Selasa, 26 Februari 2013

FF/TWISTER_TWINS/BOFI_JO TWIN/ONESHOOT
TITTLE : TWISTER TWINS
AUTHOR : BIM / @noninodi
CAST :            - JO KWANGMIN
- JO YOUNGMIN
- KANG NAERI
- SUSTER MA
GENRE : ROMANCE, BROTHERSHIP, FAMILY
LENGTH : ONESHOOT




>>>
Kwangmin POV
Aku terdiam tak bergerak. Seolah membatu dan tersihir ketika mata bulatku harus menangkap kehadiran mereka berdua. Melihat kedekatan mereka yang terselimuti atmosfir kecanggungan yang menyeruak diantara mereka dibawah kerindangan pohon sakura sekolah. dan inilah hal yang sedari dulu kutakutkan, gadis yang kucintai adalah gadis yang dicintai pula oleh saudara kembarku. Ya, ketika sebuah fakta menunjukkan bahwa Youngmin memang benar-benar menyukai Naeri.
“pada awalnya aku pikir aku tak akan menyukaimu karna kecerobohanmu itu. Tapi yang aku rasa justru sebaliknya, terus mengkhawatirkanmu membuatku sangat menikmati semua itu. aku terus bertanya bagaiamana bisa aku begitu menikmati kekhawatiran yang selalu terbesit di otakku. Aku tau aku memang terlalu muda untuk mengatakan ini. Namun ketika umma dan appa memutuskan bercerai 6 tahun lalu hingga hari ini mereka kembali bersama lagi, aku menyadari sesuatu. Bahwa sedetikpun aku memang tak bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Suatu hal sederhana yang disebut dengan cinta. ” Ujar Youngmin memandang Naeri dalam dan menggapai tangannya.
“a… apa kau sedang mengungkapkan perasaanmu?” tanya Naeri polos mulai mendongak menatapnya bingung. Youngmin tersenyum dan meneggelamkan kepala Naeri dalam pelukannya, “ini lah jawabanku.” Ujarnya singkat.
Aku tersenyum getir melihat mereka yang secara bersamaan telah sukses menyusutkan hatiku hingga melenyap tanpa bekas. Hancur. Mengapa aku harus menjadi mahluk bodoh yang membiarkan hatiku menyusut dan hilang? Mengapa aku tak pernah sanggup memalingkan matanya untuk menatapku? Mengapa harus hari ini aku melihat kalian seperti itu? Apakah begitu susah bagimu untuk memilihku?
Hancur. Aku hancur harus melihat mereka menjadi satu hari ini. lenyap. Hatiku telah melenyap tak terselamatkan ketika ada orang lain yang menjadi sandaran tangisnya. Mengapa hanya dia yang kau lihat? Tak dapatkah kau merasakan kehadiranku meski hanya sesaat? Mengapa harus dia yang kau pilih? Tak bisakah kau memilih orang lain saja agar aku dapat dengan mudah merebutmu darinya?
Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Seorang gadis yang membuatku tak dapat berhenti untuk tidak melihatnya. Seorang gadis yang selalu di sisiku bagaimanapun keadaanku. Seorang gadis yang membuatku terus berkhayal untuk memilikinya meskipun aku sadar itu hanyalah khayalan semu yang tak akan pernah menjadi nyata.
Youngmin-ah, mengapa harus kau yang memilikinya? berhakkah aku untuk memakimu karna telah memenangkan hatinya? Berwenangkah aku untuk memutuskan tali persaudaraan ini hanya karnannya? Tak bolehkah aku merasakan satu kebahagian setelah semua perhatian yang tak kudapatkan telah habis kau serap?
Telah berulang kali kukatakan, aku tak akan pernah marah jika aku harus selalu tersingkir dan menjadi yang ke dua di mata semua orang yang melihatku dengannya. Tak akan lagi kusalahkan umma dan appa yang terus mengabaikanku karnanya. Tapi kumohon jangan kau pergi juga melupakanku karna kehadirannya.


>>>
Oh Tuhan keadilan macam apa lagi ini. sungguh aku tak sanggup bila harus hidup dengan keadilan yang serasa tak ada adilnya lagi bagiku. Cukup aku yang selalu tersingkir dan aku masih dapat menerima itu. tapi kali ini aku tak yakin masih sanggup hidup tanpa hatiku yang telah melenyap tersusut. Maka, kumohon yakinkanlah aku untuk tetap berdiri melihat orang yang kucintai kan terbang bebas bersama dengan orang yang paling kukasihi pula. Yakinkanlah diriku bahwa melihat kebahagian mereka adalah bagian dari kepingan kebahagianku yang telah lenyap tersusut entah kemana.
Kupandang nanar salip itu dengan sekuat tenaga menahan air mataku agar tak akan tumpah karna keserakahanku yang benci melihat mereka berdua. Cukup hanya memandangnya dengan harapan seseorang yang tergantung di sana akan menatapku sendu. Melepaskan tancapan pakunya dan mengusap penuh kasih kepalaku. Menciptakan sedikit keajaiban yang membuka keadilan untukku. Namun sayang patung itu tak bergerak sedikitpun walau hanya melirik kecil ke arahku.
