FF/TWISTER_TWINS/BOFI_JO
TWIN/ONESHOOT
TITTLE : TWISTER
TWINS
AUTHOR : BIM / @noninodi
CAST : - JO KWANGMIN
- JO YOUNGMIN
- KANG NAERI
- SUSTER MA
GENRE : ROMANCE,
BROTHERSHIP, FAMILY
LENGTH : ONESHOOT
>>>
Kwangmin
POV
Aku
terdiam tak bergerak. Seolah membatu dan tersihir ketika mata bulatku
harus menangkap kehadiran mereka berdua. Melihat kedekatan mereka
yang terselimuti atmosfir kecanggungan yang menyeruak diantara mereka
dibawah kerindangan pohon sakura sekolah. dan inilah hal yang sedari
dulu kutakutkan, gadis yang kucintai adalah gadis yang dicintai pula
oleh saudara kembarku. Ya, ketika sebuah fakta menunjukkan bahwa
Youngmin memang benar-benar menyukai Naeri.
“pada
awalnya aku pikir aku tak akan menyukaimu karna kecerobohanmu itu.
Tapi yang aku rasa justru sebaliknya, terus mengkhawatirkanmu
membuatku sangat menikmati semua itu. aku terus bertanya bagaiamana
bisa aku begitu menikmati kekhawatiran yang selalu terbesit di
otakku. Aku tau aku memang terlalu muda untuk mengatakan ini. Namun
ketika umma dan appa memutuskan bercerai 6 tahun lalu hingga hari ini
mereka kembali bersama lagi, aku menyadari sesuatu. Bahwa sedetikpun
aku memang tak bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Suatu hal sederhana
yang disebut dengan cinta. ” Ujar Youngmin memandang Naeri dalam
dan menggapai tangannya.
“a…
apa kau sedang mengungkapkan perasaanmu?” tanya Naeri polos mulai
mendongak menatapnya bingung. Youngmin tersenyum dan meneggelamkan
kepala Naeri dalam pelukannya, “ini lah jawabanku.” Ujarnya
singkat.
Aku
tersenyum getir melihat mereka yang secara bersamaan telah sukses
menyusutkan hatiku hingga melenyap tanpa bekas. Hancur. Mengapa aku
harus menjadi mahluk bodoh yang membiarkan hatiku menyusut dan
hilang? Mengapa aku tak pernah sanggup memalingkan matanya untuk
menatapku? Mengapa harus hari ini aku melihat kalian seperti itu?
Apakah begitu susah bagimu untuk memilihku?
Hancur.
Aku hancur harus melihat mereka menjadi satu hari ini. lenyap. Hatiku
telah melenyap tak terselamatkan ketika ada orang lain yang menjadi
sandaran tangisnya. Mengapa hanya dia yang kau lihat? Tak dapatkah
kau merasakan kehadiranku meski hanya sesaat? Mengapa harus dia yang
kau pilih? Tak bisakah kau memilih orang lain saja agar aku dapat
dengan mudah merebutmu darinya?
Aku
mencintainya. Sangat mencintainya. Seorang gadis yang membuatku tak
dapat berhenti untuk tidak melihatnya. Seorang gadis yang selalu di
sisiku bagaimanapun keadaanku. Seorang gadis yang membuatku terus
berkhayal untuk memilikinya meskipun aku sadar itu hanyalah khayalan
semu yang tak akan pernah menjadi nyata.
Youngmin-ah,
mengapa harus kau yang memilikinya? berhakkah aku untuk memakimu
karna telah memenangkan hatinya? Berwenangkah aku untuk memutuskan
tali persaudaraan ini hanya karnannya? Tak bolehkah aku merasakan
satu kebahagian setelah semua perhatian yang tak kudapatkan telah
habis kau serap?
Telah
berulang kali kukatakan, aku tak akan pernah marah jika aku harus
selalu tersingkir dan menjadi yang ke dua di mata semua orang yang
melihatku dengannya. Tak akan lagi kusalahkan umma dan appa yang
terus mengabaikanku karnanya. Tapi kumohon jangan kau pergi juga
melupakanku karna kehadirannya.
>>>
Oh
Tuhan keadilan macam apa lagi ini. sungguh aku tak sanggup bila harus
hidup dengan keadilan yang serasa tak ada adilnya lagi bagiku. Cukup
aku yang selalu tersingkir dan aku masih dapat menerima itu. tapi
kali ini aku tak yakin masih sanggup hidup tanpa hatiku yang telah
melenyap tersusut. Maka, kumohon yakinkanlah aku untuk tetap berdiri
melihat orang yang kucintai kan terbang bebas bersama dengan orang
yang paling kukasihi pula. Yakinkanlah diriku bahwa melihat
kebahagian mereka adalah bagian dari kepingan kebahagianku yang telah
lenyap tersusut entah kemana.
Kupandang
nanar salip itu dengan sekuat tenaga menahan air mataku agar tak akan
tumpah karna keserakahanku yang benci melihat mereka berdua. Cukup
hanya memandangnya dengan harapan seseorang yang tergantung di sana
akan menatapku sendu. Melepaskan tancapan pakunya dan mengusap penuh
kasih kepalaku. Menciptakan sedikit keajaiban yang membuka keadilan
untukku. Namun sayang patung itu tak bergerak sedikitpun walau hanya
melirik kecil ke arahku.
“salib
itu takkan pernah bergerak sedikitpun. Kau tak perlu terus
melihatnya. Masuklah kedalam! Tuhan menantimu untuk datang berkunjung
ke rumahnya.” Tegur seorang biarawati berdiri tegak mengusap
sikunya di sampingku. Aku menoleh memperhatikannya sejenak yang kini
tersenyum ramah melihatku.
Aku
berbalik tak membalas ucapannya ataupun mengikuti nasehatnya untuk
masuk ke dalam gereja, tak hanya berdiri terpaku memandang patung
mati itu.
“suster…!”
seruku menghentikan langkahku, aku kembali berbalik menatapnya lagi,
“apa kau percaya dengan keadilan Tuhan?” tanyaku hati-hati.
Sebuah pertanyaan bodoh yang tak semestinya aku tanyakan pada orang
suci yang mengabdikan hidupnya untuk menjadi kekasih Tuhan.
“tentu
saja. Tak ada yang harus diragukan dari kuasa dan keadilan Tuhan.”
Jawabnya ramah dengan sunggingan senyumnya.
“jongmalhaeyo?
Apa kau yakin telah menerima keadilan-Nya dengan apa yang kau lakukan
sekarang?” pancingku.
“mwo?”
“bukankah
kau masih muda? Berwajah cantik dan nampaknya kau berintelektual
tinggi. Untuk apa mendedikasikan hidupmu untuk jalan seperti ini?
bukankah kau akan jauh lebih bahagia dengan dampingan seseorang yang
kau cintai dalam sebuah ikatan suci?”
Suster
itu terdiam sejenak. Mungkin ia sedikit tersentak mendengar
pertanyaanku yang terkesan tak percaya akan keadilan Tuhan. Dia lalu
tersenyum simpul di sudut bibirnya dan dengan tenang ia menjawabku,
“alasanku sama dengan apa yang telah kau lakukan.”
“mwo?”
“hanya
seorang pembangkang saja yang tak percaya akan kuasa Tuhan yang
menanyakan hal ini. dan bagiku kau bukanlah hamba Tuhan yang
pembangkang.”
“bagaimana
kau yakin akan hal itu?”
“bagaimana
mungkin seorang pembangkang selalu datang ke gereja hanya untuk
melihat salib dengan tatapan nanar penuh harapan? Dan bukankah kau
sudah melakukannya hampir 1 bulan ini?” Cetusnya membekukanku.
“kau
salah!” elakku.
“kurasa
tidak.” Balasnya tersenyum, “cukup dengan melihat tatapan matamu,
aku dapat merasakan sebuah ketidakpuasaan dari apa yang telah
dikendaki Tuhan. Sesuatu yang tak kau ketahui yang hidup dalam
hatimu. Seseorang sepertimu pastilah memiliki hati lembut yang rentan
untuk tersakiti. Selalu membohongi diri sendiri bukanlah jalan yang
tepat untuk menutupi luka perih dalam hati.”
“keadilan
bagimu belum tentu menjadi keadilan bagi orang lain pula. ketika kau
merasa adil bukankah hal yang tak semestinya adil menjadi hal yang
adil bagimu? Dan ketika kau tak merasakan keadilannya maka hal yang
adilpun tak dapat sepenuhnya kau lihat? apapun itu bentuk
ketidakadilan yang kau rasakan hari ini, semata-mata karna tindakan
yang kau pilih. Bukankah apapun yang kau lakukan dalam detik hembusan
nafasmu adalah pilihanmu? Pilihanmulah yang membuatmu harus merasakan
semua itu.” Jelasnya memandang lurus salib.
“Percayalah
apa yang telah kau lakukan adalah pilihan terbaik untuk orang yang
kau kasihi. Dan setelah itu perlahan sakit yang terukir dalam hatimu
akan memudar dengan sendirinya. Jangan pernah salahkan Tuhan yang kau
anggap tak pernah memberikan satu keadilan bagimu. Karna sesungguhnya
keadilan Tuhan adalah hal yang nyata.” imbuhnya lagi tersenyum
ramah lalu meninggalkanku yang masih mematung karna penjelasannya.
>>>
“keadilan
bagimu belum tentu menjadi keadilan bagi orang lain pula. ketika kau
merasa adil bukankah hal yang tak semestinya adil menjadi hal yang
adil bagimu? Dan ketika kau tak merasakan keadilannya maka hal yang
adilpun tak dapat sepenuhnya kau lihat?” dengungan suara lembut
suster itu masih saja menggerayangi otakku mematut dalam tiap sel
neuritku. Selalu terbesit dan membayangiku.
Apa
yang terjadi hari itu adalah apa yang telah aku pilih dan telah Tuhan
gariskan. Bukankah jika aku lebih berani dan kuat melawan perasaaanku
sendiri tak akan ada kisah pahit ini. seandainya aku berani untuk
mengungkapkan perasaanku padanya, mungkin justru tak akan ada
kebahagian terakhir baginya.
Aku
terdiam, terus memperhatikan kalung tali yang membelit tanganku.
Kalung tali yang selalu kukenaka selepas ‘dia’ telah
menjadi kekasih orang lain. Kalung tali yang seharusnya kukembalikan
lagi padanya jika suatu hari nanti aku bebas memanggilnya ‘chagiya’.
Namun hal itu tak akan mungkin terjadi karna telah ada orang lain
yang telah mengisi ruang hatinya.
“kreeekk…!” pintu kamarku terbuka perlahan. Kudapati sosok
tampan berambut hitam berponi, berwajah serupa denganku. Dia
tersenyum ramah menatapku.
“bolehkah
aku tidur bersamamu Kwang?” tanyanya membuatku sedikit mendongak
memperhatikannya. Aku hanya bergumam pelan, menggeser posisiku dan
memberi ruang baginya.
Kami
terdiam cukup lama dalam kegelapan malam yang hanya diterangi oleh
lampu kecil di sudut ruangan. Terus terdiam tanpa ada yang memulai
pembicaraan. Tak pula memejamkan mata untuk mengakhiri hari dan
bergelut dalam indahnya dunia mimpi.
“Kwang-ah!”
panggilnya. Aku hanya berdehem menjawabi seruannya.
“berjanjilah
padaku kau akan hidup bahagia.” Ujarnya membuatku lagi-lagi
berpaling menatapnya, “mwo?”
“Aku
tau sedingin apapun ucapanmu itu kau begitu menyayangiku. Tak perduli
sekasar apa kau itu, kau adalah seseorang yang lemah dan berhati
lembut. Aku hanya tak ingin membuatmu menjadi orang yang semakin
lemah karna kehilangan sesuatu yang telah digariskan Tuhan dalam
takdir ini. aku harap cukup di sini hubungan persaudaraan kita.
Jangan lagi mengalah padaku. apalagi membiarkan dirimu menderita
karna aku.” ujarnya bergetar terus memandang lurus pada garis-garis
ikal awan atap kamarku.
“jadi,
hiduplah bahagia seperti apa yang kau mau.” Imbuhnya lagi menatapku
dalam dan tetap tersenyum.
“ya,
apa-apaan kau ini. jangan bicara seolah-olah kau akan mati besok.
Percayalah kau akan hidup lama selama ratusan tahun. Bukankah kita
hidup dalam satu nafas kehidupan yang tak terpisahkan? Berhentilah
mengatakan kalimat-kalaimat keramat itu. kau dan aku akan hidup
bersama selamanya, hidup berdampingan dalam damai hingga usia tua.
Ingat itu.” ujarku kembali memandang lurus ternit bergambar awan
diatasku.
“ya,
kau benar! Setidaknya kita memang hidup dalam satu nafas kehidupan.
Dan jika suatu hari nanti aku pergi, aku akan hidup selamanya dalam
hatimu. Mengiringi tiap jalan sesatmu untuk kembali kepada jalan yang
benar milik Tuhan. Ya, itu terdengar menyenangkan!” jawabnya
tersenyum mengikuti pergerakanku.
Aku
memandangnya sekilas. Kurebahkan tubuhku menghadapi wujud kurusnya,
“baiklah, aku hanya akan hidup bahagia berdampingan denganmu. maka
berjanjilah padaku kau tak akan pergi mendahuluiku.”
Dia
tersenyum kecil dan berbaring menghadapku pula, “aku akan berusaha
menepatinya.”
“aigo…
tanyata hanya berbicara singkat denganmu cukup melelahkan. Aku ingin
tidur Kwang.” Ujar Youngmin singkat membelakangiku.
Kutatap
punggungnya nanar yang kini meringkuh membelakangiku. Hari ini aku
merasakan sesuatu yang akan membuatku benar-benar kehilangan hatiku.
Semua ucapan keramatnya membuatku takut akan kehilangannya.
Kehilangan sesuatu yang sudah digariskan Tuhan. Yaitu kematian.
>>>
Kuparkirkan
sepedaku tepat di bawah kerindangan satu-satunya pohon sakura yang
tumbuh tegap di lahan parkiran sekolah. Hari ini serasa kembali
kemasa itu. masa sepi dimana hanya ada aku yang selalu saja mengayuh
sepeda sendiri ke sekolah tanpa Youngmin bersamaku. Ya, karna hari
ini ia harus meringkuh, menunggu waktunya tiba untuk segera masuk
keruang bedah dan mengganti kerusakan hatinya.
Sirosis.
Sebuah penyakit yang telah tumbuh berdampingan dalam tubuhnya.
Bagaikan parasite yang dapat membunuhnya sewaktu-waktu jika ia tak
segera melenyapkannya. Sebuah parasite yang merenggut sebagian besar
kebahagiannya. Yang perlahan mengiskis senyuman manis bibirnya. Yang
juga membuatku terganggu, dipenuhi dengan rasa was-was jika suatu
hari nanti ia pergi karna penyakitnya itu.
“Kwang-ah…!”
seru seseorang membuyarkan lamunan pagiku. Aku berbalik. Kudapati
Youngmin berjalan cepat menghampiriku.
“ya,
apa yang kau lakukan di sini? Bukankah hari ini kau harus ke rumah
sakit?” ingatkanku. Dia mendekatiku dan mengeluarkan sesuatu dari
kantong jaketnya. Disodorkannya kotak kecil manis itu tepat di
hadapanku.
Aku
menatap heran kotak biru itu, “apa ini?”
“sonmul.
Saengil chukkaeyo Kwang-ah…!” seru Youngmin tersenyum cerah dalam
wajah pucatnya. Aku memandangnya dalam. Tak pernah terbesit dalam
otakku dia akan datang di hari pentingnya hanya untuk mengucapkan
selamat ulang tahun dan memberiku hadiah. Aku bahkan lupa jika hari
dimana ia akan menjalani operasi bertepatan dengan hari ulang
tahunnya.
“ne,
nado chukkayeo!” balasku singkat menggapai kotak biru dalam
genggamannya.
Kubuka
kotak kecil berpita emas itu. sebuah papan nama yang biasa ia
kenakan. Papan nama yang selalu terpajang rapi menempeli jas
almamaternya. Papan nama mika yang dengan jelas terukir nama Jo
Youngmin di sana.
“apa
ini?” tanyaku heran mengusap perlahan papan nama itu. Youngmin
meraih papan namanya dan mengganti papan namaku dengan hadiah yang ia
berikan padaku.
“Kwang-ah!”
serunya. Aku mendongak memperhatikannya yang tersenyum manis dengan
pancaran aura yang berbeda pada pucat pasi wajah tampannya. Dia
mendekatiku dan menghancurkan jambul berhargaku.
“ya,
apa yang kau lakukan!” kusingkirkan tangannya yang masih sibuk
mengacak-acak rambutku.
“diamlah!”
titahnya yang hanya bisa aku turuti. Dia masih sibuk menurunkan
jambulku dan membuat poni yang menutupi sebagian dahiku, serupa
dengan poni yang selalu bertengger di kepalanya.
“hari
ini, jadilah Jo Youngmin dan berkencanlah dengan Naeri.”
“mwo?”
mataku membulat kaget mendengar ide gila yang ia katakan barusan.
“aku
sudah berjanji pada Naeri untuk berkencan dengannya hari ini. aku tak
ingin mengecewakannya, tapi karna operasi hari ini aku jelas tak
dapat pergi kemanapun bersamanya. Jadi kumohon jadilah Jo Youngmin
pada hari ini dan seterusnya jika aku tak dapat bertahan pada operasi
hari ini.” jelasnya membuat jambul kecil pada poni rapihnya.
“shireo!”
tolakku spontan, “Aku tak ingin ikut campur dalam hubungan kalian.
Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia adalah yeojachingumu. Dia
berhak mengetahui keadaanmu yang sesungguhnya. Jika ia tulus
mencintaimu ia akan tetap di sisimu tak perduli bagaimanapun
keadaanmu.”
“bukan
itu yang aku takutkan. Aku hanya tak ingin melukainya dengan cara
seperti ini. Aku tak ingin dia terus terlarut dalam kesedihan
melihatku harus berhenti melanjutkan perjalanan kehidupan ini dan
kembali ke sisi Tuhan. aku tak akan memaafkan diriku jika sepanjang
hidupnya ia terus menangis dan menutup dirinya. Lebih baik dia
terluka dan membenciku. Karna kebencian itulah yang akan membuatnya
lebih cepat menghapusku dalam hidupnya.” Jelasnya menatapku dalam.
Kilatan matanya seolah memaksaku untuk memenuhi keinginannya.
“shireo!
aku tak akan bisa melakukannya. Kau sendiri yang memintaku untuk
berhenti mengalah untukmu.” Tolakku berbalik tak memperhatikannya,
“jangan paksa diriku melakukannya.” Imbuhku.
Bagaimana
aku bisa bertahan di sisinya walaupun hanya sehari. Melihat senyumnya
sepanjang hari hanya karna ia berfikir aku orang lain. Hatiku tak
akan bisa bertahan merasakan kebohongan yang akan aku ciptakan. Dan
apa mungkin aku sanggup menjadi Jo Youngmin yang sempurna jika ia
benar-benar tiada. Menggantinya dan melukai gadis yang aku
cintaipula.
“jebal.
Kumohon kabulkan pemintaanku. Ini mungkin akan menjadi permintaan
terakhirku Kwang. Jebal!”
“shireo.”
Tegasku kembali berbalik memperhatikan tatapan sendu penuh
permintaannya, “sudah berapa kali aku katakan jangan pernah
mengatkan kalimat-kalimat keramat itu. percayalah kau akan bertahan
di sana. kau akan tetap hidup. Dan aku tak perlu menjadi Jo Youngmin
seperti apa yang kau minta dan aku tak perlu menyakiti Naeri ataupun
aku harus …”
“tak
ada yang tahu sepanjang apakah umur seseorang. Aku pasti akan sangat
bersyukur bila aku dapat hidup lama bersamamu. Dan aku juga tak akan
menyesesali kehidupan yang telah Tuhan ciptakan meski aku harus hidup
singkat bersamamu. Jadi kumohon kabulkanlah permintaanku ini.”
pintanya lagi terus meyakinkanku.
“Naeri-ah…!”
seru Youngmin memanggil gadis manis yang baru saja tiba, memasuki
arena parker luas ini. kubuang wajahku tak menatap mereka. aku hanya
tak ingin memulai kebohongan meskipun ini adalah apa yang Youngmin
inginkan.
“kumohon,
buatlah dia bahagia hanya untuk hari ini saja bersamamu.” Bisik
Youngmin perlahan.
“saengil
chukkayeo!” ujar Naeri ketika tepat berada dihadapan kami berdua.
“Kwangmin-ah!”
serunya membuatku secara spontan berbalik menatapnya. “apa yang kau
lakukan dengan baju seperti ini. apa kau akan membolos lagi, eoh?”
tanyanya memperhatikan wajah Youngmin.
“aigo…
ada apa dengan wajahmu? apa kau baik-baik saja? Apa yang telah kau
makan hari ini hingga membuatmu sepucat ini? apa kau tidak tidur
nyenyak semalam? Atau karna kau terlalu lelah mengayuh sepeda hingga
seperti ini?” tanyanya lagi. Dia kian mendekat dan mendaratkan
punggung tangannya pada dahi Youngmin yang ia kira adalah aku.
Mataku
tak henti perpendar menatapnya. Serasa ada sesuatu yang membuatnya
tak seperti biasanya. Sikap perhatiannya yang tak pernah kujumpai
sebelumnya. Apakah benar yang kulihat hari ini adalah dia? Siapakah
yang sesungguhnya ia lihat saat ini? mungkinkah ia memang akan
mengkhawatirkanku bila aku sepucat Youngmin saat ini? ataukah ini
hanya sebuah intuisi seorang gadis yang tak dapat dibohongi
bagaimanapun juga?
“aniyo.
Nan gwanchana. Kau hanya berlebihan.” Balas Youngmin menghindari
tangan Naeri yang hampir menyentuh dahinya, “Young-ah, aku pergi
dulu.” Pamit Youngmin meninggalkan Naeri dan aku yang masih saja
berfikir apa yang akan aku lakukan hari ini untuk menjadi Jo Youngmin
seperti apa yang ia inginkan.
Aku
masih saja terdiam dan beranjak meninggalkannya. Namun tangan
kecilnya lebih cepat menangkap pergelangan tanganku, “non
gwanchanayo?” tanyanya memotong pandanganku dan berganti
memeriksaku. Aku hanya membuang wajahku untuk menghindari kontak mata
beningnya.
“apa
kau marah karna aku memperhatikan Kwangmin, eoh?” tanyanya
hati-hati menyimpulkan. Aku menatapnya heran. Sungguh hari ini aku
serasa benar-benar tak mengenalnya. Maksudku, apa dia benar-benar tak
sadar bahwa namja yang berdiri di hadapannya ini adalah aku. Jo
Kwangmin. Seseorang yang jelas-jelas bukanlah namjachingunya.
Aku
masih saja terdiam bergelut dengan pemikiranku. Berharap akan datang
sebuah ilham yang dapat membantuku untuk menjawab segala
pertanyaannya hari ini. aku berbalik menuju sepeda biru yang tak
beberapa lama lalu aku rebahkan di sekitar pohon sakura gagah di
sampingku.
“naiklah!”
ujarku mengisyaratkannya untuk beranjak menaiki sepedaku.
“mwo?”
“bukankah
hari ini kita akan berkencan?” jelasku lagi menarik tangannya untuk
segera duduk manis di hadapanku yang siap untuk membawanya pergi.
>>>
Aku
terus menatapnya yang tak henti berbicara. mengatakan ini itu. segala
hal yang telah kuketahui sebelumnya. Segala hal yang terjadi antara
aku dan dirinya semenjak kepergian Youngmin ke Jerman akibat dari
putusnya hubungan umma dan appa.
Sebuah
lecutan kembang api menyeruak kecil dalam hatiku. Hati yang dulu
hilang melenyap entah kemana kini serasa kembali lagi. Seolah hujan
deras telah membasahi kegersangan hatiku dan menumbuhkan kembali
kikisan benih hati yang masih tersisih. Bahkan lecutan kembang api
itu bagaikan ledakan atom hirosima dan nagasaki dalam hatiku ketika
dengan mudahnya kepala kecilnya itu bersandar di bahuku.
“Youngmin-ah!”
serunya memanggilku dengan sebutan Youngmin. Segera kububarkan
lamunanku dan memandang lurus riak sungai han di tengah malam
bercahayakan kerlap-kerlip lampu malam di sepanjang sisir sungai han
itu.
“hemm”
balasku berdehem,
“kurasa
hari ini adalah kencan terbaikku semenjak kau menjadi namjachinguku.”
“benarkah?”
“ne…!
entahlah mungkin karna hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunmu.
atau mungkin ini hanya perasaanku saja yang merasa kau begitu berbeda
dengan sebelumnya. Aku merasa menemukan sesuatu yang telah hilang
darimu. Dan taukah kau hari ini kau terus mengingatkanku pada
Kwangmin.” Jelasnya menyandarkan tangannya di punggung kursi taman
dan menatapku penuh perhatian.
“bukankah
setiap hari aku memang seperti ini?” elakku mengalibi.
“ani.
Ini jelas berbeda. berkencan dengan sepeda Kwangmin seperti hari ini
mengingatkanku ketika kau mengantarkanku pulang waktu itu. lucu
sekali tiap mengingat itu.” kekehnya membayangkan sesuatu yang tak
dapat kubayangkan pula.
“waktu
itu? kapan aku mengantarkanmu pulang?” tanyaku innocent
“apa
kau lupa?” tanyanya heran menuntutku untuk mengingat masa yang tak
aku jalani. Memaksaku untuk mengingat memori seseorang yang
jelas-jelas tak ada diriku pada hari itu, “sudahlah lupakan saja.”
Ujarnya kemudian. Dia kembali keposisinya semula. Duduk manis
memandang ketenangan sungai han dengan wajah kusut 8 lipatan.
“emm,
Naeri-ah!” panggilku. Dia hanya berdehem menjawab panggilanku.
Tangannya tak henti bergerak diatas lututnya. Hal yang biasa ia
lakukan bila kemarahan tengah bertengger di kepalanya.
“Naeri-ah,
sejak kapan kau menyukaiku?” tanyaku membuka topic baru setelah
sukses mengahancurkan topic yang ia buat.
“sejak
hari itu. hari yang tak pernah kau ingat.” Jawabnya ketus tak
menggubrisku.
Kubuang
nafasku perlahan, “apa aku menyebalkan?” tanyaku frustasi
melihatnya marah karna sebuah hari yang benar-benar tak dapat aku
ingat. Sepertinya aku mengerti mengapa Naeri lebih menyukai Youngmin
daripada diriku. Ya, itu pasti karna Youngmin lebih pintar dariku.
Setidaknya dia dapat mengingat dengan benar kenangan apa saja yang
pernah mereka lalui.
“ani.
Aku hanya tak habis pikir. Apa kenangan masa kecil kita tidak
berharga? Mengapa kau tak pernah bisa mengingat hari itu?”
protesnya. Kurasa opiniku beberapa detik lalu salah. Sekarang yang
memenuhi otakku adalah kenangan macam apakah itu hingga Youngminpun
tak dapat mengingat hari yang mungkin berharga untuk dilupakan bagi
Naeri.
“sepertinya
memang aku yang terlalu menyukaimu daripada kau yang menyukaiku.”
Imbuhnya bangkit meninggalkanku. Membuat otak standardku bekerja
cepat menangkap reaksinya yang sepertinya tak senang karna aku memang
tak dapat menangkap maksud memorinya.
Kukayuh
sepedaku mengejarnya. Menghentikan langkahnya dan memintanya untuk
segera naik, “mianhae!” pintaku.
Dia
memandangku sejenak lalu melanjutkan langkahnya, “hari itu adalah
hari pertamaku masuk sekolah kembali setelah sembuh dari cacar dengan
bekas bintik-bintik yang memenuhi kulitku. Ya hari yang sama dengan
pertama kali aku mengenalmu dan Kwangmin. Ketika semua orang
menjauhiku karna cacar itu, hanya kau yang tak risih untuk
mendekatiku. Bahkan kau tak segan-segan untuk mengantarkanku pulang.
sejak itulah aku menyukaimu.” Jelasnya terus berjalan.
Aku
terdiam di tempat. seketika bayangan hitam putih seolah berpendar di
hadapanku. Dengan jelas aku dapat membayangkan bagaimana wajah manis
Naeri kecil yang di penuhi dengan spot cacar dan bocah kecil bermata
bulat yang begitu ia sukai.
“Naeri-ah…!”
panggilku lagi. Dia berhenti dan berbalik menatapku.
“mwo?
Apa kau ingat sekarang?” aku menggeleng, “ada sesuatu yang ingin
kutunjukkan padamu. Naiklah, kau harus tahu itu.” titahku menyeret
tangannya untuk menurutiku menaiki sepeda biru kesayanganku ini.
>>>
Naeri
terduduk lemas memeluk lututnya di depan sebuah ruangan serba putih
dengan sebuah kaca bening menyekat kami dengannya. Wajahnya seketika
memucat melihat tubuh kurus berselang infus dan segala perangkat
penyambung nyawa tertancap pada tubuh ringkuh kekasihnya yang
berjuang hidup di dalam sana. orang-orang berbaju hijau itu
berkali-kali menyengatkan listrik bertekanan tinggi untuk memacu daya
jantungnya.
Umma menghampiri satu dari orang berseragam hijau itu yang keluar
dengan kucuran keringat di dahinya. Ia melepaskan kacamatanya dan
mengusap cairan bening dari matanya. Ia menatap umma dalam penuh
penyesalan. Sebuah ekspresi yang cukup menjelaskan apa yang telah
terjadi di dalam sana. sebuah ekspresi yang kurasa akan menghancurkan
kami semua yang menunggu kepastian hidup Youngmin di tangan mereka.
“bagaimana
keadaannya. Apa dia baik-baik saja? Katakan padaku jika ia akan
tersenyum kembali. Katakan dia dapat berlarian kembali seperti
Kwangmin. Katakan dia akan baik-baik saja.” Pinta umma meremas
kerah baju dokter itu.
“mianhamnida.
Kami tak dapat melawan takdir Tuhan hari ini.” Jawab dokter itu
menunduk pasrah.
“Youngmin-ah…”
tangis umma terpecah berhamburan memasuki ruang operasi dan memeluk
Youngmin yang telah terbujur kaku tanpa detakan jantungnya lagi.
Terbaring lemah tanpa ada hembusan nafasnya lagi.
Appa
mendekat. Mencoba meraih bahu umma dan menenangkannya dalam
pelukannya. Aku hanya dapat mematung melihat Youngmin yang telah
pergi mendahuluiku. Pergi begitu saja dan melanggar janjinya.
Jo
Youngmin, buka matamu. Katakan kau baik-baik saja. Ingat hari ini
hari ulang tahun kita. Lihatlah umma yang begitu terluka
kehilanagnmu. Kehilangan anaknya yang telah hidup lama bersamanya.
Kehilangan seorang anak yang telah ia perjuangkan 18 tahun lalu di
meja operasi untuk melahirkanmu. Teganya kau meninggalkannya dengan
cara seperti ini. teganya kau membiarkan airmatanya habis untuk
menangisimu. Ya Jo Youngmin, bukalah matamu dan minta maaflah pada
umma karna kedurhakaanmu yang meninggalakn kami semua.
Ya,
Jo Youngmin. Apa yang kau lakukan? Bangunlah sekarang dan lihat siapa
saja yang menangisimu hari ini. ya, babo namja. Ayolah Youngmin,
bangun dan pukullah aku karna aku membawanya kemari. Bangunlah dan
usap airmatanya. Usaplah selagi aku masih merelakanmu bersamanya. Ku
mohon bangunlah! Jangan tinggalkan kami dengan cara seperti ini.
>>>
Aku
berlari sekuat tenaga menuju bangunan tua tempatku berkeluh kesah.
Terus berlari meninggalkan panggilan orang-orang yang memintaku untuk
kembali. Terus berlari menghindari pemandangan pilu yang mengiris ulu
hatiku. Hanya salib raksasa yang terpajang di sana yang membuatku mau
untuk berhenti berlari.
Aku
bersimpuh menagis dalam duka. Aku bersimpuh meminta-Nya mengembalikan
Youngmin padaku. berharap patung itu bangun dan tersentuh. Sudi untuk
membelai penuh kasih puncak kepalaku. Tak risih untuk menenangkanku
dalam sendu tangisku.
Sentuhan
kecil mendarat di bahuku. Seseorang dengan tenang meremat halus
bahuku mencobat untuk menenangkanku. Aku menoleh melihatnya. Seorang
wanita ayu yang menatapku khawatir ingin tahu.
“suster
tolong aku…! Aku ingin ia kembali. Kumohon bantulah aku meminta
pada-Nya mengembalikan Youngminku!” pintaku bersujud padanya
meremat jemarinya. Wanita itu menunduk menyamakan posisinya denganku.
“apa
yang dapat dilakukan seorang biarawati sepertiku ”
“bantulah
aku meminta Youngmin kembali. Sudah ribuan kali aku meminta namun
hingga jasadnya terkubur dalam tanah tak ada tanda-tanda dia akan
kembali. Mungkin Tuhan tak mau mendengar doa seorang pendosa. Jadi
kumohon bujuklah Dia. Tolong katakan aku ingin Youngmin kembali.
kumohon, ini adalah permintaan terakhirku. Aku tak akan lagi datang
hanya untuk melihat-Nya dari luar. Aku tak akan lagi meragukan
Kekuasaan dan Keadilan-Nya. Jika Tuhan meminta imbalan, katakan
padanya aku siap memberikan apapun yang Dia minta. Katakan aku rela
jika harus menukarkan nyawaku dengannya …” ujarku tercekat
melemas dalam tangannya.
Suster
itu memandangku risau dan menarik nafas dalam. “kematian adalah
takdir Tuhan yang nyata. Tak ada seorangpun di dunia ini yang dapat
dengan mudah mempermainkan kematian hanya dengan sebuah doa.”
“tapi
aku…”
“setiap
manusia di dunia ini lahir, hidup dan bertahan di dunia pasti akan
berakhir dengan kematian. Tak ada seorang pun yang dapat kekal
berjuang untuk hidup di dunia ini. tak ada. Kitapun tak tau kisah apa
yang tersembunyi dari kematian seseorang di dunia ini. ingatlah, apa
yang terjadi hari ini adalah hal terbaik dari rencana Tuhan.” Jelas
suster itu terus menenangkanku.
“tapi
mengapa bukan aku saja yang pergi terlebih dahulu. Toh tak akan lebih
banyak air mata berjatuhan hari ini.”
“jika
kau pergi terlebih dahulu, mungkin Youngminlah yang menangis di
hadapan Tuhan saat ini dan meminta hal yang serupa. Taukah kau bahwa
hidup untuk orang yang telah meninggal jauh lebih baik daripada
meninggal untuk orang yang masih hidup?”
“mwo?”
“ada
banyak hal yang dapat kita syukuri dalam dunia ini. salah satunya
memiliki cinta dan masih diberi kesempatan untuk hidup dan mencintai
mereka yang telah tiada. Anugrah terbaik yang Tuhan berikan adalah
anugrah kehidupan yang dapat dengan nikmat kita rasakan. Tak ada satu
orangpun di dunia ini yang meminta kematian menghampirinya.
Terkecuali bagi mereka yang memang tak dapat mensyukuri kenikmatan
hidup. Meninggal bukanlah pilihan mereka. melainkan suatu keikhlasan
untuk kembali kepada-Nya. Maka hiduplah sebaik mungkin seperti
harapan terakhir mereka bagi kita. Hiduplah sebaik mungkin demi
orang-orang terkasih kita yang telah pergi untuk melanjutkan
perjalanan hidup kekal di dunia ke dua.”
Aku
menatapnya sendu berharap apa yang dikatakannya adalah kekuatan baru
yang akan membuatku lebih baik. Ya, Youngmin memang telah melanggar
janjinya, setidaknya aku memang harus menepati janjiku padanya.
Sebuah perjanjian yang memintaku untuk hidup bahagia bagaimanapun
caranya.
>>>
100
hari pasca masa berkabung. Aku berdiri sendiri menatap nisan di
hadapanku. Menatap marmer hitam berukirkan nama seseorang yang amat
kurindu. Seseorang yang selalu kunanti hadir dalam tiap mimpiku.
Seseorang yang kuharap selalu bersamaku dalam tawa dan duka. Huhft,
sayangnya kini aku harus berjalan sendiri. menapaki lika-liku
perjalanan hidup ini. hanya dapat sesekali menyapanya ketika rindu
begitu menggebu-gebu akan kehadirannya.
Aku
berbalik menggapai sepedaku yang tergeletak tak jauh dari tempatku
berdiri setelah puas bertegur sapa dengannya. Kulihat seorang gadis
berdiri tegap di samping sepedaku. Menatapku sendu diiringi dengan
hembusan lembut sepoi-sepoi angin musim panas. Dia tersenyum
melihatku.
“apa
kau merindukannya?” tanyanya ketika aku melewati tubuh kurusnya.
“tak
hanya rindu. Aku sangat merindukannya.” Jawabku seadanya.
“Kwangmin-ah!”
tegurnya lagi menghentikan langkahku.
“tak
bisakah kita seperti dulu?” imbuhnya lagi memotong jalanku. Kini ia
tepat berada di hadapanku.
“mwo?”
“tak
bisakah kau menjadi Kwangmin yang selalu bersamaku? Aku merindukanmu.
Merindukan Kwangmin yang dulu, sebelum ada Youngmin dalam hidupku.”
Akunya menunduk tak menatapku.
Aku
menatapnya dalam yang terus tertunduk menahan tangisnya. Dapat aku
rasakan kepingan kehilangan dalam ucapannya. Kehilangan seseorang
yang terus membayanginya selama ini. seseorang yang tak ia akui
kehadirannya. seseorang yang tak pernah sepenuhnya ia lihat.
Aku
mendekat, “Naeri-ah!” seruku mendongakkannya, “minta maaflah
pada Youngmin yang kau anggap tak pernah bisa mengingat kenangan
berhargamu.”
“mwo?”
aku menghela nafas pelan, kuletakkan kalung tali yang selama ini
membelit tanganku dan mengikatkannya pada tangan kurusnya.
“9
tahun lalu, untuk pertama kalinya aku merasa kasihan pada seorang
gadis yang terkucilakan karna sebuah sakit biasa yang dianggap
menjijikkan. Untuk pertama kalinyalah aku menegurmu. Dan dengan ragu
aku menawarimu untuk pulang bersama. Taukah kau, ketika untuk pertama
kalinya kau memegang pundakku, aku merasakan sesuatu yang tak pernah
dengan fasih dapat kujelaskan lewat tutur kata. Untuk pertama kalinya
ada guncangan hebat di dadaku ketika aku bersamamu. Dan dari itulah
kebohongan kecil kuciptakan. Karna aku takut kita tak dapat berteman,
dan nama youngminlah yang terbesit di otakku ketika ibumu bertanya
siapakah aku. Dan ini, kalung talimu yang terjatuh di sepedaku waktu
itu.” jelasku mengenang kisah 8 tahun lalu.
“seseorang
pernah mengatakan bahwa aku harus hidup bahagia dan berhenti untuk
terus mengalah padanya. Karna itu kurasa aku harus mengatakan ini
padamu. Tak perduli siapakah yang sebenarnya kau sukai, dan jauh
sebelum Youngmin datang dan mengatakan hal yang sama, Kang Naeri, aku
menyukaimu.”
Naeri
tertegun diam menatap kalung tali dalam genggamannya. Otaknya
mencerna kata demi kata yang kuucapkan padanya. Kata-kata pengakuan
yang seharusnya aku katakan sedari dulu. Aku hanya tersenyum kecut
melihat ekspresi keterkejutannya. Sebuah ekspresi yang sudah kutebak
sebelumnya bahwa ia tak akan membalas perasaanku. Tak akan pernah.
Kutuntun
sepedaku menjauhinya. Namun belum sempat aku melangkah, seseorang
meremat ujung blazer almamaterku. Yang dengan spontan menghentikan
langkahku.
“ingatkah
kau ketika aku mengatakan bahwa hari itu adalah kencan terbaikku? Dan
ingatkah kau bahwa hari itu aku selalu teringat dirimu? Kwangmin-ah,
mungkin kau akan berfikir aku bukan gadis yang baik karna dapat
dengan mudah melupakan kekasihnya. Ya, itu memang benar karna pada
kenyataannya Youngmin yang selama ini aku lihat adalah dirimu.
Youngmin yang kuanggap seseorang yang berhati baik menolongku. Hatiku
selalu memintaku untuk mengakui bahwa bayang-bayang Kwangminlah yang
aku lihat. Karna satu hal kecil yang susah kujelaskan dan kini
kumengerti. Ya, karna yang sebenarnya kusukai adalah Jo Kwangmin.
Bukan Jo Youngmin.” Ujarnya membuatku berbalik melihatnya yang
tengah menatapku dalam penuh harapan.
Dia
mendekat dan perlahan memelukku. Kurasakan buliran-buliran bening
jatuh merembes membasahi kemejaku. Dia terisak dalam pelukanku.
Sebuah
bayangan putih transparan dengan wujud seseorang berwajah sama
denganku tengah tersenyum bahagia di hadapanku. Kutangkap pergerakan
kecil bibirnya yang seolah mengatakan, “mian, aku tau kau
mencintainya, namun justru merebutnya darimu. Hidup bahagialah
bersamanya. Dia juga mencintaimu, begitu dalam melebihi kasihmu
padanya.” Aku tersenyum membalasnya. Perlahan bayangan itu memudar
dan menghilang diantara jutaan bayangan yang membias di hadapanku.
“nan
saranghaeyo!” bisikku perlahan membalas pelukannya. Terima kasih
Youngmin.
-----------END----------