Kamis, 17 April 2014

Lost in Pathos (1/2) - BTS Fanfic


FF/LOST IN PATHOS/BTS/ROMANCE/TWOSHOOT
TITTLE                                   : LOST IN PATHOS
AUTHOR                              : Anak Timun (@noninodi)
MAIN CAST                         : KIM SEOKJIN
                                                CHO YUNJI (OC)
           JOON JUNGKOOK
GENRE                                  : ROMANCE-ANGST, BROTHERSHIP, SCHOOL LIFE
LENGTH                                : THREESHOOT
RATING                                 : General / PG-15,
BACKSONG                         : BTS – Boy in Luv
           BTS – Haruman (Just One Day)
SUMMARY                            : setiap orang memiliki titik perubahan dalam diri. Yang dapat mengubah wajah, perilaku, sikap bahkan perasaannya seiring dengan perubahan masa. Sekalipun waktu terus bergulir, musim terus berganti, tepat pada puncak musim dingin itu hatiku turut membeku, kau tetaplah dirimu dan aku tetaplah diriku. Sekeras apapun aku mencoba, aku tak dapat memusnahkan perasaanku. Karena pada titik aku berangsur menjadi seorang namja, di sanalah titik keterlambatanku menyadari bahwa seutuhnya kau adalah seorang yeoja.

Declimer                        : all cast and rule of this story is mine. kim seokjin sama joon jungkook milik diri mereka sendiri, keluarga, agency dan fandom Army. cho yunji just an original cast who was lucky to be a rule of my story :D kkk xD. Lost in Pathos milik Timun. Bangtan milik Army, Boy in Luv milik BigHit :D

Timun Says                    : yeorobueeennn...! annyeong ^^! officially author labil blog ini nemuin jati dirinya sendiri :D yuhuuu T.S.A yang dulu sekarang berubah nama jadi Anak TIMUN :D kkk. oke ff ini ori milik timun sendiri. tercipta setelah melalui proses yang panjang dan penuh liku selama satu minggu menuju Ujian Negara yang Mematikan itu. *Bahasanya* well ff ini terinspirasi dari mv boy in luv-nya BTS yang ngehiiiittsss abeees xD. gw juga ambil beberapa part di mv yang gw masukin di ff ini. tapi ada di part 2 :D oke sekalian promosi, timun rekomen banget baca ff ini sambil dengerin lagu Harumannya BTS. nah,daripada makin ngebacot, silahkan baca ff ini.happy reading :D #NoBash #NoProtes #CommentIsNeeded ^^ #JustMention @noninodi

*PS :                             : maybe there so many typos hehehe ^^V












LOVE IN PATHOS Part. 1/2

28 February 2014, Hwan High School, Pathos Porch at 07.00 KST

Aku menarik nafas dalam. Merentangkan tanganku dan memejamkan mataku sesaat, merasakan hembusan angin terakhir musim dingin. Merasakan dinginnya sisa-sisa embun salju yang mulai mencair.Merasakan kehangatan mentari di penghujung musim. merasakan semerbak wewangian sakura yang mulai bersemi.

Pathos. Tempat indah ini bernama pathos. Entah mengapa di tempat kau dapat melihat mentari bersinar dengan semilir angin yang membuaikan, tempat indah ini justru menyimpan makna kepedihan. Pada saat itu aku belum mengerti.

Pathos. Di beranda ini, aku menyendiri. Di tempat ini aku menatap. Ditempat ini aku bernafas. Di tempat ini aku hidup dan di tempat ini pula aku mati.

Dan lagi, wajah itu kembali merusak pikiranku. Menusuk tepat pada ulu hatiku. Menancap dalam pada jantungku. Ketika sekelebat bayangan semu itu berpendar menggerayangi otakku.

>>> 

FlashbackDecember 2013

Author POV

“hyung…!” seru suara serak dari balik pintu. Ia membuka paksa pintu kecil penghubung lorong dan beranda ini. memaksa seseorang yang tengah tertidur pulas di sana terbangun karena lengkingan suaranya.

Tanpa ba-bi-bu ia menarik-narik manja almamater kakaknya. Tanpa rasa bersalah telah menghancurkan ketenangan tidur siangnya.

Merasa terganggu, si kakak hanya mendesis gemas melihat tingkah menjengkelkan adiknya yang dapat melakukan apa saja untuk membangunkannya.

“mwo?” sahut si kakak meringsut membenarkan posisi nyamannya.

“ah, hyung! Ireona!” geram namja berambut maroon itu masih berusaha membangunkan kakaknya. “HYUNG…!” pekiknya lagi tepat di telinga kakaknya.

“YA!”

“Jin Hyung…!” serunya lagi masih berusaha keras membangunkan hyungnya itu.

Namja yang dipanggil jin itu mengalah. Merasa ketenangan tidur siangnya tak mungkin dapat diperbaiki lagi karena kegaduhan yang dibuat oleh adiknya, ia memilih bangun dan menatapnya.

“mwo?” ulangnya lagi. “appa mengatakan sesuatu lagi padamu?” tebaknya menyandarkan tubuhnya pada dinding pembatas beranda.

“ani.” Gelengnya cepat, ikut duduk bersandar pada pembatas beranda.

“lalu?”

“ah, hyung dengarkan aku!” rengek si adik masih bersuara begitu menyebalkan.

“apa yang perlu kudengarkan? Kau bahkan belum bercerita!” dengus jin benar-benar kesal.

“geu noona!” jin menaikkan sebelah alisnya. Belum sepenuhnya mengerti arah pembicaraan adik semata wayangnya ini.

Jungkook memutar bola matanya menahan sabar. ia dapat menebak bahwa namja tampan di sampingnya ini telah melewatkan lagi kelasnya hari ini. hingga ia tak dapat menangkap maksud kedatangannya.

“katakan dengan jelas!” sahut jin geram.

“keure, kau belum bertemu dengannya?”

“nugu?”

“heol…! Kau benar-benar melewatkan kelasmu lagi hari ini? kau benar-benar belum bertemu dengannya?” ujar jungkook masih berputar-putar. “pantas saja appa tak memperbolehkanku menirumu!” cercanya kemudian.

Jin melempar pandangan tajam mematikan. Seketika membungkam bibir tipis adiknya itu. “arraseo, arraseo! Bukan itu maksudku.” Ralat jungkook merasa bersalah.

“geundae, kau belum bertemu dengannya?”

“jika kau hanya ingin bermain tebak-tebakkan denganku, pergilah! Kau mengganggu tidur siangku.” Ujar jin gemas bersiap kembali pada posisi terbaiknya. Mengatupkan mata dan berpura-pura tak mendengar ocehan menyebalkan adiknya.

“Yunji noona!” sahut jungkook cepat sebelum jin benar-benar terlelap dan tak mendengarkannya. “Cho Yunji.” Imbuhnya lagi mempertegas nama gadis yang sedari tadi telah mengguncang perasaannya.

Jin membatalkan rencana tidur siangnya. Matanya kembali terbuka. Menegakkan tubuhnya dan menghadap jungkook penuh tanda tanya.

Jungkook mengangguk mantap, “dan kau benar-benar tak tahu?”

“eonje? Kapan kau bertemu dengannya?” tanya jin terbangun.

“ckckck…” decak jungkook begitu menyebalakn. “karena itu jangan hanya habiskan waktumu untuk tidur-tiduran saja di beranda sekolah. Sering-seringlah mengikuti kelasmu dan berhenti membolos seperti saat ini.” oceh jungkook mengggurui.

“bahkan seharusnya tak ada lagi jarak di antara kalian berdua. Dan kau belum mengetahuinya? Ck, menyedihkan.”

“YA! Joon Jungkook!”

“hari ini dia dipindahkan kemari.” Jelas jungkook menghadap lurus. “dia satu kelas denganmu hyung! Ia bahkan duduk tepat di depanmu.”

Jin terdiam sesaat. Tak berani berkomentar tentang apa yang diutarakan oleh adiknya. Ia menahan dirinya kuat untuk tidak membuka suara menanggapi kehadiran teman lamanya.

Hening.

“keurom!” jungkook kembali bersuara. Ia bangkit dan merapikan almamaternya. Menghadap ke bawah. Menatap jin yang masih mempertahankan posisi dan kediamannnya. “kau tahu bukan,aku tak akan membiarkannya pergi lagi seperti saat itu?” tanya jungkook retoris.

“jangan lagi usir dia dan membuatnya menangis hyung!” imbuhnya berlalu meninggalkan kakaknya yang masih mematung.

>>> 

“… Fragmentasi Habitat adalah sebuah proses perubahanlingkungan yang berperan penting dalam evolusi dan biologi konservasi, yang dapat disebabkan oleh proses-proses…” suara parau itu menggema memenuhi ruang kelas berpenghunikan 31 orang siswa itu. suara guru tua berkepala botak itu terus berkicau tanpa seorangpun yang mendengarkannya. Hanya sepi senyap dengan wajah-wajah malas yang memenuhi seisi  kelas.

Jin memutar-mutar bolpoinnya. Pandangannya lurus tertuju pada wujud tegap yang duduk manis di depannya. Tak sekalipun kelopakknya berkedip, berhenti memperhatikannya. Matanya terus menelusur ke dalam kenangan lamanya. Mencari dan mencari dimana letak kesalahannya.

“nappeun neo!”
“kau mengacaukan semuanya! Kka!”

Suara tangisan itu berpendar menari-nari di sekeliling kepalanya. Suara tangisan itu lagi-lagi membuatnya bingung bagaimana ia dapat menjadi yang tertuduh. Hingga saat ini ia tak dapat mengerti kejadian itu.

>>> 
Satu Minggu Kemudian, Hwan High School 15.00 KST

Jin terdiam di satu ruangan. Duduk bebas memperhatikan pergerakan teman lamanya yang hingga saat ini tak pernah menatapnya.

Yunji sesekali tersenyum membalas beberapa anak yang menyapanya. Tangannya tak berhenti bergerak memainkan tongkat sapu yang ia gunakan untuk membersihkan kelasnya. Mulai dari sudut depan kelas hingga tepat berada di sudut belakang kelas tempat jin bersemayam.

Jin menjatuhkan gumpalan kertas bertepatan dengan pergerakan tangan yunji yang menyapu kolong mejanya. Menjatuhkannya begitu saja tanpa rasa bersalah.

Yunji meniup poninya. Menahan sabar menghadapi orang asing yang begitu mengganggu kehidupannya. Mencoba bersabar berusaha tak memperdulikannya.

“yunji-ah!” sapa seorang gadis mendekatinya. Diikuti dengan 2 gadis lain yang turut menghampirinya.

“ne?”

“bukankah ini sudah satu minggu?”

“mwo?”

“bukankah ini tepat satu minggu kau bersekolah di sini?” ulang seorang gadis bermata bulat di sampingnya.

“ah, ne maja!” jawabnya disertai senyum.

“kau tidak lupa hari ini bukan?” ingat si gadis berambut merah menyala memain-mainkan ujung rambut ikalnya.

“hari ini?”

“ck,” decak gadis gembul yang pertama menyapa memutar bola matanya. “Kau tidak melupakan kesepakatan kita bukan? Kami telah mempersiapkan semuanya. Kau hanya perlu ikut bergabung.” Yunji nampak berpikir keras. Merasa ragu mengiyakan ajakan teman-temannya. Namun tolakan bukan pula ide yang tepat untuk berbaur bersama tema-teman barunya.

“ne, arrata! Aku akan ikut bersama kalian.”

“brakkk…” suara tendangan menyertai pembicaraan singkat mereka. jin menendang mejanya kasar dan berlalu menabrak bahu yunji secara frontal. Meninggalkan gerombolan gadis-gadis yang membuat telinganya pengang.

“aish… kim seok jin!” geram gadis bermata bulat begitu sebal.

“jinja… ada apa dengan orang itu?” gerutu gadis berambut merah menahan kesal.

“lupakan dia!” sahut gadis bertubuh gempal menengahi, “jadi, tunggu kami di ruang praktikum ipa sepulang sekolah. Arrachi?” imbuhnya lagi meninggalkan gadis cantik bertubuh semampai itu setelah mengiyakan ajakan ketiganya.

“ck, geu namja!”batin yunji ikut kesal.

>>> 

“wasseo?” tegur jungkook masih asyik bermain dengan ponsel mahalnya. Berangsut duduk di lantai beranda. Menempati tempat terbaik jin melarikan diri. Membuat si empunya berdecak sebal melihat singgahsananya telah berpenghunikan seorang namja dan smartphonenya.

“pikyo!”ujar jin dingin menendang kaki jungkook yang terulur bebas menghalangi jalannya. Ia ikut duduk di samping adiknya. Memposisikan dirinya pada tempat terbaiknya merajut mimpi di Pathos beranda.

“otte? Bagaimana menurutmu?” buka jungkook memasukkan ponselnya. “bukankah dia tetap terlihat cantik? Aigo… bagaimana mungkin ia tak berubah sedikitpun?” Puji jungkook mengembangkan senyum bebasnya.                               

Jin tak menjawab. berpura-pura tak mendengar pertanyaan adiknya. “aigo, ini semua karena jadwal latihanku, aku belum sempat menyapanya. Apa menurutmu ia masih mengenaliku?” Ocehnya lagi skeptis.

“haruskah aku memperkenalkan diriku lagi?” pikirnya masih belum mendapat jawaban dari kakaknya, “Atau mungkin aku harus mengajaknya berkencan?” imbuhnya.

Jin membuka matanya. Menoleh, memperhatikan adiknya yang tengah bergelut pada dunia fantasinya, “otte hyung? Menurutmu apa yang harus kulakukan?”

“molla.” Jawab jin seadanya.

“YA! Hyung!” pekik jungkook kencang.

“aish… bocah ini.” jin mendengus kesal, “lakukan apapun yang kau inginkan! Dan jangan datang lagi kemari!” usir jin tak senang.

“ck, shireo.” Tolak jungkook menarik kakinya, “hyung, apa menurutmu ia mengingatku?” tanyanya lagi.

“apa yang ingin kau dengar?” balas jin hendak mengatupkan lagi matanya.

“aish hyung! Aku benar-benar bertanya padamu.”

“menurutmu apa yang dapat membuatnya mengingtamu?” balas jin apatis.

“molla.” Gumam jungkook melemas. “aku tak pernah satu kelas dengannya. Dia jelas-jelas berada di atasku. Ck, menyebalkan sekali, mengapa ia harus satu kelas denganmu dan tak pernah satu kelas denganku?” Gerutunya mengerucutkan bibir.

“saat-saat aku bersamanya hanya pada saat persiapan pentas malam natal itu. Aku ragu apa dia masih mengingatku sekalipun aku mengingatkannya. Bagaimana menurutmu?”

“molla.”


“hyung!” lagi-lagi jungkook memekik.

“aku benar-benar menyukainya hyung. Neomu joahae!” akunya. “apapun yang terjadi, aku akan melindunginya. Aku akan menjadi seorang namja di matanya. Akan kubuat dia jatuh cinta.” Ujar jungkook membulatkan tekatnya.

Jin hanya tersenyum tipis di sudut bibirnya sambil memejamkan matanya.

>>> 

Hwan High School, Science Laboratory at 19.30 KST

Yunji kembali melihat jam di tangan kirinya. Entah sudah ke berapa kalinya ia melihat jam tangan hitamnya. Memastikan waktu yang telah berlalu begitu lambat. Ketika ke tiga teman barunya tak juga menampakkan diri menemuinya.

Koridor utama telah sepi. Hanya ada suara dering serangga yang menemaninya. Tak jarang pula beberapa nyamuk berdengung menggoda telinganya. Serta lampu neon yang menyala seadanya. Di sudut koridoritu ia terus menunggu.

sreeekk… sreeekk… sreekk…”  sesekali suara gesekan daun mengganggunya. Menimbulkan hawa horror di sekitarnya. Ia mencoba tetap tenang mengabaikan semuanya. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya.

sreeekk… sreeekk… sreekk…” Deg. Lagi-lagi suara itu semakin gencar mengganggunya. Sekeras apapun ia mencoba mengabaikan gangguan itu, ketenangannyapun mulai tumbang. Suara itu menuntunnya kembali mengingat cerita mistis yang menerornya.

Seorang namja bertangan martil berjalan goyah menyeret korbannya. Kedua tangannya di penuhi darah. Aromanya tajam menusuk. Wewangian aneh bercampur dengan anyir nanah. Bahkan derap langkahnya selalu diikuti oleh suara tangisan meronta para korbannya. Ketika sampai di ujung koridor, daun-daun akan bergoyang ketakutan. Menimbulkan suara gesekan yang membuatmu membeku seketika. Dan di saat itulah kau tak akan bisa lari dari sergapan mautnya.

Yunji menggeleng-gelengkan kepalanya. Menepis segala rasa takutnya. Tetap berusaha tenang. Sekalipun suara gesekan daun-daun itu membuatnya tak berkutik.

Derap langkah mulai terdengar memecah kesunyian. Matanya membulat sempurna. tangan kanannya mencengkram kuat dada kirinya yang berdebar hebat saking takutnya. Nafasnya mulai tersengal tak beraturan. Dengan segala keberanian yang tersisa ia mencoba bangkit memastikan sekelilingnya. Dan…

“omona!” pekiknya terkejut.Seorang namja tampan bertubuh tinggi tegap mengejutkannya. Memandangnya dingin seperti biasa.

“ka.. kau…?”

Jin masih diam dalam posisinya. Menelusuri wajah pucat gadis cantik bermarga cho itu. lalu menghela, “apa kau begitu bodoh?” ucapnya kemudian.

“mwo?”

“bagaimana bisa seorang gadis dapat dibodohi semudah itu?” jelas jin melirik bangku panjang di depan ruang praktikum ipa. Yunji ikut menoleh. Memperhatikan arah pandang namja jakung di hadapannya.

“apa maksudmu?”

“kau masih ingin menunggu mereka semalaman?”

“eoh?” Yunji membulatkan bibirnya sempurna. seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. “apa kau baru saja menawariku pulang bersama?” tanyanya memastikan.

“terserah.” Balasnya melangkah. Yunji mengikutinya. Berjalan tepat di belakang namja itu tanpa bersuara. Mengikutinya menyususuri koridor sepi yang begitu mencengkam. Sesekali ia menarik ujung jaket kulit jin ketika suara gesekan-gesekan daun kembali menakutinya.

“sampai kapan kau akan terus menempeliku?”

Yunji melepaskan cengkraman tangannya. menepis beberapa helaian rambutnya yang bergelayutan di sekitar dahinya. Mengatur dirinya sebelum mengucapkan terima kasih pada namja yang menghampirinya di tengah ketakuatn yang teramat sangat.

“gomapta!” ujarnya tersenyum kaku.

“apa kau benar-benar cho yunji?” batin jin tak lepas memperhatikannya.

“naneun cho yunji imnida.” Seolah mendengar suara hati jin, yunji memperkenalkan diri pada namja beralis tebal di hadapannya.

“apa aku menanyakannya?” sindir jin dingin.

Seolah menelan pil berukuran super yang terasa begitu pahit, yujin menahan sabar masih mempertahankan senyumannya. “ani. Tapi kurasa aku harus tetap memperkenalkan diri. Bukankah kita tak pernah bertegur sapa sebelumnya? karena itu…”

“jangan lagi menyapaku. Itu lebih baik.” Potong jin mengambil satu langkah di depan yunji.

“ah, maja!” jawab yunji menyudahi senyumannya. Terdiam beberapa saat menelan pil raksasa yang disumpalkan ke mulutnya.

“jangan mudah mempercayai ucapan orang yang baru kau kenal.” Ujar jin masih pada tempatnya.

Yunji menoleh menatap punggungnya, “kau tak pernah berubah sedikipun.” Gumam jin masih terdengar jelas. Melangkah pasti meninggalkan gadis itu seorang diri di depan gerbang Hwan di pertengahan malam.

Menyisahkan gadis cantik itu dengan puluhan tanda tanya yang melayang-layang di kepalnya, “tak pernah berubah?” ulangnya mengerutkan dahi. “eonje?”

>>> 

Hwan High School, 3-7 at 07.30 KST

“yunji-ah!”

“cho yunji!” koor suara 3 sekawan itu memenuhi telinga. Mereka berbondong-bondong menghampiri tempat persinggahan gadis cantik berlesung pipi.

“otte?”

“apa yang kau lihat?”

“apakah namja martil itu menampakkan diri?”

“apa kau berhasil merekamnya?”

“apakah dia benar-benar berbau nanah?”

“apa kau melihat wajahnya?”

“dimana namja itu memegang palunya? Di tangan kanan atau kirinya?” berbagai pertanyaan menyerbunya. menanyakan ini itu yang tak ada sangkut pahutnya dengan keadaannya.

“eopta.” Jawabnya ringan menampakkan senyumannya. “tak ada yang datang semalam.” Imbuhnya lagi memmbuat mereka meringsut malas mendengar kelanjutan ceritanya.

“heol!… apa-apaan ini?” omel gadis berambut merah.

“aish… ahjussi itu lagi-lagi menipu kita.”

“jinja, ini semua karenamu, aku kehilangan uang 100,000 wonku.” Dengus gadis bermata bulat itu.

“aish… jinja! Akan kubuat perhitungan dengan cenayang busuk itu. aigo…” racau seorang lagi.

“omo omo…!” pekik beberapa gadis berkerubung di depan kelas.

“aigo… kyeopta!”

“aigo… bukankah itu joon jungkook dari kelas 1-3?” sayup-sayup terdengar bisikan gemas para gadis menyambut kedatangan namja tampan berwajah imut yang menggemparkan seisi kelas. Yunji ikut menengok. Memperhatikan kerumunan yang terbentuk. Mencari celah dari tempatnya duduk untuk melihat siapa yang berdiri di sana.

“aku dengar dia adalah seorang trainee. Omona neomu kyeopta!” gadis gembul itu bergidik gemas.

“benarkah?” sahut seorang gadis berpita merah mengikuti obrolan mereka.

“eoh. Apa kau tak melihatnya menari di festival tahunan sekolah kemarin? Dia yang terhebat.” Jelas gadis gembul mengawali gosipnya, “aku dengar dia juga diperebutkan beberapa agensi ternama.”

“jinjayo?” gadis itu ternganga tak percaya.

“aku juga mendengar, bahwa seorang coordi noona menawarinya mengikuti casting setelah melihat vidio-vidionya menariyang diunggah di akun youtubenya. Noona-noona itu terus mendatanginya. Terus meyakinkannya untuk mengikuti casting di perusahaan tempatnya bekerja.” Jelas gadis berambut merah turut membanggakannya.

“geu… daebak…!” sahut gadis bermata bulat dan berambut merah bersamaan.

“keuge, apa yang ia lakukan di sini?”

Tak berselang lama, namja yang menjadi bahan obrolan mereka itupun terlihat. Tersenyum menawan ketika tepat berada di hadapan gadis cantik berambut lurus panjang yang menjadi pusat perhatiannya. Menatapnya dalam penuh isyarat. Yunji yang merasa diperhatikan, membalasnya dengan senyum dan tatapan tak mengerti pula.

“noona, annyeong!”

“MWO…?” seketika suara koor berjamaah kembali terdengar menggelegar. Memenuhi seisi ruangan dengan penuh keterkejutan. Ketika seorang trainee tampan yang menjadi pujaan, melemparkan senyum menawan kepada gadis asing yang tak terkenal. Semua tercengang. Tidak untuk jin yang telah menafsirkan kapan kejadian ini datang.

>>> 

Hwan High School, Cafetaria at 12.00

“cha!” jungkook meletakkan senampan penuh makanan di hadapan yunji yang masih keheranan dengan sikap manis namja di hadapannya. “ada lagi yang kau inginkan? Katakan saja, aku akan mentraktirmu.” Imbuhnya senang memamerkan deratan gigi putihnya.

“ani. Ini sudah lebih dari cukup.” Tolak yunji mengangkat kedua tangannya sejajar dengan meja. Dia masih diam. terheran-heran melihat namja tampan di depannya yang juga menatapnya penuh keteduhan.

“kau tidak ingin memakannya?” tegur jungkook melambaikan tangannya.

“ani.”

“apa kau sedang diet?” yunji menggeleng masih dengan senyuman.

Jungkook mengusap belakang rambutnya kikuk. Untuk pertama kalinya ia menyapa bahkan satu meja dengan gadis yang telah mencuri posisi cinta pertamanya sejak pertama kali mereka bertemu 7 tahun silam.

“jadi…” ucap jungkook menggantung.

“apa kita saling mengenal?” pertanyaan polos itu terucap begitu saja tanpa dosa. Yunji masih memperhatikan wajah tampan di depannya. Merasa aneh dengan orang asing yang bersikap baik padanya.

Jungkook tersenyum miris, “kurasa kau benar-benar tak mengingatku.”

“nde?”

“haruskah aku mengingatkanmu?” tawar jungkook merogoh saku dalam almamaternya. Mencari suatu benda yang dapat kembali mengingatkan gadis itu padanya.

“aku sudah lama tak memainkannya. Ada beberapa not yang sedikit terlupakan. Mian jika terdengar sumbang.” Ujar jungkook mengeluarkan harmonika dari dalam sakunya.

Ia berdehem sebentar. Mengatur suaranya sebelum membunyikan alat tiup bermelodi itu. ia mengatupkan matanya. Meniup perlahan harmonica di tangannya. memainkan sebuah lagu yang tak asing lagi di telinga gadis bermarga cho itu. beberapa saat ia terus memainkannya hingga lagu habis dan yunji tak sekalipun berkedip memperhatikannya.

“otte?”

“neo…?”

“kau sudah ingat?” tanya jungkook lagi tersenyum.

“neoneun joon jungkook?” tanya yunji skeptis. Memastikan kembali bahwa namja di hadapannya adalah namja yang sama dengan bocah kecil yang pernah ia temui beberapa tahun di masa lalunya.

Jungkook mengangguk mantap, “joon jungkook yang tergabung dalam kelompok paduan suara Stella?” namja itu kembali mengangguk, “satu-satunya anak dari kelas 3?”

“bingo!” sahutnya senang telah kembali mengingatkan gadis cantik itu.

“aigo… benarkah ini kau?” yunji semakin berbinar senang. “omona, neomu kyeopta! Kau benar-benar berbeda sekarang.”

“bukankah sekarang aku terlihattampan?” godanya berkerling menggemaskan.

Yunji tertawa kecil melihat namja tampan yang dulunya sering mengikutinya kabur dari kelas musik dan memainkan harmonica untuknya ketika ia menangis.Kini bocah itu telah tumbuh dewasa begitu mengagumkan. Masih sama manisnya jungkook yang dulu dan jungkook yang sekarang. Hanya saja goresan tegas wajah tampannya itu benar-benar menipu bahwa dirinya yang dulu tak lebih dari bocah kecil berpipi bulat bakpao.

Mereka tertawa bersama, “kau ingat saat pertama kali kau bergabung bersama kami?”

“tentu saja aku ingat. Noona-noona itu mengkerubungiku dan berlomba mencubit pipiku. heol… setelah itu aku harus pulang dengan pipi merah selama 3 hari. benar-benar memalukan.”

“apa kau mengingat eunsoo?”

“eunsoo noona? Ah, maja! Bukankah dia noona gemuk yang pipis di celana karena ketakutan melihat kacamata guru park?” yunji mengangguk sambil tertawa.

“Noona apa kau mengingat taejoon hyung? Hyung kurus yang dulu suka sekali mengejarmu?”

“taejoon? Ah, aku ingat. Dia sering sekali mengejarku dan dikejar angsa-angsa gereja. Ne, aku mengingatnya.”

“waktu benar-benar berjalan begitu cepat dan semua orang telah berubah.” Ujar yunji menyudahi tawanya.

“tentu saja. setiap orang memang memiliki titik perubahan dalam dirinya. Yang dapat mengubah wajah, perilaku, sikap bahkan perasaan mereka seiring dengan perubahan masa. Karena itulah kita berubah.” Jungkook tersenyum menatapnya.

“ne, benar.”  jawab yunji mengiyakan.

“semua orang berubah. Tapi kau tetap cho yunji yang sama.” Imbuhnya menyejukkan.Mereka saling menatap sesaat dan tertawa lagi kemudian.

“keurom…”

“mwo?” yunji menghentikan tawanya. Menatap senang adik kelasnya.

“apa kau masih mengingat ucapanku saat malam natal itu?” tanya jungkook berdehem membenarkan suaranya.

“ucapan? Ucapana apa?”

Jungkook masih tersenyum, “gwanchana. Kau tak perlu berpikir keras tentang apa yang kukatakan. Aku akan mengingatkanmu lagi nanti.” Ujar jungkook bangkit mengacak singkatrambut gadisnya.

“YA! joon jungkook!” pekik yunji tak senang.

Orang yang diteriaki justru tertawa kegirangan, mengambil kuda-kuda untuk meninggalkannya. Namun satu hal kembali menariknya, membuatnya teringat dan kembali berucap.

“noona-ya! yeogi! Datanglah kemari jika kau membutuhkan.apapun yang terjadi, jangan pernah pergi-pergi lagi seperti saat itu. arrachi?” Ujar jungkook mantap mengusap dada kirinya. Tangannyayang bebas melambai mundur pergi dari hadapan yeoja yang telah mempercepat kerja jantungnya hanya karena melihat senyumannya.

Yunji mengusap pipinya yang telah menyemu merah. Meredakan hawa panas yang menyerbak di sekitarnya. Cukup dengan beberapa kalimat singkat dari hoobaenya itu mampu membuat musim panas lokal di sekeliling wajahnya. Aigo…

>>> 

The Next Day, Hwan High School at Gynamsium

“aigo… kau lihat? Kau lihat?” seorang gadis memulai gossip paginya.

“ya. aku melihatnya.”

“nado. Aku juga melihatnya.”

“aku melihatnya juga.”

“otte? Apa kalian akan membiarkan hal ini terjadi?” ujarnya semakin memanas-manasi 2 orang temannya. “gadis itu, dia telah merebut uri kookie oppa. Jika ini terus dibiarkan, bisa saja gadis tak tahu diri itu akan benar-benar merebutnya.”

“ah, ne maja!”

“apa kita perlu menyiramnya?”

“ah, bagaimana dengan telur atau APR?”

“aish… tak bisakah kita melabraknya sekarang?”

“ya itu benar. Aku sudah tidak sabar menjambaknya dan memaki kasar tepat di depan wajah sialannya itu.”beberapa saran brutal mulai berdatangan. Gadis-gadis menyeramkan yang tergabung dalam klub tak resmi pecinta trainee joon jungkook itu mulai merundingkan rencana jahat untuk gadis yang membuat mereka mati kepanasan.

“ani. Ani. Ini baru awal. Kita adalah klub terhormat. Uri jungkookie tak akan menyukai aksi yang terlalu brutal ini. karena itu…” Jawab gadis gembul itu menggantung.

“lantas apa yang harus kita lakukan?”

“sesuatu yang ringan yang dapat membuatnya tersadar.” Ke-4 rekannya merapatkan barisan. “aku telah menyisipkan beberapa paku payung di sepatu olahraganya.” Bisiknya.

“omo!”

“jika ia beruntung ia tak akan memakai sepatunya dan hanya akan mendapatkan detensi dari guru Young karena tak mengenakan sepatu olahraganya. Tapi jika ia tak beruntung maka…”

“ia akan melukai kakinya hingga membuanya harus berjalan pincang selama beberapa hari ke depan? Benar?” sahut gadis bermata bulat menebak.

“bingo!” jawabnya senang mengedikkan jarinya. Begitu membanggakan rencana jahatnya yang akan membuatnya semakin diakui sebagai gadis terjahat seantero Hwan.

“heol…!”

“itu adalah rencana terbaik yang pernah kudengar.”

“maja. Kau benar-benar ratu dalam hal menyiksa orang.”

“jjang!” puji keduanya senang.

“tentu saja. Apapun demi jungkookie oppa! Hwaiting!” serunya menyemangati klub jahatnya.

“HWAITING!!!” sahut keempatnya serempak mengepalkan kedua telapak tangannya.

“ya ya ya… lee youngbin, bukankah itu dia?” lapor gadis berambut merah menunjuk seorang gadis yang menjadi bahan perbincangan mereka.

Yunji memasuki gynamsium seperti biasa. Tanpa luka ataupun sesuatu yang berbeda pada ke dua kakinya. Ia terlihat biasa saja.

“kau bilang kakinya akan terluka.” Todong gadis berambut merah berbisik.

“kau yakin telah memasukkan paku payung pada sepatunya?”

“ia terlihat biasa-biasa saja.” Sahut seorang lagi curiga.

“ck,” Si ketua klub brutal itu berdecak, “YA! Cho Yunji!” serunya memanggil yunji.

“nde?” yunji yang merasa terpanggil menghampiri ke-lima teman barunya.

“YA! neo…”

“kau… apa yang kau lakukan di sini?”

“nde? Tentu saja mengikuti kelas guru young.” Jawan yunji sekenanya.

“bagaimana kau bisa mengikuti kelasnya?” imbuh gadis berambut merah.

“mwol? Ada apa dengan kalian? Pertanyaan kalian aneh sekali.” yunji tersenyum keheranan.

“ck, gadis ini.” decak gadis gembul menahan sabar, “ya, bukankah sepatumu…”

“ah… seseorang meletakkan beberapa biji paku payung di sepatuku. Aku tak mungkin menggunakan sepatu berpaku seperti itu.” sahut yunji memotong pertanyaannya.

Jleb. wajah ke-limanya memucatseketika. Seolah seseorang telah menghentikan jalan pernafasan mereka setelah mendengar pernyataan singkat gadis yang gagal menjadi korbannya.

“namun untungnya, seseorang meninggalkan sepatunya untukku.”

“nu… nugu?” tanya gadis gembul tergagap melawan kebisuannya.

“emm, molla. Sepatu itu tiba-tiba muncul saat aku membutuhkannya.” Jawabnya menyungging senyuman, “keure, aku pergi!” pamitnya kemudian. Masih meninggalkan senyum kemenangan dengan sepatu yang terlihat jelas kebesaran pada kaki mungilnya.

“saesange… gadis itu!” umpat gadis berambut merah.

“sepertinya ia sedikit sulit dihadapi.”

“ck, awas saja gadis busuk itu!”

>>> 

Hwan High School, Pathos Porch 08.30

“kreeekk…” badan pintu pathos terbuka. Membuat seseorang di baliknya terlihat senang mengumbar senyum pada seorang namja yang telah lebih dulu menyendiri di bibir beranda.

“hyung!” sapanya. Tanpa menoleh, jin sudah bisa menebak siapa yang menemukannya. Si biang keributan dalam hidupnya. Satu-satunya orang yang berani mengusik ketenangannya di pathos beranda.

“mwo?” balas jin masih mempertahankan posisinya bersandar pada pembatas beranda. Matanya tak lekat memperhatikan sepasang burung yang menghinggapi pohon maple besar di depannya. “cepat katakan dan segeralah pergi!”

“aish… apa seperti ini sikap kakak kepada adiknya?” cibir jungkook melipat bibirnya.

Jin tak menggubrisnya, “keure, sebenarnya…” jungkook menggantung kalimatnya. Ia memperhatikan kedua kaki jin yang hanya terbungkus kaos kaki putih tanpa sepasang sepatu seperti biasa.

“hyung…! Sepatumu? Kau tidak memakai sepatu?” pertanyaan itu refleks terucap dari bibir tipis namja yang 2 tahun lebih muda darinya. “eodie?” imbuhnya lagi penasaran.

Jin terdiam sesaat tak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, “hyung…!” desak jungkook merengek manja.

“mwol?”

“aish… sepatumu. Dimana sepatumu?”

“guru park menyitanya.” Jawab jin singkat.

“mwo?” pekik jungkook tak percaya.”wae? bagaimana bisa guru park menyitanya?”

“molla.”

“mwo? Aigo…” jungkook tak dapat menahan tawanya. “jangan bilang dia menyita sepatumu karena kau selalu melewatkan kelasnya! Hahaha apa ini cara terbaru menghukum murid badung sepertimu? Eoh? Hahaha…” ejeknya semakin tertawa.

Jin hanya mendelik kesal melihat adik kurang ajarnya. Ia melirik sekilas kedua kaki jungkook yang tak jauh berbeda dengannya. Berkaki polos tanpa sepasang sepatu di sana.

“nodo. Dimana sepatumu?” balas jin menegakkan tubuhnya.

“aku lupa memakainya.”

“wae?”

“kurasa kau tak akan tertarik mendengarnya.” Jawab jungkook acuh.

“cih,” cibir jin memutar kembali kepalanya menghadap pohon maple di sebrang sana.

“hyung!” seru jungkook tanpa suara gelegaran tawanya. Intonasinya kembali serius seperti biasa.

Ia mengikuti pergerakan jin yang telah lebih dulu menyandarkan sikunya menghadap pemandangan indah di bibir beranda. Merasakan semilir angin yang membuai keduanya. “aku menyukainya.” Ujarnya tersenyum getir di sudut bibir.

“arro!” sambung jin menanggapi ocehan adiknya yang entah sudah ke berapa kalinya. “kau sudah sering mengatakannya.”

Jungkook kembali mengembangkan senyumannya mendengar tanggapan ringan dari kakaknya yang tak seperti biasa. “sangat menyukainya, hyung!” imbuhnya.

“rasanya begitu mencekik jika melihatnya terluka. Rasanya sangat mengiris melihatnya menangis. Rasanya begitu menyenangkan menggodanya. Dan rasanya begitu mendebarkan melihat senyumannya. Bukankah semua ini gila? Ini membingungkan hyung, tapi aku menikmatinya.” Jelas jungkook mengusap dada kirinya. Menetralisir getaran hebat hanya karena membayangkan rupa ayu gadis manis pujaannya.

“hyung, kau percaya kita bersaudara?”





-TBC-

Selasa, 05 November 2013

FF/ROYAL PAIN/EXO/THREESHOOT/ROMANCE -PROLOGUE-

ANYYESONG CHINGUDEUL... :D *NgakakSetan petama2, gw pen ngucapin "HEPI BEDEH" buat si Duizhang Kris suami masa depan gw.. :D wish u all the best, wish u all be bell, and wish u all be cute kekek xD
sesuai janji gw minggu lalu, gw bakalan posting ff dengan main cast sami gw tercinta itu, gw peuhin... tapi *AdaTapinya berhubung ffya belum selesei gw edit, trus masih kesimpen di laphy gw yang dibawa pergi abang gw, ditambah itu ff belum gw copy di fd, jadilah gw gak bisa ngepost ff itu hari ii TT__TT
jangan sedih gays :D *SapaJugaYangSedih gw mau kasih prolog ff ini ke kalian biar besok kalo udah gw post kalian gak bnayk bingung karena kegajean ff gw hahah xD
siap...??? yuk mari...





>>>>>>>>>

well, ROYAL PAIN itu kisah cinta keluarga bangsawan korea. dimana pada jaman sekarang *SemacemPrincessHours *MyPrincess akan diadakan pemilihan putri mahkota yang andidatnya dipilih dari siswi-siswi royal accademy. sekolah etika khusus keluarga bangsawan korea, keluarga kerajaan dan keluarga terpandang.


Roxanne Rose Juan deClyre seorang gadis yang lahir dalam garis kebangsawanan Korea-Prancis. Roxanne ini termasuk tipe cewek yang gak suka dikekang. apalagi pas tau kalo dia diramalin sma seorang cenayang istana kalo dia itu ditakdirin buat jadi putri atau keluarga kerajaan korea, dia semakin dikekang dan dididik buat masuk kerajaan. tapi karena dasarnya dia bandel banget, dia selalu aja kabur kalo ada jamuan makan malem diistana.
hingga suatu hari pas dia kabur, dia ketemu sama cowok yang bikin dia melting dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. meskipun cowok itu nyebelin dan selalu ngucapin kalimat-kalimat yang ngajakin brantem, tapi roxanne sellau seneng aja deket-deket cowok itu. sampai-sampai nih roxanne sering dibuat gak sadar kalo dia nyeritain cerita privasiya ke cowok itu. dan pas tau kalo cowok yang dia anggep pustakawan itu adalah seorang wangseja (putra mahkota), roxanne jadi seneng banget dan ngerubah pikirannya buat jadi putri mahkota.



KRIS. dia seorang putra mhkota yang sejak usia 10th di kirim orang tuanya ke amerika buat studi di sana. awalnya kris ngerasa tertekan pas dia diangkat sebagi putra mahkota. tapi teknan itu berubah menjadi suatu tanggung jawab buat dia ketika ayahnya meinggal 2 tahun lalu dan ngebuat dia harus cepet-cepet dikukuhkan sebagai raja setelah pemilihan putri mahkota.



PARK CHAYEOL sepupunya kris. putra pertama dari adiknya ayahnya kris. chanyeol ini sama kayak roxane cinta banget sama kebebasan. cuma chanyeol lebih beruntung karea gak dapet tekanan dari siappun buat hidup sebagai keluarga kerajaan. orang tuanya pemilik perusahaan eksport-import  berskala internasioal. yang ngebuat dia semaki bebas terlepas dari status pangeran. dia ini teme deketnya si roxanne. selalu ada buat roxanne meskipun dia serig ngejahilin si roxanne pula. termasuk dalam kategori most wainted and most palyer boy. miriplah sama karakternya prince harry xD




NAM BORA dia itu mantan pemantunya roxane. dia dipecat gara-gara ketahuan bokapnya roxanne pas ngegantiin roxanne diacara pesta kerajaan. dia hampir aja di keluari dari Royal Accademy. tapi karena si bora adalah pemilik nilai tertinggi diangkatannya dan selalu jadi Miss Royal dewan sekolah gak bisa ngeluarin bora gitu aja. tapi karena kejadian itu, dia ama roxanne gak banyak bicara satu sama lain. karena ya gitu deh... heheh xD *MalesAhNgejelasinnya



cara pemilihan putri mahkota jaman sekarang melibatkan para cenayang yang bertugas untuk emmbaca takdir para 5 besar putri yang udah diseleksi sebelumya. caraya agak unik nih, 5 putri yang terpilih harus nulis nama mereka di selembar kertas secara bersamaan dan ngebakarnya di bara unggun utama yang udah dimantrai. kertas yang hangus kebakar nunjukin kalo gadis itu gak berjodoh dan harus keeliminasi. sedagkan kertas yang secara ajaib kembali utuh degan kalimat klasik sarjana konfusius itulah yang berjodoh sama putra mahkota. yah semacem cara pemilihan peserta turnamen triwizardnya harry potter lah.. hehehe




>>>>>>>>>>>







ah gimana? peasaran sama edingnya? wokeh tunggu aja ffnya dirilis. kapan??? hanya Tuhan yang tahu hahaha... pay pay see in my next post xD

Rabu, 30 Oktober 2013

FF/SOME TENABLES/ROMANCE/TWOSHOOT [2/2]



TITTLE                                   : SOME TENABLES [2/2]
AUTHOR                              : T.S.A / @noninodi
MAIN CAST                         : -LEE YOUNGIN
-KIM MYUNGSOO
                                                -WU YIFAN (KRIS)
SUPPORTED CAST            :   -JUNG SOOJUNG (KRYSTAL)

           -CHOI JINRI
LENGTH                                : TWOSHOOT
GENRE                                  : ROMANCE




AHAHAHHA... *EvilLaugh hahah seneng banget bisa balik bawa ff alay gw ke ranah dunia per-ff-an masa kini kekekek *NgakakSetan ada yang nunggu ff gw gak??? ada?? ada?? ada?? kalo gak ada juga gak papa sih kekek xD well, gw minta maaf dulu karena udah telat 3 hari dari jadwal postingan gw. yah mau gimna lagi modem di rumah lemotnya ngajakin brantem, gw tunggu2 eh tenyta kagak insap juga ngelemotnya... =,= well, buat yang udah nunggu ff ini silahkan aja baca ff super gaje dari author TSA yang super ketjeh... ehhehe xD oh, gw ingetin lagi kalo ff ini ff orisinil buatan otak alay bagian kiri gw, yang keinspirasi dari MVnya Secreat - Yoohoo yang gw temuin pas abis nonton popcorn malem2 di dalem kamar mandi (?) *Abaikan *AbaikanKicauanSarapAuthorGilaIni. sekali lagi juga gw umumin buat lo yang ngerasa atau nemuin kesamaan ff ini sama ff milik orang lain, please dont bash my ff, salahin aja author itu yang (mungkin) ngejiplak ff gw... hahah xD well, apapun itu hastag gw cuman pen bilang #NoBash #NoProtes happy reading all... *ILoveYa!!! :D

>>> 
“KEBENARAN tak akan pernah menjadi benar selama kau tak pernah menganggapnya benar.”
>>> 

Youngin POV
“karma itu ada! Karena darah selalu dibayar dengan darah. Apa yang telah kau lakukan, itupula yang akan kau terima nantinya. berhentilah bersikap naïf dan berhenti membuat dirimu seolah-olah terlihat tak bersalah.
Akuberkedipperlahan.Begituperlahanuntukmengaturritmeemosikusetelahbayanganpertengkaranitumerasukialamsadarku.Sudahcukupakumenjadigadisbodoh di masalalu.Takkankubiarkandirikusemakinbodohhanyakarenapancinganemosinya.
Clep. Tanganku menghangat seketika. Seseorang menggenggam telapak tanganku dan menenangkan kegugupanku. Entah perasaan damai apakah ini yang membuatku begitu nyaman berada dalam genggaman tangannya.
Aku menoleh. Menitih pandang, siapakah yang telah menggenggam tanganku tanpa ijin. Yang telah menyelamatkanku dari semua kegugupanku. Korneaku membualat tak percaya. Bahwa ia telah berada di sampingku dan menenangkanku dengan genggaman hangat tangannya.
“tak sepantasnya kalimat itu kau katakan pada teman lamamu yang telah lama menghilang dari pandanganmu.” Ujar Myungsoo kian menggenggam tanganku.
“apa kau ingin merutuki hubungan kami lagi? Sampai kapan kau akan berpura-pura tak tahu bahwa bukan pada Youngin maupun diriku yang salah pada sistem perpecahan ini? Apa kau masih mencari kambing hitam untuk kau persalahkan karena sifat kekanak-kanakaanmu itu?” tandas Myungsoo membungkam kalimat-kalimat dingin Krystal dan menarikku keluar dari coffe shop ini. Menyelamatkanku dari situasi yang selalu saja menyudutkanku.
“ya...! sampai kapan kau diam ketika ular itu mulai berbicara? Kapan kau akan membalas tindasannya itu? Bukalah matamu Lee Youngin. Tak selamanya apa yang ia katakan salah akan tetap menjadi salah. Jika kau masih bertahan memilih diam sebagai jawaban, jangan harap ia akan sadar dengan sikap kekanak-kanakannya itu.” Bentak Myungsoo frustasi masih menggenggam tanganku.
“aku tak memintamu datang dan membelaku.” Balasku dingin melepaskan cengkraman tangannya.
Aku berpaling. Membuang pandanganku dari tatapan lurusnya. Terlalu berat rasanya jika aku harus menatapnya lagi. Namun, Deg. Sepasang mata menatapku dalam penuh kerapuhan. Tatapan itu. Kris.
Ia tersenyum getir mendekatiku dan Myungsoo yang masih berdiri di bawah kerindangan pohon sakura yang tak jauh dari coffe shop yang telah menciptakan reuni dingin antara aku, jinri, Krystal dan Myungsoo.
“apakah dia alasan pentingmu mengapa kau meninggalkanku?” tanya Kris masih tersenyum padaku dengan tatapan dalam yang susah kuartikan.
“mwo?”
“seharusnya kau mengatakan padaku bahwa kau ingin menemuinya.” Imbuhnya lagi tetap tak mengalihkan matanya dari pandanganku.
“ani. Kau pasti salah faham...”
“aku tak dapat diam saja membiarkan gadis ini diperlakukan seperti itu. Lain kali aku akan mentraktirmu.Mian hyung.” Jelas Myungsoo membuatku secara spontan menatapnya.
Hyung? Hyung katanya? Jangan katakan bahwa mereka adalah 2 orang yang saling mengenal. Jangan katakan bahwa 2 namja ini memiliki suatu hubungan dekat yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Jangan katakan bahwa aku terlibat lagi dalam lingkup cinta segitiga dengan Kris ataupun dengan Myungsoo. Tuhan hanya ada 2 mahluk inikah yang berjenis kelamin laki-laki di dunia ini? Haruskah aku berhubungan dengan 2 orang ini?
“oh, kurasa kalian butuh banyak waktu untuk berbicaradan menyelesaikan semuanya. Aku akan memberi kalian waktu.” Pamit Kris tersenyum getir beranjak meninggalkanku.
Aku hanya mematutkan mataku memandang kepergiannya. Mataku masih menatapnya lurus memperhatikan langkah kaki panjangnya tertuju. Terus memperhatikan pergerakan punggungnya hingga menghilang terbawa mobil hitam metaliknya.
“apa sebenarnya hubunganmu dengan Kris oppa?” tanyaku kemudian bersikap sewajarnya pada Myungsoo.
“oppa? Sedekat itukah kalian hingga kau memanggilnya oppa?” balas Myungsoo dingin tak langsung menjawab pertanyaanku.
“lalu bagaimana denganmu? Sedekat itukah hubunganmu dengannya hingga kau memanggilnya hyung? Eoh?” balasku tak mau kalah.
“ya! jangan mengalihkan pembicaraan.”
“ani. Bukan aku yang mengalihkan pembicaraan. Akulah yang terlebih dahulu menanyakan hubungan kalian.”
“itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui.” Jawab Myungsoo begitu menyebalkan.
Aku menghela. “kereom jika kau tak ingin menjawab. hidupku akan tetap baik-baik saja sekalipun aku tak mengetahuinya.” Ujarku bersiap melangkah meninggalkannya.
Myungsoo kembali mencengkram lenganku “bagaimana kau mengenalnya? Sedekat itukah kalian? apa sebenarnya hubungan kalian? Apa kau menyukainya?” tanyanya beruntun.
 Aku memandangnya sinis. “dan itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui.”
“mwo?” aku melepaskan tangannya. “terima kasih atas bantuanmu hari ini.” Ujarku meninggalkannya.
“Youngin-ah!” panggilnya lagi yang membuatku terpaksa berhenti.
“mworago?” aku berbalik enggan. Myungsoo memelukku secara tiba-tiba. Memelukku dalam dan menyingkirkan jarak diantara kami. Mendekapku hangat dan semakin mendekapku ketika kubergerak memberontak melawannya.
“nan jongmal bogoshippo. Aku merindukanmu dan pelukanmu.”
“itu bukan urusanku. Lepaskan aku.” Elakku memberontak.
“kumohon tetaplah seperti ini. Hanya 1 menit saja. Biarkan aku memelukmu seperti dulu.” Pintanya masih memelukku.
“aku masih menyukaimu. terlalu sulit bagiku untuk melepaskanmu dari sisiku. Aku ingin kita kembali,dapatkah kau melihatku lagi?” Ujarnya melepaskan dekapannya setelah sekian detik aku terus memberontaknya.
Aku mencoba setenang mungkin mengatur nafas dan detakan jantungku mendengar permintaannya. Terlalu naif jika aku menjawab iya setelah apa yang telah ia lakukan padaku. Cukup saat itu saja aku menjadi gadis bodoh yang mudah terperangkap rayuannya.
“apa kau baru saja dicampakkan oleh seseorang? Atau apa bagimu aku sebodoh itu?” cercaku menatapnya tajam.
“mwo?”
“menurutmu apa yang akan aku jawab setelah semua yang telah kau lakukan padaku? Dunia pastilah akan menertawakan diriku jika aku masih membuka hati untuk orang brengsek yang jelas-jelas telah menyakitiku.” Tutupku benar-benar meninggalkannya. Menghiraukan semua panggilannya yang terus memintaku menghentikan langkahku.
Shit.
>>> 
“nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Silahkan ...” klik. Tutupku mengakhiri panggilanku. hanya jawaban standar dari operator yang aku dengar setiap berusaha menghubunginya.
Entah sejak kapan ia berubah manjadi petugas penerima pengalihan panggilan hingga jawaban itu saja yang aku terima. Dan entah sejak kapan aku mulai memperdulikanpengabaiannya itu. Kris-ah, kumohon hentikan permainanmu yang terus mengjindariku. Berhenti membuatku gila karena rasa bersalah.
 Aku mulai frustasi karena tak dapat menghubunginya. Ini sudah kesekian kali aku tak dapat menemuinya dan ini adalah hari kesekian aku tak dapat menghubunginya. Semuanya menjadi sulit setelah pertemuan rumit itu.
Aku berjalan lesu menyusuri jalanan setapak menuju tempat tinggalku. Ditemani semilir angin dan kegelapan malam, aku terus berusaha menata hatiku. Dan bertanya apa yang salah dengan sistem perasaanku.
Setelah hari itu aku tak dapat hidup tenang. Hidup bebas tanpa lilitan permintaan Myungsoo. aku tak tahu apa yang salah disini. Entah mengapa semuanya menjadi rumit. Tak ada yang harus kusesali dari apa yag telah aku ucapkan. Bukankah sudah sangat jelas bahwa apa yang kulakukan memang benar?
“ddddrrrttt.... ddddrrrttt...” poselku berdering. Kulihat nama Kris menyeringai di layar smartphoneku. Aku tersenyum, “ne, yeoboseyo!” sapaku pada orang di sebrang sana.
yeoboseyo!” balasnya serak.
“kau baik-baik saja?”
“tidak cukup baik setelah mengetahui apa yang terjadi antara kau dengannya.” Jawabnya seadanya.
“eh, apa maksudmu?” tanyaku hati-hati, berharap bahwa apa yang aku fikirkan adalah salah.
“selama ini aku fikir kau hanya tak mengerti semua perhatianku, sehingga apapun yang aku lakukan tak akan pernah menyentuhmu. Namun hingga hari itu aku sadar mengapa kau tak pernah melihat ketulusanku? Mengapa perhatianku tak pernahmenyentuhmu? Mengapa diriku tak pernah terlihat olehmu? Mengapa untuk mendapatkanmu aku harus merasakan semua pilu?”
“oppa...!”
“Youngin-ah, mianhae!” pintanya “aku menyukaimu. Mungkin kau sudah bosan dengan pengakuanku. Tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa hingga detik dimana aku tak dapat menahan perasaanku, detik dimana aku tak dapat menghindarimu hingga detik aku terpuruk karenamu, aku masih ingin mencintaimu, ya pada detik ini aku masih ingin mengatakan aku mencintaimu. maaf karena telah membebanimu.” Jelasnya semakin serak.
“oppa, apa yang kau katakan?”
“jangan pedulikan aku jika kau memang masih ingin mencintainya. Aku telah terluka begitu parah karenamu. Menerima cintamu sebagai rasa iba tak akan mengubah apapun juga. Jadi, bahagialah bersamanya.”
“apa maksudmu? Apa kau ingin aku kembali dengan seseorang yang telah menyakitiku? Aku baik-baik saja. Tanpanya aku bahagia.” Elakku.
“benarkah?” kudengar suara tawa kecil darinya. “apa benar wajah seperti itu adalah wajah gadis yang tengah berbahagia?” pancingnya.
Aku menoleh ke sekitar. Mencari seseorang berwujud tegap dengan wajah tampan yang tengah berdiri dengan ponsel yang tergenggam dan memperhatikanku dari kejauhan. Namun sayang. Hingga beberapa langkah aku mencarinya tak kujumpai wujud sempurnanya.
“non eodiseo? Apa kau melihatku saat ini?” tanyaku penuh selidik.
“aku selalu melihatmu dimanapun kau berada. Itulah kekuatan cinta.” Godanya masih bersuara serak.
“berhenti menggodaku.” Ia tertawa, “Youngin-ah, kau perlu tahu. Myungsoo masih sangat mencintaimu. dan kau juga masih mencintainya. Tak ada alasan lagi mengapa kau harus menghubungiku untuk menjelaskan semuanya. Tak ada alasan lagi bagiku untuk memintamu menjadi milikku. Dan  tak ada alasan lagi untuk diriku berada diantara kau dengannya.”
“oppa, Myungsoo hanya masa lalu.”
“ia bukan masa lalumu. Ia adalah saat ini bagimu yang hanya sempat terhapus di masa lalumu.”
“tapi oppa...” sanggahku mulai runtuh dari pertahananku.
“berbaliklah dan lihat siapa yang telah menunggumu!” titahnya menutup panggilannya.
Aku terdiam melemas. Aku tak senang mendengar apa yang ia katakan sekalipaun itu semua memang benar. Ya, aku memang masih mencintainya. Masih membeku tak dapat melepaskan bayangannya. Namun aku tak ingin menjadi bodoh untuk kesekian kalinya karena terlalu menyayanginya. Aku membenci semua kebenaran ucapannya.
“Youngin-ah!” sapa suara dingin di balik punggungku.
Myungsoo berdiri tegap menatapku hangat sama persis dengan tatapan lamanya. Begitu dalam tiap memperhatikanku. Tak ada 1 jengkalpun pergerakanku yang terluput dari penglihatannya.
“apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku dingin.
“hanya ingin memastikan apa yang aku rasakan memang benar.” Jawabnya datar.
“kepastian apa? Kurasa tak ada yang perlu kau pastikan.”
“aku dan Kris hyung. Jika ada yang ingin kau ketahui tentang hubungan kami.” Ia menghela dan berjalan mendekat.
“aku berteman cukup dekat dengannya karena hubungan kedua orangtua kami. Dan juga kami memiliki selera yang sama. Hampir semua yang ia benci akupun membencinya dan semua yang  aku sukai, juga ia sukai pula. Termasuk dirimu.”
“aku tak akan terkejut jika kami menyukai wanita yang sama. Namun aku tak dapat menerima jika yang ia sukai adalah dirimu. Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku belum bisa melepasmu dari benakku. Susah sekali menerima kenyataan bahwa Kris hyung begitu menyukaimu.” Ujarnya kian mendekat.
Aku tertenggun, “berhenti! Jangan mendekat! Jangan berdiri terlalu dekat denganku! Aku tak ingin lebih dekat lagi denganmu dan teringat semua kebusukanmu!” seruku menjulurkan lengan dan melangkah mundur.
“sebenci itukah kau denganku?”
“lebih dari yang kau lihat. Aku sangat membencimu, kau telah membuatku menjadi gadis yang benar-benar bodoh. karena itu, berhentilah muncul di hadapanku dan mengatakan semua kebohonganmu itu! Jangan lagi menemuiku setelah kau dicampakkan oleh wanita lain di hidupmu.”
“siapa maksudmu?”
“aku melihatmu bersama gadis lain di sebuah rumah makan Kim Myungsoo. Jangan katakan kau tak memiliki hubungan apapun dengannya jika kalian seakrab itu. dan sekarang kau menemuiku tanpa dosa seperti ini? Aku benar-benar tak dapat memahamimu.”
“lalu hubungan apa yang kau harapkan antara aku dengannya selain hubungan yang memang tak pernah ada seperti yang kau bayangkan?” tanyanya frustasi.
“jadi apa sekarang kau terikat sebuah hubungan dengan Kris hyung setelah ia mengusap air matamu pada makan malam itu?”
“mwo?”
“aku juga melihatmu dengannya. Jangan fikir aku tak melihatnya begitu lembut memperlakukanmu. Dan jangan fikir aku baik-baik saja setelah itu. Aku tahu Kris hyung begitu menyukaimu, tapi aku juga tahu masih ada sesuatu yang dapat kita benahi dari semua kesalahpahaman ini.”
Ia hanya diam melihatku yang menunduk tak sanggup menatap kedalaman tatapannya. Aku tak ingin menunjukkan padanya betapa aku tersiksa karena semua perasaan yang membelitku. Aku tak ingin ia semakin mudah mengambil alih lagi hatiku.
“lantas kebohongan apa lagi yang kau maksud? Tidakkah kau percaya dengan ketulusanku?” ujarnya kembali dingin dan mendekatiku lagi.
“aku bilang berhenti mendekat...” jeritku meneteskan sebulir bening air mataku.
Myungsoo mengabaikan perintahku. Ia terus mendekat hingga berhasil mengunciku dengan satu tangannya yang terulur bersandar pada dinding di belakangku. Hanya ada aku, ia dan jarak 5 cm saja diantara kami. Mata tajamnya semakin dalam menatapku dan kian mendekatkan wajahnya denganku.
Semakin dekat hingga dapat kurasakan dengan jelas hembusan nafasnya. Dan dapat dengan jelas pula aku mendengar degupan kencang jantungku karenanya. Ini adalah kali pertama ia sedekat ini denganku.
“apa ini kebohongan yang kau maksud itu?” bisiknya tepat di telingaku setelah sekian detik aku kesulitan mengatur ritme nafas dan jantungku. Setelah sekain detik aku tak dapat berkutik dalam dunia gelapku.
Ia melepaskanku, “apa kau fikir aku benar-benar berciuman dengan gadis lain yang tak kusukai?”
“mwo?”
“aku hanya membantunya mengenakan kalung. Ia bukan siapa-siapa. Sekalipun tak pernah terbesit di fikiranku menghianatimu ataupun mencium gadis yang tak kusukai. Kaulah satu-satunya gadis di hatiku saat itu, kini dan nanti. Aku masih mencintaimu Youngin-ah!” jelasnya.
Aku masih mencoba mencerna apa yang terjadi beberapa detik yang lalu. ketika aku tak dapat berkutik pada posisi yang begitu menyudutkanku. Masih mencoba menyisihkan anggapan bahwa apa yang ia katakan adalah benar.
“manis sekali ucapanmu.” Sindirku. “apa itu yang selalu kau ucapkan pada semua gadis yang kau campakkan dan meminta mereka kembali lagi padamu?”
“aku tak pernah mencampakkan gadis manapun dan tak pernah meminta mereka kembali. Karena selama ini hanya kau gadis yang kusukai. Tak ada yang lain.”
“tuan kim, berhentilah bersikap manis seperti ini. Bagiku kau hanya angin di masa laluku. Biarkan aku terlepas dari belenggu ucapan manismu. Cukup saat itu saja aku bodoh dan termakan ucapanmu.” Ujarku berbalik membelakanginya.
“Youngin-ah!” panggilnya. “apakah waktu selama ini belum cukup untuk mengubah pandanganmu bahwa itu hanya suatu kesalahpahaman yang tak semestinya ada.”
“kesalahpahaman? Kau bahkan tak memberiku penjelasan apapun saat itu. Mengapa kau baru mengatakannya ketika tak ada satupun yang dapat dibenahi dari hubungan ini?”
“apa kau benar-benar membutuhkan penjelasanku saat itu? Bukankah yang ingin kau percayai hanyalah apa yang kau lihat? Untuk apa aku bersusah payah menjelaskan sesuatu yang tak pernah kuperbuat? Selamanya sebuah kebenaran tak akan pernah menjadi benar selama kau tak menganggapnya benar.”
“sama halnya denganmu yang tak yang tak dapat mengubah presepsi Krystal tentang hubungan kita dulu hanya karena ia selalu menilai bahwa tak ada yang benar dari apapun yang kau ucapkan. Karena itu aku terus menunggu kapan kau akan mempercayai dan membenarkan apa yang aku ucapkan.”
Aku tertenggun dengan apa yang ia katakan. Selama ini yang aku fikirkan hanyalah sebuah kerancauan hubungan yang telah ia ciptakan. Aku tak pernah berfikir ini hanyalah sebuah kesalahfahaman.
“aku tahu aku ceroboh  karena telah membiarkanmu terlepas terlalu jauh dari sisiku. Terlalu lama membiarkanmu menungguku menjelaskan semua kejadian itu. Sekalipun aku memberimu waktu yang lebih lama lagi, dan kau tak dapat mengubah fikiranmu, bukankah semuanya hanya kesia-siaan belaka? Namun percayalah padaku, aku masih mencintaimu.”
Kami terdiam. Berdiam diri dalam kemelut fikiran kami. Aku masih mencerna semua yang ia katakan. Aku benar-benar takut bahwa ini hanya kasih semu yang ia ciptakan. Aku benar-benar takut terjatuh dilubang yang sama untuk kedua kalinya.
“kereom, sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tak dapat membedakan mana yang benar dan mana salah. Semua ucapanmu, semua sikapmu dan perasaanku, itu semua bagaikan kabut semu yang berarak mengelilingiku.”
Myungsoo tersenyum, “kau hanya perlu mempercayaiku bahwa tak akan ada kata putus lagi diantara kita setelah ini.” Ujarnya mundur satu langkah.
Ia berlutut dihadapanku. Mengeluarkan satu kotak mungil dari kantong jaketnya. “Lee Youngin, maukah kau menjadi satu-satunya gadis dalam hidup Kim Myungsoo? menjadi satu-satunya gadis yang dapat membuatnya segila ini mengejar cinta dan kepercayaanmu kembali?” ungkapnya membuka kotak kecil itu dan memperlihatkan sebuah gantungan handphone kayu yang sama persis dengan gantungan yang aku buang dulu dan beberapa hari lalu kembali padaku.
Aku ragu. Masih berkutat dalam benakku, ‘dapatkah aku memparcayai ketulusannya itu.’ Aku menutup kotak manis yang ia persembahkan padaku dan menggenggam telapak tangannya yang terhalang kotak kecilnya itu.
“aku harap dunia tak akan menertawakanku karena telah menarik ucapanku. Aku harap bukan tangisan ataupun penyesalan setelah aku menerimamu kembali malam ini.” Ujarku perlahan. Ia tersenyum lalu bangkit.
Dan ~C h u~
Aku merasakan bibirnya yang menyentuh perlahan bibirku. Menciumku manis dan begitu lembut. Beberapa saat hingga ia tersenyum kembali menatapku.
Aku menyukai akhir bahagia dalam sebuah cerita. Aku harap Myungsoo adalah adalah akhir bahagia dalam hidupku dan saat ini adalah awal dari happy endingku.




-END-



yeee.... udah selesei deh yeee.... lo tau?? butuh 2 bulan lamanya gw ngebuat ff ini. butuh puluhan hari pula  gw ngegalau mikirin endingnya ff ini. yee.. dan gw seneng udah bisa nge-end ff ini heheh :D
buat yang ngeship "Young-Kris" gw minta maaf karena udah ngasih happy ending buat "Yung-Myung" as u know, i love "Young_kris" too, tapi kalo gw bikin happy ending buat "Young-Kris", pesan ff gw yang diawal gak bakalan kesampaian. jadi, gw emang sengaja bikin ending bwt Young-Myung,  tbh yang pengen gw sampein ke kalian readerdeul, SEKERAS APAPUN USAHA KALIAN NGEJELASIN SUATU KESALAHPAHAMAN KE SESEORANG, SELAMA ORANG ITU GAK MAU NENGOK DARI KACA MATA KALIAN, MAKA SEMUA ITU HANYA KESIA-SIAAN. jadi, bikin santai aja.
oh, berdasarkan survei yang udah gw lakuin, 10 dari 13 partisipan gw yang gw tnyain "pilih mantan atau cowok baru yang lebih sayang ke kalian?" menjawab pilih orang baru yang jelas2 lebih syang. ini maksudnya yang suka kris jadian sama youngin itu lebih banyak daripada youngin balikan sama myungsoo. karena sisanya yang cuman ada 3 itu pilih balikan sama mantan. duh seneng deh tenyata temen2 gw bukan orang2 yang susah moveon... hahah xD
 see u in next post :D. lain kali gw bakal bawa ff yang lebih cetar dari syahrini *duhSyahrini yang lebih racunisasi dari vickky dan lebih kece dari gw (?). gw udah siapin 1 ff special buat ultahnya suami masa depan gw si kris yang ultahnya jatoh tgl 6 november 2013 minggu depan. siap-siap yah!!! :D keep calm and read my FF see ya!!! pay pay :* 




 T.S.A (*,*)b