“salib itu takkan pernah bergerak sedikitpun. Kau tak perlu terus melihatnya. Masuklah kedalam! Tuhan menantimu untuk datang berkunjung ke rumahnya.” Tegur seorang biarawati berdiri tegak mengusap sikunya di sampingku. Aku menoleh memperhatikannya sejenak yang kini tersenyum ramah melihatku.
Aku berbalik tak membalas ucapannya ataupun mengikuti nasehatnya untuk masuk ke dalam gereja, tak hanya berdiri terpaku memandang patung mati itu.
“suster…!” seruku menghentikan langkahku, aku kembali berbalik menatapnya lagi, “apa kau percaya dengan keadilan Tuhan?” tanyaku hati-hati. Sebuah pertanyaan bodoh yang tak semestinya aku tanyakan pada orang suci yang mengabdikan hidupnya untuk menjadi kekasih Tuhan.
“tentu saja. Tak ada yang harus diragukan dari kuasa dan keadilan Tuhan.” Jawabnya ramah dengan sunggingan senyumnya.
“jongmalhaeyo? Apa kau yakin telah menerima keadilan-Nya dengan apa yang kau lakukan sekarang?” pancingku.
“mwo?”
“bukankah kau masih muda? Berwajah cantik dan nampaknya kau berintelektual tinggi. Untuk apa mendedikasikan hidupmu untuk jalan seperti ini? bukankah kau akan jauh lebih bahagia dengan dampingan seseorang yang kau cintai dalam sebuah ikatan suci?”
Suster itu terdiam sejenak. Mungkin ia sedikit tersentak mendengar pertanyaanku yang terkesan tak percaya akan keadilan Tuhan. Dia lalu tersenyum simpul di sudut bibirnya dan dengan tenang ia menjawabku, “alasanku sama dengan apa yang telah kau lakukan.”
“mwo?”
“hanya seorang pembangkang saja yang tak percaya akan kuasa Tuhan yang menanyakan hal ini. dan bagiku kau bukanlah hamba Tuhan yang pembangkang.”
“bagaimana kau yakin akan hal itu?”
“bagaimana mungkin seorang pembangkang selalu datang ke gereja hanya untuk melihat salib dengan tatapan nanar penuh harapan? Dan bukankah kau sudah melakukannya hampir 1 bulan ini?” Cetusnya membekukanku.
“kau salah!” elakku.
“kurasa tidak.” Balasnya tersenyum, “cukup dengan melihat tatapan matamu, aku dapat merasakan sebuah ketidakpuasaan dari apa yang telah dikendaki Tuhan. Sesuatu yang tak kau ketahui yang hidup dalam hatimu. Seseorang sepertimu pastilah memiliki hati lembut yang rentan untuk tersakiti. Selalu membohongi diri sendiri bukanlah jalan yang tepat untuk menutupi luka perih dalam hati.”
“keadilan bagimu belum tentu menjadi keadilan bagi orang lain pula. ketika kau merasa adil bukankah hal yang tak semestinya adil menjadi hal yang adil bagimu? Dan ketika kau tak merasakan keadilannya maka hal yang adilpun tak dapat sepenuhnya kau lihat? apapun itu bentuk ketidakadilan yang kau rasakan hari ini, semata-mata karna tindakan yang kau pilih. Bukankah apapun yang kau lakukan dalam detik hembusan nafasmu adalah pilihanmu? Pilihanmulah yang membuatmu harus merasakan semua itu.” Jelasnya memandang lurus salib.
“Percayalah apa yang telah kau lakukan adalah pilihan terbaik untuk orang yang kau kasihi. Dan setelah itu perlahan sakit yang terukir dalam hatimu akan memudar dengan sendirinya. Jangan pernah salahkan Tuhan yang kau anggap tak pernah memberikan satu keadilan bagimu. Karna sesungguhnya keadilan Tuhan adalah hal yang nyata.” imbuhnya lagi tersenyum ramah lalu meninggalkanku yang masih mematung karna penjelasannya.


>>>
keadilan bagimu belum tentu menjadi keadilan bagi orang lain pula. ketika kau merasa adil bukankah hal yang tak semestinya adil menjadi hal yang adil bagimu? Dan ketika kau tak merasakan keadilannya maka hal yang adilpun tak dapat sepenuhnya kau lihat?” dengungan suara lembut suster itu masih saja menggerayangi otakku mematut dalam tiap sel neuritku. Selalu terbesit dan membayangiku.
Apa yang terjadi hari itu adalah apa yang telah aku pilih dan telah Tuhan gariskan. Bukankah jika aku lebih berani dan kuat melawan perasaaanku sendiri tak akan ada kisah pahit ini. seandainya aku berani untuk mengungkapkan perasaanku padanya, mungkin justru tak akan ada kebahagian terakhir baginya.
Aku terdiam, terus memperhatikan kalung tali yang membelit tanganku. Kalung tali yang selalu kukenaka selepas ‘dia’ telah menjadi kekasih orang lain. Kalung tali yang seharusnya kukembalikan lagi padanya jika suatu hari nanti aku bebas memanggilnya ‘chagiya’. Namun hal itu tak akan mungkin terjadi karna telah ada orang lain yang telah mengisi ruang hatinya.
“kreeekk…!” pintu kamarku terbuka perlahan. Kudapati sosok tampan berambut hitam berponi, berwajah serupa denganku. Dia tersenyum ramah menatapku.
“bolehkah aku tidur bersamamu Kwang?” tanyanya membuatku sedikit mendongak memperhatikannya. Aku hanya bergumam pelan, menggeser posisiku dan memberi ruang baginya.
Kami terdiam cukup lama dalam kegelapan malam yang hanya diterangi oleh lampu kecil di sudut ruangan. Terus terdiam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Tak pula memejamkan mata untuk mengakhiri hari dan bergelut dalam indahnya dunia mimpi.
“Kwang-ah!” panggilnya. Aku hanya berdehem menjawabi seruannya.
“berjanjilah padaku kau akan hidup bahagia.” Ujarnya membuatku lagi-lagi berpaling menatapnya, “mwo?”
“Aku tau sedingin apapun ucapanmu itu kau begitu menyayangiku. Tak perduli sekasar apa kau itu, kau adalah seseorang yang lemah dan berhati lembut. Aku hanya tak ingin membuatmu menjadi orang yang semakin lemah karna kehilangan sesuatu yang telah digariskan Tuhan dalam takdir ini. aku harap cukup di sini hubungan persaudaraan kita. Jangan lagi mengalah padaku. apalagi membiarkan dirimu menderita karna aku.” ujarnya bergetar terus memandang lurus pada garis-garis ikal awan atap kamarku.
“jadi, hiduplah bahagia seperti apa yang kau mau.” Imbuhnya lagi menatapku dalam dan tetap tersenyum.
“ya, apa-apaan kau ini. jangan bicara seolah-olah kau akan mati besok. Percayalah kau akan hidup lama selama ratusan tahun. Bukankah kita hidup dalam satu nafas kehidupan yang tak terpisahkan? Berhentilah mengatakan kalimat-kalaimat keramat itu. kau dan aku akan hidup bersama selamanya, hidup berdampingan dalam damai hingga usia tua. Ingat itu.” ujarku kembali memandang lurus ternit bergambar awan diatasku.
“ya, kau benar! Setidaknya kita memang hidup dalam satu nafas kehidupan. Dan jika suatu hari nanti aku pergi, aku akan hidup selamanya dalam hatimu. Mengiringi tiap jalan sesatmu untuk kembali kepada jalan yang benar milik Tuhan. Ya, itu terdengar menyenangkan!” jawabnya tersenyum mengikuti pergerakanku.
Aku memandangnya sekilas. Kurebahkan tubuhku menghadapi wujud kurusnya, “baiklah, aku hanya akan hidup bahagia berdampingan denganmu. maka berjanjilah padaku kau tak akan pergi mendahuluiku.”
Dia tersenyum kecil dan berbaring menghadapku pula, “aku akan berusaha menepatinya.”
“aigo… tanyata hanya berbicara singkat denganmu cukup melelahkan. Aku ingin tidur Kwang.” Ujar Youngmin singkat membelakangiku.
Kutatap punggungnya nanar yang kini meringkuh membelakangiku. Hari ini aku merasakan sesuatu yang akan membuatku benar-benar kehilangan hatiku. Semua ucapan keramatnya membuatku takut akan kehilangannya. Kehilangan sesuatu yang sudah digariskan Tuhan. Yaitu kematian.
>>>
Kuparkirkan sepedaku tepat di bawah kerindangan satu-satunya pohon sakura yang tumbuh tegap di lahan parkiran sekolah. Hari ini serasa kembali kemasa itu. masa sepi dimana hanya ada aku yang selalu saja mengayuh sepeda sendiri ke sekolah tanpa Youngmin bersamaku. Ya, karna hari ini ia harus meringkuh, menunggu waktunya tiba untuk segera masuk keruang bedah dan mengganti kerusakan hatinya.
Sirosis. Sebuah penyakit yang telah tumbuh berdampingan dalam tubuhnya. Bagaikan parasite yang dapat membunuhnya sewaktu-waktu jika ia tak segera melenyapkannya. Sebuah parasite yang merenggut sebagian besar kebahagiannya. Yang perlahan mengiskis senyuman manis bibirnya. Yang juga membuatku terganggu, dipenuhi dengan rasa was-was jika suatu hari nanti ia pergi karna penyakitnya itu.
“Kwang-ah…!” seru seseorang membuyarkan lamunan pagiku. Aku berbalik. Kudapati Youngmin berjalan cepat menghampiriku.
“ya, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah hari ini kau harus ke rumah sakit?” ingatkanku. Dia mendekatiku dan mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. Disodorkannya kotak kecil manis itu tepat di hadapanku.
Aku menatap heran kotak biru itu, “apa ini?”
“sonmul. Saengil chukkaeyo Kwang-ah…!” seru Youngmin tersenyum cerah dalam wajah pucatnya. Aku memandangnya dalam. Tak pernah terbesit dalam otakku dia akan datang di hari pentingnya hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan memberiku hadiah. Aku bahkan lupa jika hari dimana ia akan menjalani operasi bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
“ne, nado chukkayeo!” balasku singkat menggapai kotak biru dalam genggamannya.
Kubuka kotak kecil berpita emas itu. sebuah papan nama yang biasa ia kenakan. Papan nama yang selalu terpajang rapi menempeli jas almamaternya. Papan nama mika yang dengan jelas terukir nama Jo Youngmin di sana.
“apa ini?” tanyaku heran mengusap perlahan papan nama itu. Youngmin meraih papan namanya dan mengganti papan namaku dengan hadiah yang ia berikan padaku.
“Kwang-ah!” serunya. Aku mendongak memperhatikannya yang tersenyum manis dengan pancaran aura yang berbeda pada pucat pasi wajah tampannya. Dia mendekatiku dan menghancurkan jambul berhargaku.
“ya, apa yang kau lakukan!” kusingkirkan tangannya yang masih sibuk mengacak-acak rambutku.
“diamlah!” titahnya yang hanya bisa aku turuti. Dia masih sibuk menurunkan jambulku dan membuat poni yang menutupi sebagian dahiku, serupa dengan poni yang selalu bertengger di kepalanya.
“hari ini, jadilah Jo Youngmin dan berkencanlah dengan Naeri.”
“mwo?” mataku membulat kaget mendengar ide gila yang ia katakan barusan.
“aku sudah berjanji pada Naeri untuk berkencan dengannya hari ini. aku tak ingin mengecewakannya, tapi karna operasi hari ini aku jelas tak dapat pergi kemanapun bersamanya. Jadi kumohon jadilah Jo Youngmin pada hari ini dan seterusnya jika aku tak dapat bertahan pada operasi hari ini.” jelasnya membuat jambul kecil pada poni rapihnya.
“shireo!” tolakku spontan, “Aku tak ingin ikut campur dalam hubungan kalian. Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia adalah yeojachingumu. Dia berhak mengetahui keadaanmu yang sesungguhnya. Jika ia tulus mencintaimu ia akan tetap di sisimu tak perduli bagaimanapun keadaanmu.”
“bukan itu yang aku takutkan. Aku hanya tak ingin melukainya dengan cara seperti ini. Aku tak ingin dia terus terlarut dalam kesedihan melihatku harus berhenti melanjutkan perjalanan kehidupan ini dan kembali ke sisi Tuhan. aku tak akan memaafkan diriku jika sepanjang hidupnya ia terus menangis dan menutup dirinya. Lebih baik dia terluka dan membenciku. Karna kebencian itulah yang akan membuatnya lebih cepat menghapusku dalam hidupnya.” Jelasnya menatapku dalam. Kilatan matanya seolah memaksaku untuk memenuhi keinginannya.
“shireo! aku tak akan bisa melakukannya. Kau sendiri yang memintaku untuk berhenti mengalah untukmu.” Tolakku berbalik tak memperhatikannya, “jangan paksa diriku melakukannya.” Imbuhku.
Bagaimana aku bisa bertahan di sisinya walaupun hanya sehari. Melihat senyumnya sepanjang hari hanya karna ia berfikir aku orang lain. Hatiku tak akan bisa bertahan merasakan kebohongan yang akan aku ciptakan. Dan apa mungkin aku sanggup menjadi Jo Youngmin yang sempurna jika ia benar-benar tiada. Menggantinya dan melukai gadis yang aku cintaipula.
“jebal. Kumohon kabulkan pemintaanku. Ini mungkin akan menjadi permintaan terakhirku Kwang. Jebal!”
“shireo.” Tegasku kembali berbalik memperhatikan tatapan sendu penuh permintaannya, “sudah berapa kali aku katakan jangan pernah mengatkan kalimat-kalimat keramat itu. percayalah kau akan bertahan di sana. kau akan tetap hidup. Dan aku tak perlu menjadi Jo Youngmin seperti apa yang kau minta dan aku tak perlu menyakiti Naeri ataupun aku harus …”
“tak ada yang tahu sepanjang apakah umur seseorang. Aku pasti akan sangat bersyukur bila aku dapat hidup lama bersamamu. Dan aku juga tak akan menyesesali kehidupan yang telah Tuhan ciptakan meski aku harus hidup singkat bersamamu. Jadi kumohon kabulkanlah permintaanku ini.” pintanya lagi terus meyakinkanku.
“Naeri-ah…!” seru Youngmin memanggil gadis manis yang baru saja tiba, memasuki arena parker luas ini. kubuang wajahku tak menatap mereka. aku hanya tak ingin memulai kebohongan meskipun ini adalah apa yang Youngmin inginkan.
“kumohon, buatlah dia bahagia hanya untuk hari ini saja bersamamu.” Bisik Youngmin perlahan.
“saengil chukkayeo!” ujar Naeri ketika tepat berada dihadapan kami berdua.
“Kwangmin-ah!” serunya membuatku secara spontan berbalik menatapnya. “apa yang kau lakukan dengan baju seperti ini. apa kau akan membolos lagi, eoh?” tanyanya memperhatikan wajah Youngmin.
“aigo… ada apa dengan wajahmu? apa kau baik-baik saja? Apa yang telah kau makan hari ini hingga membuatmu sepucat ini? apa kau tidak tidur nyenyak semalam? Atau karna kau terlalu lelah mengayuh sepeda hingga seperti ini?” tanyanya lagi. Dia kian mendekat dan mendaratkan punggung tangannya pada dahi Youngmin yang ia kira adalah aku.
Mataku tak henti perpendar menatapnya. Serasa ada sesuatu yang membuatnya tak seperti biasanya. Sikap perhatiannya yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Apakah benar yang kulihat hari ini adalah dia? Siapakah yang sesungguhnya ia lihat saat ini? mungkinkah ia memang akan mengkhawatirkanku bila aku sepucat Youngmin saat ini? ataukah ini hanya sebuah intuisi seorang gadis yang tak dapat dibohongi bagaimanapun juga?
“aniyo. Nan gwanchana. Kau hanya berlebihan.” Balas Youngmin menghindari tangan Naeri yang hampir menyentuh dahinya, “Young-ah, aku pergi dulu.” Pamit Youngmin meninggalkan Naeri dan aku yang masih saja berfikir apa yang akan aku lakukan hari ini untuk menjadi Jo Youngmin seperti apa yang ia inginkan.
Aku masih saja terdiam dan beranjak meninggalkannya. Namun tangan kecilnya lebih cepat menangkap pergelangan tanganku, “non gwanchanayo?” tanyanya memotong pandanganku dan berganti memeriksaku. Aku hanya membuang wajahku untuk menghindari kontak mata beningnya.
“apa kau marah karna aku memperhatikan Kwangmin, eoh?” tanyanya hati-hati menyimpulkan. Aku menatapnya heran. Sungguh hari ini aku serasa benar-benar tak mengenalnya. Maksudku, apa dia benar-benar tak sadar bahwa namja yang berdiri di hadapannya ini adalah aku. Jo Kwangmin. Seseorang yang jelas-jelas bukanlah namjachingunya.
Aku masih saja terdiam bergelut dengan pemikiranku. Berharap akan datang sebuah ilham yang dapat membantuku untuk menjawab segala pertanyaannya hari ini. aku berbalik menuju sepeda biru yang tak beberapa lama lalu aku rebahkan di sekitar pohon sakura gagah di sampingku.
“naiklah!” ujarku mengisyaratkannya untuk beranjak menaiki sepedaku.
“mwo?”
“bukankah hari ini kita akan berkencan?” jelasku lagi menarik tangannya untuk segera duduk manis di hadapanku yang siap untuk membawanya pergi.
>>>
Aku terus menatapnya yang tak henti berbicara. mengatakan ini itu. segala hal yang telah kuketahui sebelumnya. Segala hal yang terjadi antara aku dan dirinya semenjak kepergian Youngmin ke Jerman akibat dari putusnya hubungan umma dan appa.
Sebuah lecutan kembang api menyeruak kecil dalam hatiku. Hati yang dulu hilang melenyap entah kemana kini serasa kembali lagi. Seolah hujan deras telah membasahi kegersangan hatiku dan menumbuhkan kembali kikisan benih hati yang masih tersisih. Bahkan lecutan kembang api itu bagaikan ledakan atom hirosima dan nagasaki dalam hatiku ketika dengan mudahnya kepala kecilnya itu bersandar di bahuku.
“Youngmin-ah!” serunya memanggilku dengan sebutan Youngmin. Segera kububarkan lamunanku dan memandang lurus riak sungai han di tengah malam bercahayakan kerlap-kerlip lampu malam di sepanjang sisir sungai han itu.
“hemm” balasku berdehem,
“kurasa hari ini adalah kencan terbaikku semenjak kau menjadi namjachinguku.”
“benarkah?”
“ne…! entahlah mungkin karna hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunmu. atau mungkin ini hanya perasaanku saja yang merasa kau begitu berbeda dengan sebelumnya. Aku merasa menemukan sesuatu yang telah hilang darimu. Dan taukah kau hari ini kau terus mengingatkanku pada Kwangmin.” Jelasnya menyandarkan tangannya di punggung kursi taman dan menatapku penuh perhatian.
“bukankah setiap hari aku memang seperti ini?” elakku mengalibi.
“ani. Ini jelas berbeda. berkencan dengan sepeda Kwangmin seperti hari ini mengingatkanku ketika kau mengantarkanku pulang waktu itu. lucu sekali tiap mengingat itu.” kekehnya membayangkan sesuatu yang tak dapat kubayangkan pula.
“waktu itu? kapan aku mengantarkanmu pulang?” tanyaku innocent
“apa kau lupa?” tanyanya heran menuntutku untuk mengingat masa yang tak aku jalani. Memaksaku untuk mengingat memori seseorang yang jelas-jelas tak ada diriku pada hari itu, “sudahlah lupakan saja.” Ujarnya kemudian. Dia kembali keposisinya semula. Duduk manis memandang ketenangan sungai han dengan wajah kusut 8 lipatan.
“emm, Naeri-ah!” panggilku. Dia hanya berdehem menjawab panggilanku. Tangannya tak henti bergerak diatas lututnya. Hal yang biasa ia lakukan bila kemarahan tengah bertengger di kepalanya.
“Naeri-ah, sejak kapan kau menyukaiku?” tanyaku membuka topic baru setelah sukses mengahancurkan topic yang ia buat.
“sejak hari itu. hari yang tak pernah kau ingat.” Jawabnya ketus tak menggubrisku.
Kubuang nafasku perlahan, “apa aku menyebalkan?” tanyaku frustasi melihatnya marah karna sebuah hari yang benar-benar tak dapat aku ingat. Sepertinya aku mengerti mengapa Naeri lebih menyukai Youngmin daripada diriku. Ya, itu pasti karna Youngmin lebih pintar dariku. Setidaknya dia dapat mengingat dengan benar kenangan apa saja yang pernah mereka lalui.
“ani. Aku hanya tak habis pikir. Apa kenangan masa kecil kita tidak berharga? Mengapa kau tak pernah bisa mengingat hari itu?” protesnya. Kurasa opiniku beberapa detik lalu salah. Sekarang yang memenuhi otakku adalah kenangan macam apakah itu hingga Youngminpun tak dapat mengingat hari yang mungkin berharga untuk dilupakan bagi Naeri.
“sepertinya memang aku yang terlalu menyukaimu daripada kau yang menyukaiku.” Imbuhnya bangkit meninggalkanku. Membuat otak standardku bekerja cepat menangkap reaksinya yang sepertinya tak senang karna aku memang tak dapat menangkap maksud memorinya.
Kukayuh sepedaku mengejarnya. Menghentikan langkahnya dan memintanya untuk segera naik, “mianhae!” pintaku.
Dia memandangku sejenak lalu melanjutkan langkahnya, “hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah kembali setelah sembuh dari cacar dengan bekas bintik-bintik yang memenuhi kulitku. Ya hari yang sama dengan pertama kali aku mengenalmu dan Kwangmin. Ketika semua orang menjauhiku karna cacar itu, hanya kau yang tak risih untuk mendekatiku. Bahkan kau tak segan-segan untuk mengantarkanku pulang. sejak itulah aku menyukaimu.” Jelasnya terus berjalan.
Aku terdiam di tempat. seketika bayangan hitam putih seolah berpendar di hadapanku. Dengan jelas aku dapat membayangkan bagaimana wajah manis Naeri kecil yang di penuhi dengan spot cacar dan bocah kecil bermata bulat yang begitu ia sukai.
“Naeri-ah…!” panggilku lagi. Dia berhenti dan berbalik menatapku.
“mwo? Apa kau ingat sekarang?” aku menggeleng, “ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Naiklah, kau harus tahu itu.” titahku menyeret tangannya untuk menurutiku menaiki sepeda biru kesayanganku ini.
>>>
Naeri terduduk lemas memeluk lututnya di depan sebuah ruangan serba putih dengan sebuah kaca bening menyekat kami dengannya. Wajahnya seketika memucat melihat tubuh kurus berselang infus dan segala perangkat penyambung nyawa tertancap pada tubuh ringkuh kekasihnya yang berjuang hidup di dalam sana. orang-orang berbaju hijau itu berkali-kali menyengatkan listrik bertekanan tinggi untuk memacu daya jantungnya.
Umma menghampiri satu dari orang berseragam hijau itu yang keluar dengan kucuran keringat di dahinya. Ia melepaskan kacamatanya dan mengusap cairan bening dari matanya. Ia menatap umma dalam penuh penyesalan. Sebuah ekspresi yang cukup menjelaskan apa yang telah terjadi di dalam sana. sebuah ekspresi yang kurasa akan menghancurkan kami semua yang menunggu kepastian hidup Youngmin di tangan mereka.
“bagaimana keadaannya. Apa dia baik-baik saja? Katakan padaku jika ia akan tersenyum kembali. Katakan dia dapat berlarian kembali seperti Kwangmin. Katakan dia akan baik-baik saja.” Pinta umma meremas kerah baju dokter itu.
“mianhamnida. Kami tak dapat melawan takdir Tuhan hari ini.” Jawab dokter itu menunduk pasrah.
“Youngmin-ah…” tangis umma terpecah berhamburan memasuki ruang operasi dan memeluk Youngmin yang telah terbujur kaku tanpa detakan jantungnya lagi. Terbaring lemah tanpa ada hembusan nafasnya lagi.
Appa mendekat. Mencoba meraih bahu umma dan menenangkannya dalam pelukannya. Aku hanya dapat mematung melihat Youngmin yang telah pergi mendahuluiku. Pergi begitu saja dan melanggar janjinya.
Jo Youngmin, buka matamu. Katakan kau baik-baik saja. Ingat hari ini hari ulang tahun kita. Lihatlah umma yang begitu terluka kehilanagnmu. Kehilangan anaknya yang telah hidup lama bersamanya. Kehilangan seorang anak yang telah ia perjuangkan 18 tahun lalu di meja operasi untuk melahirkanmu. Teganya kau meninggalkannya dengan cara seperti ini. teganya kau membiarkan airmatanya habis untuk menangisimu. Ya Jo Youngmin, bukalah matamu dan minta maaflah pada umma karna kedurhakaanmu yang meninggalakn kami semua.
Ya, Jo Youngmin. Apa yang kau lakukan? Bangunlah sekarang dan lihat siapa saja yang menangisimu hari ini. ya, babo namja. Ayolah Youngmin, bangun dan pukullah aku karna aku membawanya kemari. Bangunlah dan usap airmatanya. Usaplah selagi aku masih merelakanmu bersamanya. Ku mohon bangunlah! Jangan tinggalkan kami dengan cara seperti ini.
>>>
Aku berlari sekuat tenaga menuju bangunan tua tempatku berkeluh kesah. Terus berlari meninggalkan panggilan orang-orang yang memintaku untuk kembali. Terus berlari menghindari pemandangan pilu yang mengiris ulu hatiku. Hanya salib raksasa yang terpajang di sana yang membuatku mau untuk berhenti berlari.
Aku bersimpuh menagis dalam duka. Aku bersimpuh meminta-Nya mengembalikan Youngmin padaku. berharap patung itu bangun dan tersentuh. Sudi untuk membelai penuh kasih puncak kepalaku. Tak risih untuk menenangkanku dalam sendu tangisku.
Sentuhan kecil mendarat di bahuku. Seseorang dengan tenang meremat halus bahuku mencobat untuk menenangkanku. Aku menoleh melihatnya. Seorang wanita ayu yang menatapku khawatir ingin tahu.
“suster tolong aku…! Aku ingin ia kembali. Kumohon bantulah aku meminta pada-Nya mengembalikan Youngminku!” pintaku bersujud padanya meremat jemarinya. Wanita itu menunduk menyamakan posisinya denganku.
“apa yang dapat dilakukan seorang biarawati sepertiku ”
“bantulah aku meminta Youngmin kembali. Sudah ribuan kali aku meminta namun hingga jasadnya terkubur dalam tanah tak ada tanda-tanda dia akan kembali. Mungkin Tuhan tak mau mendengar doa seorang pendosa. Jadi kumohon bujuklah Dia. Tolong katakan aku ingin Youngmin kembali. kumohon, ini adalah permintaan terakhirku. Aku tak akan lagi datang hanya untuk melihat-Nya dari luar. Aku tak akan lagi meragukan Kekuasaan dan Keadilan-Nya. Jika Tuhan meminta imbalan, katakan padanya aku siap memberikan apapun yang Dia minta. Katakan aku rela jika harus menukarkan nyawaku dengannya …” ujarku tercekat melemas dalam tangannya.
Suster itu memandangku risau dan menarik nafas dalam. “kematian adalah takdir Tuhan yang nyata. Tak ada seorangpun di dunia ini yang dapat dengan mudah mempermainkan kematian hanya dengan sebuah doa.”
“tapi aku…”
“setiap manusia di dunia ini lahir, hidup dan bertahan di dunia pasti akan berakhir dengan kematian. Tak ada seorang pun yang dapat kekal berjuang untuk hidup di dunia ini. tak ada. Kitapun tak tau kisah apa yang tersembunyi dari kematian seseorang di dunia ini. ingatlah, apa yang terjadi hari ini adalah hal terbaik dari rencana Tuhan.” Jelas suster itu terus menenangkanku.
“tapi mengapa bukan aku saja yang pergi terlebih dahulu. Toh tak akan lebih banyak air mata berjatuhan hari ini.”
“jika kau pergi terlebih dahulu, mungkin Youngminlah yang menangis di hadapan Tuhan saat ini dan meminta hal yang serupa. Taukah kau bahwa hidup untuk orang yang telah meninggal jauh lebih baik daripada meninggal untuk orang yang masih hidup?”
“mwo?”
“ada banyak hal yang dapat kita syukuri dalam dunia ini. salah satunya memiliki cinta dan masih diberi kesempatan untuk hidup dan mencintai mereka yang telah tiada. Anugrah terbaik yang Tuhan berikan adalah anugrah kehidupan yang dapat dengan nikmat kita rasakan. Tak ada satu orangpun di dunia ini yang meminta kematian menghampirinya. Terkecuali bagi mereka yang memang tak dapat mensyukuri kenikmatan hidup. Meninggal bukanlah pilihan mereka. melainkan suatu keikhlasan untuk kembali kepada-Nya. Maka hiduplah sebaik mungkin seperti harapan terakhir mereka bagi kita. Hiduplah sebaik mungkin demi orang-orang terkasih kita yang telah pergi untuk melanjutkan perjalanan hidup kekal di dunia ke dua.”
Aku menatapnya sendu berharap apa yang dikatakannya adalah kekuatan baru yang akan membuatku lebih baik. Ya, Youngmin memang telah melanggar janjinya, setidaknya aku memang harus menepati janjiku padanya. Sebuah perjanjian yang memintaku untuk hidup bahagia bagaimanapun caranya.
>>>
100 hari pasca masa berkabung. Aku berdiri sendiri menatap nisan di hadapanku. Menatap marmer hitam berukirkan nama seseorang yang amat kurindu. Seseorang yang selalu kunanti hadir dalam tiap mimpiku. Seseorang yang kuharap selalu bersamaku dalam tawa dan duka. Huhft, sayangnya kini aku harus berjalan sendiri. menapaki lika-liku perjalanan hidup ini. hanya dapat sesekali menyapanya ketika rindu begitu menggebu-gebu akan kehadirannya.
Aku berbalik menggapai sepedaku yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri setelah puas bertegur sapa dengannya. Kulihat seorang gadis berdiri tegap di samping sepedaku. Menatapku sendu diiringi dengan hembusan lembut sepoi-sepoi angin musim panas. Dia tersenyum melihatku.
“apa kau merindukannya?” tanyanya ketika aku melewati tubuh kurusnya.
“tak hanya rindu. Aku sangat merindukannya.” Jawabku seadanya.
“Kwangmin-ah!” tegurnya lagi menghentikan langkahku.
“tak bisakah kita seperti dulu?” imbuhnya lagi memotong jalanku. Kini ia tepat berada di hadapanku.
“mwo?”
“tak bisakah kau menjadi Kwangmin yang selalu bersamaku? Aku merindukanmu. Merindukan Kwangmin yang dulu, sebelum ada Youngmin dalam hidupku.” Akunya menunduk tak menatapku.
Aku menatapnya dalam yang terus tertunduk menahan tangisnya. Dapat aku rasakan kepingan kehilangan dalam ucapannya. Kehilangan seseorang yang terus membayanginya selama ini. seseorang yang tak ia akui kehadirannya. seseorang yang tak pernah sepenuhnya ia lihat.
Aku mendekat, “Naeri-ah!” seruku mendongakkannya, “minta maaflah pada Youngmin yang kau anggap tak pernah bisa mengingat kenangan berhargamu.”
“mwo?” aku menghela nafas pelan, kuletakkan kalung tali yang selama ini membelit tanganku dan mengikatkannya pada tangan kurusnya.
“9 tahun lalu, untuk pertama kalinya aku merasa kasihan pada seorang gadis yang terkucilakan karna sebuah sakit biasa yang dianggap menjijikkan. Untuk pertama kalinyalah aku menegurmu. Dan dengan ragu aku menawarimu untuk pulang bersama. Taukah kau, ketika untuk pertama kalinya kau memegang pundakku, aku merasakan sesuatu yang tak pernah dengan fasih dapat kujelaskan lewat tutur kata. Untuk pertama kalinya ada guncangan hebat di dadaku ketika aku bersamamu. Dan dari itulah kebohongan kecil kuciptakan. Karna aku takut kita tak dapat berteman, dan nama youngminlah yang terbesit di otakku ketika ibumu bertanya siapakah aku. Dan ini, kalung talimu yang terjatuh di sepedaku waktu itu.” jelasku mengenang kisah 8 tahun lalu.
“seseorang pernah mengatakan bahwa aku harus hidup bahagia dan berhenti untuk terus mengalah padanya. Karna itu kurasa aku harus mengatakan ini padamu. Tak perduli siapakah yang sebenarnya kau sukai, dan jauh sebelum Youngmin datang dan mengatakan hal yang sama, Kang Naeri, aku menyukaimu.”
Naeri tertegun diam menatap kalung tali dalam genggamannya. Otaknya mencerna kata demi kata yang kuucapkan padanya. Kata-kata pengakuan yang seharusnya aku katakan sedari dulu. Aku hanya tersenyum kecut melihat ekspresi keterkejutannya. Sebuah ekspresi yang sudah kutebak sebelumnya bahwa ia tak akan membalas perasaanku. Tak akan pernah.
Kutuntun sepedaku menjauhinya. Namun belum sempat aku melangkah, seseorang meremat ujung blazer almamaterku. Yang dengan spontan menghentikan langkahku.
“ingatkah kau ketika aku mengatakan bahwa hari itu adalah kencan terbaikku? Dan ingatkah kau bahwa hari itu aku selalu teringat dirimu? Kwangmin-ah, mungkin kau akan berfikir aku bukan gadis yang baik karna dapat dengan mudah melupakan kekasihnya. Ya, itu memang benar karna pada kenyataannya Youngmin yang selama ini aku lihat adalah dirimu. Youngmin yang kuanggap seseorang yang berhati baik menolongku. Hatiku selalu memintaku untuk mengakui bahwa bayang-bayang Kwangminlah yang aku lihat. Karna satu hal kecil yang susah kujelaskan dan kini kumengerti. Ya, karna yang sebenarnya kusukai adalah Jo Kwangmin. Bukan Jo Youngmin.” Ujarnya membuatku berbalik melihatnya yang tengah menatapku dalam penuh harapan.
Dia mendekat dan perlahan memelukku. Kurasakan buliran-buliran bening jatuh merembes membasahi kemejaku. Dia terisak dalam pelukanku.
Sebuah bayangan putih transparan dengan wujud seseorang berwajah sama denganku tengah tersenyum bahagia di hadapanku. Kutangkap pergerakan kecil bibirnya yang seolah mengatakan, “mian, aku tau kau mencintainya, namun justru merebutnya darimu. Hidup bahagialah bersamanya. Dia juga mencintaimu, begitu dalam melebihi kasihmu padanya.” Aku tersenyum membalasnya. Perlahan bayangan itu memudar dan menghilang diantara jutaan bayangan yang membias di hadapanku.
“nan saranghaeyo!” bisikku perlahan membalas pelukannya. Terima kasih Youngmin.








-----------END----------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar