bangga dengan anak sepertimu.”
“MA-MAMA...?”
“kami hanya
membutuhkan kebencian untuk bertahan hidup. Dan membunuh manusia pendosa yang
membuatmu membenci mereka bukanlah dosa bagi MAMA. MAMA menghargai apa yang tak
pernah manusia hargai. Jadi, ikuti aku danHiduplah bersama kami.” Jelas namja
itu mengulurkan tangannya pada tangan mungil bocah kecil di sampingnya. Mengajaknya
untuk hidup bersama dengan kaum iblis yang mengatas-namakan kebebasan dalam
membenci umat manusia yang penuh dosa.
>>>
12 Mei 2012
“Oh Sehun. Kumohon
bantulah aku!” pinta seorang gadis berlutut tepat dihadapan seorang namja
tampan yang masih sibuk dengan buku usang di tangannya. Mengabaikan
permintaannya yang telah terucap berulang kali yang hingga saat ini belum
mendapatkan perhatiannya.
“kumohon
selamatkanlah orang tuaku. Aku tak tahu harus kemana lagi meminta. Hanya kau
yang dapat aku harapkan.”
“mengapa harus
aku?” balas Sehun dingin masih tak mengalihkan matanya pada buku tebal di tangannya.
“karena... karena kau
tidak memiliki wali dan semua yang kau miliki adalah milikmu.” Jawab Yoojung
sendu menahan air matanya. “Aku berjanji akan membayar semua kebaikanmu dan
segera mengembalikan uangmu. Kumohon bantulah aku.” Imbuhnya.
“keure, aku akan membantumu.”
Ujar Sehun memecah kebisuannya setelah sekian lama terdiam tak menindak
permintaan gadis manis di hadapannya.
“mwo?”
“aku hanya perlu
melunasi seluruh hutang ayahmu dengan jaminan dirimu sendiri. Baiklah kurasa
itu tidak sulit.Lagipula kau terlalu penakut untuk kabur dengan uang-uangku,
bukan? Arraseo.Aku akan melakukannya. ”
“jinjayo?” Sehun
hanya mengangguk mengiyakan, membuat senyuman manis di bibir tipis gadis itu
mengembang. Menepis buliran-buliran bening yang telah terlebih dahulu membasahi
pipi mulusnya. “apa yang dapat aku lakukan untukmu?” tawarnya mengusap pipinya.
Sehun mendekat.
Kian mendekat, dan berbisik pelan. “dapatkah kau membunuh mereka untukku?” Yoojung
terlonjak. Menjauhkan dirinya dari bisikan sadis Sehun.
“mwo?”
“kau mudah sekali
ditipu.” Ujar Sehun tersenyum. “temui aku di malam pertama bulan purnama tepat
tengah malam di Hutan Pinus Koreyo.” Imbuh Sehun.
“mwo? Tengah malam?
Hutan Pinus Koreyo? A... apa yang akan kau lakukan?” tanya Yoojung merasa
ganjal.
Sehun terdiam
sejenak. Memandang Yoojung yang nampak mulai khawatir akan titahnya.
“menurutmu, apa yang akan dilakukan seorang namja dan seorang yeoja di tengah
hutan pinus pada tengah malam bulan purnama?” balas Sehunberlalu meninggalkan senyuman
kecilnya dan Yoojung seorang diri di tengah kekosongan koridor sepi yang jarang
dilalui oleh penghuni sekolah ini.
“mwo?”
>>>
Sehun POV
I get a feeling all at once
In one bite, I will put you in my mouth like cheese
Samar-sama kusimak
langkah demi langkah kaki yang goyah. Dari jauh dapat dengan mudah kutangkap
aroma darahnya yang tersamarkan oleh bau basah debu-debu yang tersapu rintikan
hujan. Derap-derap detak jantungnya semakin berdegup entah karena apa. Mungkin
karna ia menyadari keberadaanku ataukah karna rasa takut yang menyelimutinya.
Berada dalam cengkraman kegelapan malam di bawah keredupan cahaya rembulan yang
terselimuti awan-awan tebal di temani dengan titik-titik hujan yang jatuh
membasahinya.
Aku masih saja tak
berpaling memandang lurus jurang di sudut hutan pinus untuk merasakan
kehadirannya. Memberikan ruang masa baginya untuk sejenak bernafas sebelum pada
akhirnya aku kan menerkamnya.Menunggu waktuku tiba untuk menyergapnya.
Tap. Langkah goyah
itupun kini terhenti tepat di belakangku. Seiring dengan suara genderang yang
menari-nari di telingaku tiap aku menyimak detakan cepat pembuluh nadinya. Sama
halnya dengan puluhan orang sebelumnya yang menemuiku untuk menjemput ajalnya.
Aku berbalik.
Memperhatikan wujud lesunya di hadapanku. Menatapku pilu seolah memohon “tolong
lepaskan aku.” Cih, tak akan semudah itu seorang Oh Sehun melepaskan mangsa
empuknya. Dia sendiri yang datang menemuiku. Aku hanya membuka pintu
mempersilahkan tamu terhormatku untuk bergabung denganku. Tak sopan bila aku
dengan mudah melepasnya hanya karna kaca-kaca matanya.
“Apa sekarang kau
menyesalinya?” cibirku. Dia masih terdiam mempertahankan buliran bening agar
tak menjatuhi pipi mulusnya.
