FF/MY HATENESS ISN’T
YOU/EXO/ANGST/ONESHOOT
TITTLE : MY HATENESS
ISN’T YOU
AUTHOR : DINA
CHAGIEYOOGIE SHINEE
CAST : -KIM JUNMYUNG
(SUHO)
- KIM YUNHEE
(T.B.W akaTri B. Wahyuni)
- PARK CHANYEOL
- KANG NAERI (M.N.F aka Masita N.Farih)
GENRE : ANGST
LENGTH : ONE SHOOT
>>>
"apa
yang terjadi hari ini adalah semua yang terbaik dari rencana Tuhan
untuk kehidupan yang akan datang."
Author
POV
Petikan-petikan
halus keluar begitu merdu ketika Suho dengan mahirnya memainkan gitar
akustik dalam genggamannya. Ruang auditorium yang hanya dihuni
olehnya dan Chanyeol yang sibuk dengan dunianya sendiri seolah
menjadi saksi akan kemahirannya dalam memainkan benda kesayangannya
itu. Seorang wanita setengah baya berkaca mata minus dengan setumpuk
file di tangannya datang menghampirinya.
“kau
telah bekerja keras. Istirahatlah!” tegurnya menyodorkan salah satu
stopmap yang memenuhi tangannya pada Suho.
“mana
mungkin aku bisa istirahat saem? Pertunjukan tinggal 6 hari lagi.”
Balas Suho menggapai stopmap yang dipenuhi dengan not-not balok hasil
aransemennya dan melanjutkan jemarinya untuk beradu dengan
senar-senar gitarnya.
“kau
tak perlu memaksakan diri seperti ini. Aku telah mendengarkan rekaman
lagumu itu. Aku menyukainya. Sangat manis harmonisasi melodinya.”
“anda
perlu bersyukur karna memiliki gitaris genius seperti dia.” Imbuh
Chanyeol menutup bukunya dan bergabung dalam percakapan mereka.
“ne.
kau benar Park Chanyeol. Aku harus bersyukur karna pentas tahun baru
ini akan mengukir sejarah baru bagi sekolah kita. Betapa beruntungnya
diriku akhirnya bisa bersitatap langsung dengan gitaris berbakat dari
Australia.” Jemari Suho terhenti mendadak ketika mendengar kata
Australia. Semua kenangan lamanya serasa tiba-tiba datang
menyerbunya. Semua kenangan yang ia benci di masa lalunya yang tak
pernah ia harapkan untuk datang menyeruak permukaan otaknya.
“mwo?
Apa maksud anda? Apa untuk pertunjukan fingerstyle Suho tidak
sendiri?”
“ne,
Prof. Smith dari Universitas Perth Australia begitu tertarik padamu
dan merekomendasikan salah satu gitaris berbakatnya untuk
berkolaborasi denganmu. Ottokhae? Apa kau keberatan?” tanya prof
jung pada Suho yang terpaku mengingat masa kelamnya. Dia menatap
gurunya sejenak. “aku tak akan keberatan jika dia tidak mengacaukan
kerja kerasku selama 6 bulan ini.” jawab Suho setenang mungkin
meyakinkan prof jung juga dirinya sendiri bahwa tak akan terjadi
hal-hal yang ingin ia buang dalam memorinya.
Prof
jung mengangguk senang, “hemm, aku yakin kau pasti setuju.
Tidurlah, ini sudah terlalu larut untuk terus berlatih!”
“Chanyeol-ah,
jangan berdiri di sana. tiang itu sedang dalam perbaikan sangat mudah
untuk roboh. Berhati-hatilah!” imbuh prof jung tersenyum dan
meninggalkan mereka.
>>>
“Park
Chanyeol…!” seru seorang gadis menghentikan laju Chanyeol. Dia
berbalik memastikan siapa yang memanggilnya. Setelah menangkap
bayangan Naeri dari sudut matanya, ia justru kian mempercepat
langkahnya. Membuat gadis cantik itu mau tak mau harus memotong usaha
pelarian diri Chanyeol.
“ya,
apa kau tak mendengar teriakanku?” rutuk Naeri sigap menghadang
laju Chanyeol. Chanyeol mendesah tak senang melihat Naeri sudah
berada di ujung perjalanannya. Entah alasan apa lagi yang harus ia
utarakan agar terlepas dari kejaran gadis di hadapannya ini.
“mian
aku terburu-buru. Aku masih harus menghadiri kelas sebentar lagi.”
Kilah Chanyeol berusaha terus menghindar.
“ya,
kau tak bisa membohongiku lagi Park Chanyeol. Sekarang aku menuntut
janjimu.” Racau Naeri dengan tatapan tajam yang membuat Chanyeol
membeku ketakutan. Dia memutar akal bagiamana cara menjelaskan
keadaan Suho pada Naeri.
“katakan
padaku, bagaimana cara meluluhkan hati Suho!” pinta Naeri meremat
ujung blazer Chanyeol.
“emm,
Naeri-ah! apa kau mau mendengar kisah teman dari temannya temanku?”
“jangan
bermain-main denganku Park Chanyeol. Hanya katakan apa yang ingin aku
dengar dan tutup mulutmu jika kau hanya membual.” Gertak Naeri kian
mengencangkan genggaman tangannya pada blazer hitam Chanyeol.
“ka..ka..kau
tak akan menyesal setelah mendengar ini semua.” Ujar Chanyeol
gelagapan melepaskan ujung blazernya dari tangan Naeri.
“teman
dari temannya temanku adalah seorang namja dingin, baginya hanya ada
dua hal dalam dunia ini. yakni dirinya sendiri dan juga mimpinya. Dia
hanya bertindak sesuka hatinya dan tak pernah mau tau urusan orang
lain. suatu hari, datanglah seorang gadis yang membuatnya tak dapat
untuk tidak memperhatikan gadis manis itu. Gadis itu mengajarkannya
bahwa dia tak hidup sendiri dalam dunia ini. dimana kau akan
menemukan hal indah jika kau mau menengok dari sudut pandang yang
berbeda. Ketika namja itu mulai berubah dan percaya, gadis itu justru
menghempaskan perasaannya. Hingga kini dia tak dapat melupakan sakit
hatinya. Dia memilih untuk menutup rapat-rapat hatinya dari gadis
manapun.” Jelas Chanyeol hati-hati begitu meyakinkan.
“apa
ini kisah Suho?” Chanyeol mengangkat bahu memberi kesempatan pada
Naeri untuk berpikir sendiri mengambil kesimpulan.
Sedetik
gadis itu terdiam bergelut dalam pikirannya sendiri. dengan cepat ia
menarik kesimpulan mungkinkah ini alasannya mengapa seorang Kang
Naeri yang begitu sempurna kini terabaikan oleh seorang namja dingin
semacam Suho, sedangkan Chanyeol secara diam-diam melenggang menjauh
dari Naeri yang selama 2 bulan ini menjadikannya buronan karna rasa
ingin tahunya bagaimana cara menaklukkan mahluk tampan bernama Kim
Junmyung itu.
>>>
Jarum
pendek jam dinding aula bergerak dan berhenti tepat pada angka 5, 10
menit sudah berlalu sejak jadwal latihan hari ini dimulai namun prof
jung belum juga menampakkan wujudnya. Para mahasiswa yang
berpartisipas dalam pertunjukkan tahunan inipun terlihat masih santai
bercakap-cakap dengan teman-temannya. Hanya Suho yang menyendiri di
sudut ruangan sambil mendengarkan alunan gitar akustiknya. Memastikan
bahwa gitarnya masih dalam keadaan baik-baik saja sebelum latihan
dimulai.
“annyeong
hasseyo…!” sapa prof jung berjalan terburu-buru memasuki
auditorium yang dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswanya. Dibelakangnya
mengekor seorang gadis dengan gitar akustik yang bertengger pada
punggungnya. Perlahan kerumunan-kerumunan itu menyibak rapi dan
membungkuk memberi salam pada gurunya.
“perkenalkan
dia Kim Yunhee dari Universitas Perth Australia yang direkomendasikan
oleh Prof. Smith. Dia akan bergabung dalam pertunjukan kita, atau
lebih tepatnya dialah yang akan berkolaborasi dengan Suho.” Jabar
prof jung memperkenalkan seorang gadis manis di sampingnya yang
tersenyum ramah pada setiap pasang mata yang kagum melihatnya.
Deg,
Kim Yunhee, kepala Suho yang sedari tadi menunduk tak mau tau kini
secara reflex memandang dari manakah suara itu berasal. Jantungnya
berdebar kencang ketika tepat hari ini ia harus melihat wajah gadis
itu. Gadis yang begitu ia benci. Satu waktu mata mereka saling
bertemu, membuat Suho kian marah harus melihat sirat senyum dalam
tatapan gadis itu. Dia melengos kesal dan mencampakkan gitarnya
begitu saja. Dia bangkit dan mengahampiri prof jung.
“mian
saem, aku keluar dari pertunjukkan ini.” cetus Suho membungkuk lalu
melenggang menjauh meninggalkan prof jung yang ternganga tak percaya
akan keputusan Suho yang begitu tiba-tiba.
“mwo?
Ya, Kim Junmyung…” seru prof jung memanggil Suho yang melenggang
keluar auditorium dengan suara prof jung masih saja memanggil namanya
untuk kembali.
End
POV
>>>
Suho
POV
Wajah
itu, tatapan itu, dan senyum itu. Mengapa hari ini aku harus
melihatnya lagi? Mengapa ia hadir disaat aku mulai bangkit namun
belum cukup memiliki kekuatan untuk membencinya. Tak puaskah kau
merebut semua mimpiku dan menghempaskan perasaanku begitu saja
setelah kau dapatkan apa yang kau mau? Mengapa kau harus kembali
lagi, bahkan kini mengambil lagi kesempatanku?
“selamat
kau diterima di Universitas Perth Australia!”
“Suho,
kau dengar itu? Aku diterima…!”
Bunyi
itu lagi-lagi berdengung di telingaku. Suara tak berdosanya yang
terus memamerkan kertas penerimaan mahasiswa baru yang seharusnya
menjadi milikku. Impianku hancur seketika dalam semalam oleh orang
itu. Bagiku dia tak lebih dari seorang gadis berwajah dua yang
memanfaatkanku.
“Suho…!” seru suara lembut dibelakang punggungku. Aku mengenali
suara ini. suara sendu yang dulu membuatku susah sekali untuk tidak
menoleh mencari dari mana suara ini berasal. Namun kali ini, otakku
turut mensugesti agar kepalaku tak berputar untuk menatapnya. Tak
sudi rasanya mataku harus menangkap goresan tegas wajahnya.
“Suho-ah…!”
ulangnya lagi yang melihatku sama sekali tak bereaksi menerima
kehadirannya. Kudengar suara langkahnya mendekatiku yang masih saja
terdiam di anak tangga darurat, tempatku melenyapkan diri.
“bagaimana
keadaanmu akhir-akhir ini?” tanyanya hati-hati duduk di sampingku.
Aku tak bergeming dan terus mengabaikannya.
“apa
kau sudah makan? Bagaimana dengan latihanmu? Aku dengar, kaulah yang
merancang konsep pertunjukan tahunan ini. aku juga sudah mendengar…”
“hentikan!”
tandasku dingin. Aku menatapnya sejenak dengan tatapan penuh
kebencian yang sedari dulu telah aku persiapkan jika hari ini datang.
“berhenti
bertindak seolah-olah kita saling mengenal.” Imbuhku lagi.
“kau…
apa kau baik-baik saja?” tanyanya terkejut memastikan bahwa yang ia
dengar salah dengan senyum palsu yang terpajang pada tebal topengnya.
“ne,
seperti yang kau lihat. sangat baik… untuk membencimu.” Aku
berbalik hendak meninggalkannya.
“mwo?”
“ada
apa sebenarnya denganmu? mengapa kau menjadi seperti ini? kau yang
memulainya, tapi mengapa justru aku yang menjadi yang bersalah
seperti ini?” Yunhee menahanku dengan ucapannya. Aku mendengar
suara serak dalam tiap ucapnnya.
“perlukah
aku menegaskan seberapa jahatnya kau?” tawarku tetap menatapnya
dingin dengan sedikit senyum merendahkan di sudut bibir. Dia terdiam
tak menyangka bahwa kalimat itu akan keluar dari mulutku. Dia mencoba
untuk tetap tenang menahan tangisnya. Kulanjutkan langkah kakiku
pergi menjauhinya.
>>>
“apa
perlu kau keluar dari pertunjukan itu?” tanya Chanyeol siap
melayangkan bola basketnya ke ring. Aku masih terdiam memeluk gitarku
dengan tatapan kosong.
“menurutmu
apa yang harus aku lakukan? Tetap bertahan dan setiap hari harus
melihat topengnya itu?” kurebahkan gitarku di samping dan
memperhatikan Chanyeol yang masih berkutat dengan bolanya.
“lalu
apa dengan meninggalkan pertunjukkan itu tidak sama saja dengan
melepas impianmu? Jangan libatkan dia bila suatu saat nanti kau
menyesali ini.”
“tak
ada yang akan kusesali nantinya. Terus melihatnyalah yang akan
membuatku semakin menyesal dan terus mengingat betapa busuknya dia.”
“apa
dia serendah itu di matamu?”
“Kau tau diriku dan juga bagaimana aku dihianati. Apa masih perlu
aku menjelaskan seburuk apa dia bagiku?” cibirku.
“apa
kau yakin dia yang menghianatimu? Apa benar kaulah pihak yang paling
menderita pada masalah ini? tidakkah kau tau bahwa dialah yang selama
ini tersiksa dengan semua perlakuanmu itu? Kau jelas tahu itu kan,
Kim Junmyung?” tindas Chanyeol menekankan namaku begitu dalam pada
akhir kalimatnya.
“Jangan katakan kau tidak tahu, pada kenyataannya kau hanya
menyangkal dan berpura-pura tidak tau. ayolah Kim Junmyung, tak ada
yang salah dengan semua pilihannya. Salahkah dia tidak menolak
kesempatan bagus baginya? Salahkan dia bisa menjadi seperti ini?
Bukan kesalahan mereka pula yang bisa melihat bakat Yunhee lebih
besar daripada dirimu. Ini juga bukan kesalahanmu karna kaulah yang
membuatnya dapat memainkan gitar. Maka berhentilah mensugesti dirimu
untuk membencinya. Aku tahu betul bahwa sekeras apapun kau
mencobanya, kau tak akan pernah bisa untuk seutuhnya membencinya.”
“…”
“jangan
seperti anak kecil lagi. Sudah cukup kau menyiksanya selama ini karna
semua kediaman dan kata benci yang tak dia mengerti. Jelaskan
padanya apa yang sebenarnya ada hatimu.” Imbuh Chanyeol. Dia hanya
tersenyum dan pergi meninggalkanku setelah mengemasi tasnya.
Aku
masih terdiam ditempat. Baiklah, ini bukan kali pertama Chanyeol
mengatakan semua kalimatnya hari ini, dan lagi-lagi aku hanya terdiam
tiap mendengarnya. Mungkin memang tak ada yang salah dengan semua apa
yang dikatakannya, hanya saja aku yang tak ingin mengakui bahwa apa
yang ia ucapkan adalah semua kebenaran yang selalu kuhindari.
“Suho-ah…!”
seru prof jung tiba-tiba muncul sedikit mengejutkanku.
“bisakah
kita bicara sebentar?” dia membenahi posisi kaca matanya dan turut
bergabung duduk di sampingku. Aku diam tak menanggapi kehadirannya
dan justru kian menyibukkan diri dengan gitarku.
“aku
memang tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa kau begitu
tiba-tiba mengundurkan diri dalam pertunjukkan ini. masalah apakah
yang mungkin membebanimu hingga kau melepaskan pertunjukkan ini pun,
aku tak tahu. Aku juga tak akan memaksamu untuk menceritakan
masalahmu. aku hanya berharap kau dapat bersikap professional. Jika
benar semua keputusanmu ini karna masalah pribadi, kumohon,
sampingkanlah masalah itu, mari kita ciptakan pertunjukkan hebat
untuk tahun ini.” pinta prof jung.
“mian
saem, aku telah mengecewakan anda. Tapi keputusanku ini tak dapat
berubah.”
“pertunjukkan
ini tak akan berjalan baik tanpa adanya kau. Suho, kau telah
mempersiapkan pertunjukkan ini begitu lama. Apa kau rela hasil kerja
kerasmu menjadi sia-sia begitu saja?”
“anda
tak perlu khawatir. Ada banyak orang yang terlibat dalam pertunjukkan
itu, aku yakin mereka tak akan mengecewakan anda. Bukankah sudah ada
gitaris dari Australia itu?” tegasku masih sibuk dengan gitarku
tanpa menatap langsung matanya.
“tapi…”
“mian
saem, jika sudah tidak ada lagi yang ingin anda katakan, anda dapat
meninggalkan lapangan ini!” usirku menghentikan aktifitasku dan
menatapnya dingin bersamaan dengan suara dering ponsel Chanyeol yang
tergeletak di samping tempatku duduk. Tanpa banyak bicara lagi, prof
jung beranjak meninggalkanku yang mulai tak senang dengan bujukannya
untuk kembali.
Kulirik
sekilas layar ponsel canyeol yang sedari tadi terus berbunyi. Kim
Yunhee. Nama itu yang dapat aku tangkap pada layar itu. Untuk apa
gadis itu menghubungi Chanyeol? Dengan ragu kugeser tanda dial hijau
dan mendengarkan suara orang di sebrang sana yang terus-terusan
memanggil Chanyeol.
“Chanyeol…
apa yang harus aku lakukan…? Aku benar-benar tak mengenalinya lagi.
Aku salah bila selama ini menunggu waktu untuk bertemu dengannya
lagi. Aku lelah menanti dan hanya ini yang aku terima. Apa dia
benar-benar membenciku? Apa salahku?” kudengar suara isak dalam
tiap ceritanya. Benar ini memang suara tangisannya.
“Aku
tak dapat bersabar menerima perlakuannya. Aku tak dapat berontak
untuk memakinya dan menuntut penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.
Chanyeol-ah, tak dapatkah kau memberitahuku apa alasannya. Jebal, aku
benar-benar ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Aku…” Ku
tekan tanda merah pada layar ponsel Chanyeol, mengakhiri semua
celotehnya. Aku tak ingin mendengarnya menangis seperti ini. dan ada
apa dengannya yang harus meminta Chanyeol untuk mengatakan semuanya
padanya. Apa dia benar-benar bodoh atau tak tahu diri tentang apa
yang telah ia perbuat selama ini?
End
POV
>>>
Author
POV
Gemuruh
mulai terdengar menyeringai langit senja. Perlahan titik-titik
gerimis berjatuhan membasahi bumi Seoul. Membuat para pejalan kaki
mempercepat langkahnya dan tak jarang pula dari mereka menepi pada
halte bus maupun pelataran toko-toko di sepanjang distrik Gangnam.
Begitupun dengan Suho yang juga mempercepat langkahnya untuk mencapai
tudung halte, bersembunyi dari serbuan rintik hujan. Dia membuka
jaketnya dan meletakkannya pada gitarnya yang kini telah bersandar di
sampingnya untuk menghalau rintikan hujan yang mungkin akan
menghujani gitar kesayanagnnya lagi.
“Suho-ah…!”
pekik suara cempreng menggetarkan gendang telinganya. Seorang gadis
berambut ikal sebahu menghampirinya dan langsung melingkarkan
tangannya pada lengan Suho.
“non
nuguseyo?” Suho menatap gadis itu aneh dan menepis tangan kurus
yang bergelayut manja pada lengannya.
“mwo?
Kau lupa siapa aku? aigo… sudah berapa kali kau tanyakan siapa aku
tiap kali kita bertemu. apa ingatanmu sebegitu parahnya hingga tak
dapat mengingat siapa diriku. Eoh?” oceh gadis itu berlebihan. Suho
menatapnya malas dan mengedarkan pandangannya memastikan titik-titik
bening yang menghalaunya tak begitu deras, hingga ia bisa melanjutkan
perjalannya lagi.
Matanya
berheti mengedar di ujung jalan ketika mendapati sosok gadis yang
paling ia benci tengah menatapnya juga. Sebuah tangan melambai
menghalangi pandangannya. Suho melirik siapakah pemilik tangan yang
menutupi penglihatannya, Yunhee membungkuk dan tersenyum kearahnya,
atau lebih tepatnya pada tangan gadis yang berdiri di sampingnya.
“apa
maumu?” tanya Suho pada Naeri yang masih melambai pada Yunhee. Dia
tersenyum senang menatap Suho yang nampak mulai menerima kehadirannya
tak seperti biasa yang terus-menerus mengabaikannya.
“aku
tak akan membiarkanmu terserang flu karna menembus hujan, jadi
biarkan aku mengantarkanmu ke tempat tujuanmu.” Ujarnya membuaka
payung pink transparannya dan menarik lengan Suho untuk mengikutinya.
Suho
membuang nafas menahan sabar pada sikap agresif gadis di sampingnya
ini. lagi-lagi Suho menepis tangan Naeri dan menatapnya datar.
“lupakan, aku tak akan dengan mudah terserang flu hanya karna
gerimis kecil seperti ini.” ujar Suho dingin mengambil gitarnya
yang terbungkus jaket hitamnya dan berjalan lurus menyebarangi jalan
raya dengan satu tangan menutupi kepalanya.
“ya...
Kim Junmyung!” seru Naeri mengikuti langkah pelarian diri Suho.
Kepala
Suho sedikit mendongak memperhatikan pergerakan rintikan hujan yang
kini tak menyerbunya lagi. Sebuah payung melindunginya dari gerimis
yang belum berhenti menghantarkan berkah dari langit. Dia memutar
kepalanya dan mendapati Naeri dengan senyum merekah menyambutnya.
“setidaknya
biarkan aku melindungi gitarmu.” Uajrnya tanpa menunggu Suho
bertanya apa yang ia lakukan sekarang. Suho tersenyum simpul, kembali
memperhatikan jalannya dan membiarkan Naeri terus mengekorinya dengan
senyum bahagia merekah di bibir merahnya.
“Suho-ah…!”
panggil Naeri hati-hati setelah sepersekian menit tak ada kalimat
yang keluar darinya. Dia hanya mengekor kemana Suho melangkah dengan
satu tangan terus memayungi Suho yang tak begitu menganggap
kehadirannya.
“hemm?”
“jadilah
namjachinguku! Jebal!” ujar Naeri tanpa dosa yang tak diindahkan
oleh Suho yang masih saja berjalan menatap lurus kedepan.
“shireo.”
“wae…?”
rengek Naeri menarik ujung kaos putih Suho yang langsung mendapat
tatapan sinis Suho yang risih dengan tingkah gadis manis di
sampingnya ini.
Perlahan
Naeri melepaskan tangannya dan mengatur dirinya, “apa kau mencintai
gitarmu melebihi apapun di dunia ini?” Suho mengangguk tanpa
menatap Naeri.
“jongmal?
Jika diberi kesempatan satu kali untuk memilih, manakah yang akan kau
selamatkan, gadis yang kau cintai ataukah gitarmu yang bergantungan
di ujung tebing? Dimana jika kau menyelamatkan satu diantaranya akan
ada satu yang terjatuh di dasar tebing yang curam.” tanya Naeri
lagi menghentikan langkah Suho. Dia menatap Naeri sejenak dan
melanjutkan lagi lajunya.
“gitarku.”
Jawab Suho singkat setelah sepersekian menit terdiam dalam pusaran
pikirannya.
“jinjayo?
Wae?”
“karna
gadis yang kucintai sekarang bukanlah apa-apa lagi bagiku. Gitarku
jauh lebih berharga dari gadis itu.” Jawab Suho setenang mungkin.
“Kau
jahat sekali. apa kau akan menikahi gitarmu suatu hari nanti? Mengapa
kau begitu melindunginya? Tanpa kau selamatkan pun gitarmu itu tetap
menjadi benda mati yang hanya dapat kau sentuh. bagaimana mungkin kau
membiarkan gadis yang kau cintai tergantung di tebing dan hanya
memikirkan gitarmu saja?” komen Naeri kesal. Sejenak ia berpikir
mungkin ada baiknya ia menyerah untuk memenangkan hati Suho sekarang
saja daripada nantinya ia akan bersaing dengan benda mati semacam
gitar yang baginya tak berarti.
Suho
menghentikan langkahnya lagi. Ia berbalik dan menatap Naeri tajam
yang langsung menghentikan ocehannya, “mian! Aku telah lancang.”
Gumam Naeri menyibak poninya salah tingkah.
“untuk
apa kau memintaku menjadi namjachingumu bahkan kau tak tahu apa-apa
tentang diriku.” Cibir Suho yang kini sudah berbalik tak
memperhatikan Naeri lagi.
“aku
tahu semua tentangmu. Tantang duniamu yang hanya terisi olehmu dan
juga gitarmu. Bagaimana seorang gadis yang mewarnai hidupmu dan
bagaimana kau dicampakkan. Aku tahu semua itu…”
“karna
kau tahu semua itulah yang membuatku semakin tak suka jika kau terus
mengulik privasiku.” Tandas Suho memotong ucapan Naeri.
“Hubungan
seperti apakah yang kau inginkan dariku? Jika hanya sebatas ingin
memenangkan hatiku, selamanya kau tak akan pernah berada pada posisi
gadis di ujung tebing itu. Karna itu jangan berikan payungmu lagi
meski gitarkulah yang kau jadikan alasan. Dan jangan pernah dekati
aku lagi jika kau hanya mengincar sesuatu dariku.” Ujar Suho
menjauhkan tangan Naeri yang sedari tadi menggenggam batang payungnya
dan pergi meninggalkan Naeri yang mematung karna semua kalimat
penolakan Suho yang ia terima barusan dengan guyuran hujan yang
mengiringi langkahnya.
“aish…
jongmal paboya. Pabo pabo paboya….” Rutuk Naeri kesal pada
dirinya sendiri. “ tak seharusnya aku selancang itu mengatakan
semua yang kuketahui tentang dirinya. Ottokhaeyo? Apa yang harus
kulakukan, dia tak mungkin memaafkanku… aish…” ujar Naeri
frustasi mencampakkan payung pinknya menahan kesal.
>>>
“kau
masih di sini?” tegur Chanyeol menyalakan lampu utama audithorium
yang sedari tadi terpejam. Wujud Yunhee kini terlihat jelas di atas
panggung dengan gitar akustiknya.
Yunhee
tersenyum kecil dan menghentikan jemarinya, “hemm, apa yang kau
lakukan disini?”
“hanya
ingin memastikan keadaanmu saja.” balas Chanyeol mendekati Yunhee.
“kau ingat lagu ini?” Dia mengambil alih gitar Yunhee dan
memainkannya, membuat memori Yunhee berputar teringat lagu pertama
yang ia nyanyikan bersama Chanyeol dan Suho.
~
lucky i'm in love with my best friend,
lucky to have been where i have been,
lucky to becoming home again
lucky
we're in love in every way
lucky
to have stayed where we have stayed
lucky
to becoming home someday
huu
~
Yunhee
menunduk dan menutupi wajahnya. sebulir air matanya mengalir begitu
saja dari pelupuk matanya. Lagu penuh kenangan ini serasa benar-benar
menyayat hatinya. seolah ini hanyalah sebuah lagu dengan melodi
rumpang tanpa kesempurnaan, tiap kali ia mengingat tatapan kebencian
Suho beberapa hari lalu.
“menangislah
bila itu bisa membuatmu lebih baik.” Ujar Chanyeol meletakkan gitar
Yunhee di sampingnya. Ia mengusap bahu Yunhee perlahan. Dan suara
isak itupun kian terdengar.
“Chanyeol-ah…!
Katakan padaku apa salahku hingga membuatnya begitu membenciku.”
“dia
tak membencimu.” Yunhee menatap chnayeol sejenak dengan mata sembab
berairnya.
“jangan
membual. Dia jelas mengatakan ia membenciku.”
“apa
kau tidak mengenal Suho? Manamungkin dia membencimu. Dia hanya ingin
membencimu. Tak bisakah kau membedakan mana ‘membenci’ dan 'hanya
ingin membenci’?”
“wae?
Untuk apa ia melakukan semua itu?”
“kenapa
tak kau tanyakan langsung saja padanya?” balas Chanyeol
mengisyaratkan Yunhee untuk berbalik menengok siapa yang sedari tadi
memperhatikan mereka. Suho berdiri tegap di ambang pintu. Terdiam
terpaku memperhatikan pergerakan mereka.
“tanyakan
langsung padanya! Jika kau tak ingin terus tertekan maki sajalah dia
kenapa ia melakukan semua ini padamu.” Chanyeol beranjak berdiri
dan meninggalkan Yunhee yang masih mematung menguasi diri.
“Suho-ah!”
panggil Yunhee mencegah perpindahan Suho yang hendak meninggalkan
audithorium. Dia berbalik menatap Yunhee sejenak. Kakinya malangkah
perlahan mendekati Yunhee.
“10
tahun lalu tepat pada pertengahan musim semi. Di bawah patung raja
Sunjong, untuk pertama kalinya kita bertemu.” ujar Suho perlahan
terus melaju mendekati Yunhee. Matanya tak henti berpendar menatap
Yunhee dingin. Bibirnya hanya terangkat seperti berbisik. Namun
telinga Yunhee masih dapat menangkap jelas setiap kata pedas yang
keluar dari pergerakan bibir Suho.
“dan
ternyata kita bertemu lagi 6 tahun kemudian. Kau terus mendekatiku,
memintaku untuk mengajarimu memainkan gitar. Bodohnya aku yang
menyerah begitu saja dan membiarkan diriku mengajarimu. Dan setelah
itu kau merampas impianku. Pergi begitu saja tanpa penyesalan…”
potong Suho menatap tajam Yunhee yang telah berada di hadapnnya.
“Semua
yang kukatakan tak ada yang tertinggal. Aku benar bukan?”
“Ah,
aku lupa, dan akhir dari kisah antara kau dan aku, kau datang lagi di
hadapanku, menanyakan apa kesalahanmu. Hahah kau lucu sekali, aku
fikir kau adalah gadis pintar yang dapat berfikir cepat, hingga aku
tak perlu repot-repot mengungkap kelicikanmu. Dan kau tak perlu lelah
terus menangis di hadapan Chanyeol untuk meminta penjelasan
kebencianku ini. jika kau mau menggunakan waktumu untuk berfikir,
bukankah semuanya akan lebih cepat kau mengerti?” imbuh Suho lagi
dingin.
Yunhee
terbelenggu dalam diam serasa tersengat setruman listrik bertegangan
tinggi yang melumpuhkannya seketika. Tak lebih dari 5 menit Suho
mengungkap 10 tahun terakhir yang terjadi antara mereka.
Suho
berbalik meninggalkan Yunhee yang masih saja terdiam belum bereksi
dari setruman yang menyengatnya. “Suho-ah!” cegah Yunhee
menguasai diri.
“napeun
namja. Aku salah menilaimu selama ini.” pekik Yunhee lagi.
“aku
tak menyangka bahwa kau sepicik itu. Aku salah selama ini berfikir
kau berbeda dengan namja lain. Ya, kau memang berbeda, kau jauh lebih
buruk dari mereka. dan kau benar, aku memang bodoh. Bodoh pernah
menyukai namja sepertimu….” Hati Suho mencelos seketika. Dia
berbalik menatap Yunhee yang tengah berjuang sekuat tenaga menahan
laju air matanya. Bibirnya bergetar terus memakinya.
“kutarik
kembali ucapanku, tak selamanya apa yang terjadi hari ini adalah
rencana terbaik Tuhan untuk kehidupan di masa depan. aku menyesal
mengapa aku harus memintamu saat itu. Dan aku tau kau jauh lebih
menyesal dariku karna telah bertemu denganku. Keure, lupakan
pertemuan kita 10 tahun yang lalu, lupakan aku pernah memintamu dan
lupakan apa yang terjadi hari ini. setelah ini kita bukanlah
siapa-siapa lagi. Akan kuhapus semua memori yang berhubungan
denganmu. Kau dan aku, tak akan ada kata ‘kita’ setelah hari ini
dan kau dapat membenciku tanpa alasan maupun selamanya membenciku
aku…”
“prang…!”
suara debam keras mencuat diantara pertengkaran mereka. sebongkah
tiang tergoncang dan perlahan berputar hendak perpendar menindihi
diapa saja yang berada tak jauh darinya. Suho berlari cepat menggapai
tangan Yunhee. Ditariknya Yunhee dalam dekapannya. Tangan kirinya
terangkat spontan menahan tiang yang menghantamnya kasar.
“non
gwanchanayo?” lirih Suho memperhatikan keadaan Yunhee yang mematung
sesaat karna 1 detik lalu mungkin dirinyalah yang terhantam tiang
berat itu.
“Suho-ah…!
Kau.. kau terluka.” pekik Yunhee mulai menguasai diri. Suho hanya
tersenyum kecil. Tangannya terkulai lemas di lantai dengan darah yang
merembes keluar dari ujung sikunya. matanya perlahan terpejam dan
seketika semuanya meremang.
End
POV
>>>
Yunhee
POV
“hantaman
besi itu cukup kuat hingga membuat sendi engselnya bergeser dan
keretakan pada ujung tulang pipa lengan bawahnya yang bersitatap
langsung dengan tiang itu. Hal ini juga mengakibatkan pasien akan
mengalami kesulitan untuk menekuk tangannya. meskipun operasi dapat
berjalan lancar, setelah ini fungsi tangannya tak dapat kembali
optimal seperti semula. Ada beberapa saraf yang bersinggungan dengan
sendi ini terjepit. Sehingga jari tengah dan jari manisnya akan
sering mati rasa setelah ini.” suara dokter itu terus berputar
dan menari-nari di telingaku.
Aku
menangis. Terus menangis melihatnya seperti ini. terkulai lemas
dengan selang infus yang merekati kulitnya, tangan kirinya lurus
terbidai dengan balutan perban membelitnya. Mata bulatnya masih saja
terpejam belum mau terbuka sejak 2 hari lalu.
1
jam sebelum pentas dimulai aku masih di sini. Terus di sisinya
menggenggam erat tangannya. setidaknya aku ingin tetap seperti ini
sebelum ia benar-benar terbangun dan membenciku. Sebelum ia sadar dan
melupakanku. Aku hanya ingin menggenggam tangannya dan menguatkanku
sebelum aku melihat kenyataan aku akan menghilang dari kehidupannya
secara pasti.
“kau
harus kembali untuk persiapan.” Ujar Chanyeol membuyarkan
lamunanku. Dia mengusap bahuku perlahan dan tersenyum meyakinkanku,
“dia akan baik-baik saja. Kau mengenalnya. Dia tak akan mudah
dikalahkan meskipun terhantam ribuan besi yang akan mematahkan
seluruh tulangnya sekalipun.”
“bukan
itu yang aku khawatirkan. Aku hanya takut apakah setelah ini aku
masih sanggup melihatnya dari jauh dan melenyap dari hidupnya.”
“jangan
lakukan! jika itu hanya sekedar formalitas dari penyesalanmu. Kau tak
perlu menghukum dirimu sendiri melebihi kemampuanmu. Kau pasti tahu,
Tuhan tak pernah menghukum hamba-Nya melampaui batas kemampuan
hamba-Nya. Jadi jangan melampaui kekuasaan Tuhan dengan cara yang tak
pernah Ia lakukan.” Aku menarik nafas dalam menenangkan diriku. Aku
mengangguk “ini bukanlah formalitas. Aku akan pergi untuknya.”
Ujarku bangkit dan perlahan melepaskan genggaman tanganku.
Clep,
kurasakan seseorang menghalau lajuku dengan menggamit jemariku.
Tangan berinfus itu meremat telapak tanganku lembut. Seolah memintaku
untuk tak beranjak meninggalkan tangan kakunya itu. kulirik sekilas
mata bulat Suho yang masih mengatup. Perlahan kelopak matanya
terbuka. Sebulir Kristal bening mengalir membuka matanya.
“Suho-ah…!”
panggilku memastikan bahwa dirinya benar-benar tlah terbangun.
“Suho-ah…!”
panggil Chanyeol juga mendekat. “aku akan memanggil dokter.”
Imbuhnya lagi keluar ruangan.
Aku
memandangnya sendu menahan tangisku. Entahlah air mata apakah ini.
buliran kebahagiaan karna ia telah bangun ataukah ini awal dari
tangisanku yang benar-benar takut tak bisa melenyap dari hadapannya.
“Suho-ah,
mi-mianhae! Aku… Aku tak bermaksud tak menepati janjiku dengan
masih berada di sekitarmu. Aku hanya… aku hanya ingin…” ujarku
tercekat dengan suara tangisku.
“lanjutkan
saja!” lirihnya hampir tak terdengar.
“mwo?”
“katakanlah
semua yang masih ingin kau utarakan padaku. bukankah pertengkaran
kita belum usai? Katakan saja semua yang masih mengganjal hatimu.”
Jelasnya lembut tersenyum tipis.
Dia
mengangguk perlahan meyakinkanku. Bibirku bergetar menahan tangis dan
mencoba menguasai diriku, “napeun namja. Jongmal baboya!” rutukku
masih bertahan dari sesak tangisku.
“apa
yang kau lakukan? Mengapa kau justru melindungiku? Kau bilang kau
membenciku, tak seharusnya kau menyelamatkanku. Harusnya kau
membiarkan tiang itu mengancurkanku. Bagaimana sekarang aku harus
melenyap dari kehidupanmu? Bagaimana aku harus hidup dalam rasa
bersalah seperti ini. bagaimana aku harus…” Aku menagis di sela
makianku. Aku menangis ditangannya, sungguh aku tak kuasa melanjutkan
ucapan-ucapanku yang ia minta. Kim junyung, noneun jongmal baboya.
Jongmalhaeyo.
“setidaknya
kita impas sekarang.” Jawab Suho mendongakkanku. Lagi-lagi dia
tersenyum tulus seperti dulu sebelum ada jurang antara kita.
“setidaknya aku tak harus meminta maaf karna telah menyakitimu.
Setidaknya sakit ini dapat menghapus dosaku. Bukankah ini cukup
adil?”
“jangan
bercanda. Tak sadarkah kau dengan apa yang kau ucapkan? Tak ada yang
adil di sini. Apa kau tidak merasakan sakitnya tanganmu? Kali ini kau
harus benar-benar membenciku.”
“sekalipun
aku harus kehilangan tanganku dan juga gitarku, aku tak akan menyesal
telah melindungimu. Setelah ini kita bisa melenyapkan diri tanpa
memiliki penyesalan. Jika ada takdir diantara kita, mungkin suatu
hari nanti kita dipertemukan lagi dalam suatu kisah yang tak kita
ketahui.”
“Suho-ah!”
“dimana
Chanyeol? Apa dia ada luar?” tanya Suho mengalihkan pembicaraan.
Chanyeol
muncul bersama dengan seorang dokter dan diikuti dengan seorang
suster. Mereka melihat kami canggung, “Yunhee-ah. Ingat
pertunjukkanmu.” Ujar Chanyeol mengingatkanku. Aku memandangnya
risau, berpikir sejenak. Haruskah kuhadiri pertunjukkan itu dan
benar-benar meninggalkan Suho tanpa kembali lagi. Aigo…
“ne.”
lirihku melepaskan tangan Suho dan beranjak meninggalkan ruangan
putih berbau tajam obat. Meninggalakn Suho bersama dengan orang-orang
yang kupercaya untuk merawatnya. Tuhan semoga ini memang rencana
terbaik yang Kau siapkan untukku.
>>>
Aku
berdiri tepat diambang pintu yang akan mengantarkanku melihat dirinya
di dalam ruangan serba putih itu. hatiku berkecamuk antara 2 pilihan
yang tak dapat aku tentukan saat ini. ‘ya’ untuk
benar-benar menghilang darinya dan tak akan muncul lagi di
hadapannya. Atau ‘tidak’ untuk pengingkaran janjiku ini.
Menerobos pintu itu dan melihatnya untuk terakhir kalinya sebelum aku
kembali ke Australia dan benar-benar menghilang dari hidupnya. Ah,
otokhae?
Aku
masih diam tak beranjak dari tempatku di ambang pintu. Menanti
jawaban pasti yang tak akan kusesali nantinya. Namun sayang selama
apapun aku menantinya tak akan pernah ada jawabannya jika aku tak
mulai bergerak. Putuskan sekarang Kim Yunhee. Ya ataukah tidak.
“kreekk…!”
pintu putih itu terbuka. Seorang gadis muncul dari ruangan itu.
seorang gadis yang kukenal. Yang beberapa hari lalu kujumpai dirinya
tengah bergelayut manja mengekori Suho. Yang dengan ramahnya ia
melambai padaku meskipun aku tak mengenalnya.
“kau
di sini?” tanyanya membungkuk ramah padaku. aku tersenyum
mengiyakan dan membungkuk pula padanya.
“chukkaeyo.
Pertunjukkanmu 3 hari lalu sungguh luar biasa. Jika aku tak salah
dengar, ketika kau menyanyikan lagu ‘Lucky’, kau bilang
itu adalah lagu pertama yang kau nyanyikan bersama dengan 2 orang
yang berarti dalam hidupmu ketika kau mulai menguasai permainan
gitar. mengapa kau menyukai lagu itu?”
“pada
saat SMA aku menyukai seseorang, dia membuatku jatuh hati ketika ia
memainkan lagu itu, setelah itu aku mendekatinya dan memintanya untuk
mengajariku memainkan gitar. Lagu itu bagaikan refleksi dari
perasaanku yang merasa beruntung karna telah jatuh cinta pada
sahabatku sendiri dan aku juga berharap dia bisa membalas perasaanku
meskipun pada kenyataannya dia begitu membenciku.”
“benarkah?
Kisahmu begitu serupa dengan kisah seseorang yang kusukai. Hanya saja
dalam cerita itu, kau berperan sebagai gadis yang mencampakan
perasaannya.” Ujarnya mengingat-ingat.
“untuk
pertama kalinya ketika aku tahu bagaimana perasaannya, aku
benar-benar penasaran dan ingin tahu seperti apakah gadis dalam
kehidupannya. Yang dapat meluluhkan kutub dalam hatinya. Dan dengan
mudah pula membakar habis perasaanya. Sungguh aku ingin bertemu
dengan gadis itu dan memakinya karna membuatku begitu sulit untuk
menaklukan hatinya,” ujarnya menatapku sejenak sebelum melanjutkan
kalimatnya.
“tapi
setelah bertemu langsung dengannya, aku rasa aku tak ada hak untuk
memakinya. dia gadis yang luar biasa. Matanya tak pernah mendusta
untuk tetap bertahan dari tekanan yang ia terima. Jika aku berada di
posisinya kala itu, aku tidak yakin bahwa aku akan bertahan tetap
mencintanya.” Imbuhnya masih tak kumengerti.
“apa
maksudmu?”
“ani. Bukan apa-apa. Hanya mengingat orang pertama yang tak
memandangku seutuhnya. ige!” ujarnya menyodorkan secarik kertas
padaku.
“mwoeyo?”
perlahan aku mengambilnya dengan tanda tanya menyeruak kepalaku.
kertas apa ini.
“seorang
suster memberikan ini padaku. dia bilang Suho telah meninggalakan
rumah sakit subuh tadi. dia berpesan untuk memberikan surat ini
kepada seorang gadis yang datang kemari. Tapi aku fikir suster itu
sudah salah orang. Kurasa kaulah yang ia maksud.” Jelasnya
tersenyum ramah.
“Keure, aku harus pulang sekarang. Sampai jumpa lain waktu.
Anyeonghi gasipsio!” pamitnya membungkuk ramah lagi padaku dan
beranjak pergi meninggalkanku yang terus mengawasinya hingga wujud
kurusnya menghilang di ujung koridor.
Kuperhatikan
lagi kertas yang baru saja ia berikan padaku. sebuah tulisan lama
yang begitu kukenal. Merangkai kata demi kata yang memenuhi
halamannya.
“ketika
kau membaca surat ini, itu berarti perlahan aku mulai menghilang dari
kehidupanmu sesuai dengan apa yang kau mau. aku memang tak bisa
menghilang secara misterius begitu saja. Surat ini hanya sebuah jejak
yang akan menunjukkan padamu ada apa antara kau dan aku.Taukah kau,
jika aku diperbolehkan memilih, aku tak akan menyesal menghampirimu
yang tengah menangis di bawah patung raja sunjong 10 tahun lalu. Aku
tak akan menyesal kau tiba-tiba hadir dan masuk dalam hidupku.
Memaksaku untuk mengajarimu memainkan gitar, dan aku tak akan
menyesali rasa benciku yang tak dapat aku kendalikan seperti apa
keinginanku. Selama masa suram itu datang, aku belajar untuk memahami
perasaanku sendiri mengapa aku begitu ingin membencimu dan mengapa
kau begitu sulit untuk kubenci. Apakah sakit yang kau torehkan belum
cukup untuk mengukir benci dalam hatiku? Pertanyaan-pertanyaan itu
selalu muncul memenuhi kepalaku. Aish bahkan aku hampir gila
memikirkan semua itu. dan taukah kau jawaban apa yang aku dapat sejak
pertemuan pertama kita di hadapan raja sunjong hingga kau terus
menggenggam tanganku? Sama halnya dengan Jason Mraz yang begitu
beruntung merasakan cinta dari sahabatnya sendiri, akupun demikian
karna alasan sesungguhnya aku membencimu adalah karna aku
mencintaimu. Jebal mianhaeyo, Yunhee-ah!”
sakit.
ulu hatiku terasa begitu sakit setelah membaca surat ini. mengapa
kisah ini begitu rumit. Mengapa kita di pertemukan lagi untuk sebuah
kebencian dan berakhir pada sebuah kenyataan pahit? Mengapa kau
memaksaku harus memintamu melenyap, begitupun aku yang harus tak
terlihat olehmu, setelah kita saling mengetahui bahwa ada sebuah
kisah yang tak tertuntaskan antara kau dan aku? Napeun namja noneun
jongmal paboika Kim Junmyung.
Baiklah,
pergi dan melenyap adalah pilihan kita. Jika itu yang kau mau, aku
pun akan pergi hingga takdir yang akan membawa kita bertemu lagi
dengan sebuah kisah yang terahasiakan antara kau dan aku. yang
mungkin nantinya akan menghantarkan kata kita lagi dalam kamus
hidupmu dan juga diriku.
-------END-------