“tak ada yang
membuatku menyesal untuk menyelamatkan keluargaku. Hanya saja...” ia memotong
ucapannya. Sedetik berfikir dan menatapku tajam. “... aku tak menyangka bahwa
kau termasuk dalam golongan orang picik penghuni Korea.” Balasnya
Aku tersenyum sinis
mendengar celotehannya, “jangan samakan aku dengan mereka. Aku tak pernah
memaksamu datang. Kau sendiri yang melangkahkan kakimu untuk menemuiku. Apakah
kau tak mengingat bagaimana dirimu saat itu?”
“ya kau benar. Memang aku datang tanpa paksaan
kepadamu. Dan menyetujui membayar seluruh hutangku dengan segala permintaanmu. Tapi
aku tak pernah berfikir bahwa kau akan melakukan ini. Memintaku datang menemui
di tengah hutan pinus selarut ini. Aku tak tau apa yang kau pikirkan. Satu hal
yang perlu kau ingat. Aku tak akan menyerahkan diriku pada namja brengsek
sepertimu.” Tegasnya
Tawa sinisku
terpecah ketika mendengar pernyataan dangkalnya. “haha... kau fikir kau siapa?
Kau seharusnya tau di mana posisimu berada. Dan seharusnya kau sadar bahwa kau
tak berhak memikirkan hal bodoh itu. Apalagi mengharapkan aku akan menyukaimu.
Ayolah nona kim. Aku dan kau berbeda.”
“tak ada satupun
manusia di bumi ini yang mau mengakui keburukannya. Kau juga. Seharusnya kau
berhenti bersikap naif seperti ini.”
“mwo?”
“aku pikir kau
berbeda dengan ratusan penghuni Sopa, namun aku salah. Penampilan santunmu
hanya sebuah bungkus untuk menutupi semua kebusukanmu. Kau benar. Tak
sepantasnya aku mengharapkanmu. Bodoh sekali aku berfikir kau berbeda. Aku
salah hanya menilai penampilanmu saja.” Celotehnya kian menjadi.
Aku menariknya dan
menghempaskan tubuh kurusnya menghantam batang pinus yang berdiri kokoh tak
jauh dari tempatnya berdiri. Mengunci tubuhnya dengan tanganku. Tak membiarkan
ada ruang gerak dalam pergerakannya. Menatapnya tajam yang berusaha menghindari
mataku yang mungkin kini telah memerah.
“seharusnya kau
membiarkan keluargamu sengsara karna lilitan hutang mereka. Seharusnya kau tak
mengasihi orang tua tak bertanggung jawab seperti mereka. Dan kau tak
seharusnya datang pula padaku saat itu untuk memintaku menolongmu jika pada
detik ini kau menyesalinya. Apa untungnya bagimu melakukan semua itu? Kau tau,
kau bodoh karna sikap naifmu.”
“tak ada satu
rumusan untuk mengasihi keluarganya sendiri. Tak ada pula kata untung rugi
untuk menyelamatkan orang-orang yang kau cintai. Tak pernahkah kau memahami
semua itu Oh Sehun?” tandasnya kian lancang.
“ne, aku tak perlu
memahaminya dan tak ada yang perlu dipahami. Aku hidup sendiri. Hanya sendiri
dan tak butuh sanggahan dari siapaun di dunia ini. Tidak orang tuaku.
Orang-orang terdekatku ataupun dirimu. Aku hidup sendiri dalam duniaku. ”
“apa kau tak
merindukan mereka?”
“tidak dan tak akan
pernah.” Jawabku kemudian.
Aku mendekatinya.
Mendekatkan wajahku pada wajahnya. Mendekapnya begitu erat untuk kunikmati
tubuhnya. Hanya 3 cm, ataumungkin hanya 1 cm saja jarak antara kami. Tak butuh
waktu lama aku dapat merasakan sesapan bibirnya.
I’ll smell your scent, enjoy your color
And eat you more elegantly than drinking wine
Basah. Itu yang
kurasakan. Entah rintikan hangat darimana. Namun kurasa bendungan airmatanya
telah tumpah menyelingi kecupan singkat ini. Kulepaskan bibiku dari tepi tipis
bibirnya.
“apa kau puas? Apa
ini yang aku harapkan?” gumamnya sinis masih mencoba menahan tangis. Aku hanya tersenyum licik dan hendak mendaratkan
lagi bibirku. Siap mencabaik bagian terlembut tubuhnya. Tak butuh waktu lama
aku telah siap menggigit lehernya.
Sehembus angin
kencanag bertiup di sekitarku. Lagi dan lagi tubuh ini serasa begitu panas
meskipun masih ada satu dua titik hujatan bening darilangit. Ruas tulangku
serasa membengkak membesar memaksa tubuhku untuk mengikuti alur pertumbuhannya.
Bulu-bulu kasar mulai tumbuh menutupi pori-pori kulitku. Kulihat bulatan
sempurna rembulan yang bertengger tepat dipuncak kepalaku. Dengan jelas kini kudengar
suara “awooooo....” lolongan bangsaku saling bersahutan memanggilku.
Kulonggarkan
cengkraman tanganku. Meninggalkan kesempatanku mencabik-cabik tubuhnya.
Meninggalkannya yang takpercaya melihatku telah berubah menjadi serigala.
End POV
>>>
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar