Rabu, 24 April 2013

FF/MY HATENESS ISN’T YOU/EXO/ANGST/ONESHOOT
TITTLE : MY HATENESS ISN’T YOU
AUTHOR : DINA CHAGIEYOOGIE SHINEE
CAST : -KIM JUNMYUNG (SUHO)
- KIM YUNHEE (T.B.W akaTri B. Wahyuni)
- PARK CHANYEOL
- KANG NAERI (M.N.F aka Masita N.Farih)
GENRE : ANGST
LENGTH : ONE SHOOT


>>>


"apa yang terjadi hari ini adalah semua yang terbaik dari rencana Tuhan untuk kehidupan yang akan datang."
Author POV
Petikan-petikan halus keluar begitu merdu ketika Suho dengan mahirnya memainkan gitar akustik dalam genggamannya. Ruang auditorium yang hanya dihuni olehnya dan Chanyeol yang sibuk dengan dunianya sendiri seolah menjadi saksi akan kemahirannya dalam memainkan benda kesayangannya itu. Seorang wanita setengah baya berkaca mata minus dengan setumpuk file di tangannya datang menghampirinya.
“kau telah bekerja keras. Istirahatlah!” tegurnya menyodorkan salah satu stopmap yang memenuhi tangannya pada Suho.
“mana mungkin aku bisa istirahat saem? Pertunjukan tinggal 6 hari lagi.” Balas Suho menggapai stopmap yang dipenuhi dengan not-not balok hasil aransemennya dan melanjutkan jemarinya untuk beradu dengan senar-senar gitarnya.
“kau tak perlu memaksakan diri seperti ini. Aku telah mendengarkan rekaman lagumu itu. Aku menyukainya. Sangat manis harmonisasi melodinya.”
“anda perlu bersyukur karna memiliki gitaris genius seperti dia.” Imbuh Chanyeol menutup bukunya dan bergabung dalam percakapan mereka.
“ne. kau benar Park Chanyeol. Aku harus bersyukur karna pentas tahun baru ini akan mengukir sejarah baru bagi sekolah kita. Betapa beruntungnya diriku akhirnya bisa bersitatap langsung dengan gitaris berbakat dari Australia.” Jemari Suho terhenti mendadak ketika mendengar kata Australia. Semua kenangan lamanya serasa tiba-tiba datang menyerbunya. Semua kenangan yang ia benci di masa lalunya yang tak pernah ia harapkan untuk datang menyeruak permukaan otaknya.
“mwo? Apa maksud anda? Apa untuk pertunjukan fingerstyle Suho tidak sendiri?”
“ne, Prof. Smith dari Universitas Perth Australia begitu tertarik padamu dan merekomendasikan salah satu gitaris berbakatnya untuk berkolaborasi denganmu. Ottokhae? Apa kau keberatan?” tanya prof jung pada Suho yang terpaku mengingat masa kelamnya. Dia menatap gurunya sejenak. “aku tak akan keberatan jika dia tidak mengacaukan kerja kerasku selama 6 bulan ini.” jawab Suho setenang mungkin meyakinkan prof jung juga dirinya sendiri bahwa tak akan terjadi hal-hal yang ingin ia buang dalam memorinya.
Prof jung mengangguk senang, “hemm, aku yakin kau pasti setuju. Tidurlah, ini sudah terlalu larut untuk terus berlatih!”
“Chanyeol-ah, jangan berdiri di sana. tiang itu sedang dalam perbaikan sangat mudah untuk roboh. Berhati-hatilah!” imbuh prof jung tersenyum dan meninggalkan mereka.
>>>
“Park Chanyeol…!” seru seorang gadis menghentikan laju Chanyeol. Dia berbalik memastikan siapa yang memanggilnya. Setelah menangkap bayangan Naeri dari sudut matanya, ia justru kian mempercepat langkahnya. Membuat gadis cantik itu mau tak mau harus memotong usaha pelarian diri Chanyeol.
“ya, apa kau tak mendengar teriakanku?” rutuk Naeri sigap menghadang laju Chanyeol. Chanyeol mendesah tak senang melihat Naeri sudah berada di ujung perjalanannya. Entah alasan apa lagi yang harus ia utarakan agar terlepas dari kejaran gadis di hadapannya ini.
“mian aku terburu-buru. Aku masih harus menghadiri kelas sebentar lagi.” Kilah Chanyeol berusaha terus menghindar.
“ya, kau tak bisa membohongiku lagi Park Chanyeol. Sekarang aku menuntut janjimu.” Racau Naeri dengan tatapan tajam yang membuat Chanyeol membeku ketakutan. Dia memutar akal bagiamana cara menjelaskan keadaan Suho pada Naeri.
“katakan padaku, bagaimana cara meluluhkan hati Suho!” pinta Naeri meremat ujung blazer Chanyeol.
“emm, Naeri-ah! apa kau mau mendengar kisah teman dari temannya temanku?”
“jangan bermain-main denganku Park Chanyeol. Hanya katakan apa yang ingin aku dengar dan tutup mulutmu jika kau hanya membual.” Gertak Naeri kian mengencangkan genggaman tangannya pada blazer hitam Chanyeol.
“ka..ka..kau tak akan menyesal setelah mendengar ini semua.” Ujar Chanyeol gelagapan melepaskan ujung blazernya dari tangan Naeri.
“teman dari temannya temanku adalah seorang namja dingin, baginya hanya ada dua hal dalam dunia ini. yakni dirinya sendiri dan juga mimpinya. Dia hanya bertindak sesuka hatinya dan tak pernah mau tau urusan orang lain. suatu hari, datanglah seorang gadis yang membuatnya tak dapat untuk tidak memperhatikan gadis manis itu. Gadis itu mengajarkannya bahwa dia tak hidup sendiri dalam dunia ini. dimana kau akan menemukan hal indah jika kau mau menengok dari sudut pandang yang berbeda. Ketika namja itu mulai berubah dan percaya, gadis itu justru menghempaskan perasaannya. Hingga kini dia tak dapat melupakan sakit hatinya. Dia memilih untuk menutup rapat-rapat hatinya dari gadis manapun.” Jelas Chanyeol hati-hati begitu meyakinkan.
“apa ini kisah Suho?” Chanyeol mengangkat bahu memberi kesempatan pada Naeri untuk berpikir sendiri mengambil kesimpulan.
Sedetik gadis itu terdiam bergelut dalam pikirannya sendiri. dengan cepat ia menarik kesimpulan mungkinkah ini alasannya mengapa seorang Kang Naeri yang begitu sempurna kini terabaikan oleh seorang namja dingin semacam Suho, sedangkan Chanyeol secara diam-diam melenggang menjauh dari Naeri yang selama 2 bulan ini menjadikannya buronan karna rasa ingin tahunya bagaimana cara menaklukkan mahluk tampan bernama Kim Junmyung itu.
>>>
Jarum pendek jam dinding aula bergerak dan berhenti tepat pada angka 5, 10 menit sudah berlalu sejak jadwal latihan hari ini dimulai namun prof jung belum juga menampakkan wujudnya. Para mahasiswa yang berpartisipas dalam pertunjukkan tahunan inipun terlihat masih santai bercakap-cakap dengan teman-temannya. Hanya Suho yang menyendiri di sudut ruangan sambil mendengarkan alunan gitar akustiknya. Memastikan bahwa gitarnya masih dalam keadaan baik-baik saja sebelum latihan dimulai.
“annyeong hasseyo…!” sapa prof jung berjalan terburu-buru memasuki auditorium yang dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswanya. Dibelakangnya mengekor seorang gadis dengan gitar akustik yang bertengger pada punggungnya. Perlahan kerumunan-kerumunan itu menyibak rapi dan membungkuk memberi salam pada gurunya.
“perkenalkan dia Kim Yunhee dari Universitas Perth Australia yang direkomendasikan oleh Prof. Smith. Dia akan bergabung dalam pertunjukan kita, atau lebih tepatnya dialah yang akan berkolaborasi dengan Suho.” Jabar prof jung memperkenalkan seorang gadis manis di sampingnya yang tersenyum ramah pada setiap pasang mata yang kagum melihatnya.
Deg, Kim Yunhee, kepala Suho yang sedari tadi menunduk tak mau tau kini secara reflex memandang dari manakah suara itu berasal. Jantungnya berdebar kencang ketika tepat hari ini ia harus melihat wajah gadis itu. Gadis yang begitu ia benci. Satu waktu mata mereka saling bertemu, membuat Suho kian marah harus melihat sirat senyum dalam tatapan gadis itu. Dia melengos kesal dan mencampakkan gitarnya begitu saja. Dia bangkit dan mengahampiri prof jung.
“mian saem, aku keluar dari pertunjukkan ini.” cetus Suho membungkuk lalu melenggang menjauh meninggalkan prof jung yang ternganga tak percaya akan keputusan Suho yang begitu tiba-tiba.
“mwo? Ya, Kim Junmyung…” seru prof jung memanggil Suho yang melenggang keluar auditorium dengan suara prof jung masih saja memanggil namanya untuk kembali.
End POV
>>>
Suho POV
Wajah itu, tatapan itu, dan senyum itu. Mengapa hari ini aku harus melihatnya lagi? Mengapa ia hadir disaat aku mulai bangkit namun belum cukup memiliki kekuatan untuk membencinya. Tak puaskah kau merebut semua mimpiku dan menghempaskan perasaanku begitu saja setelah kau dapatkan apa yang kau mau? Mengapa kau harus kembali lagi, bahkan kini mengambil lagi kesempatanku?
selamat kau diterima di Universitas Perth Australia!”
Suho, kau dengar itu? Aku diterima…!”
Bunyi itu lagi-lagi berdengung di telingaku. Suara tak berdosanya yang terus memamerkan kertas penerimaan mahasiswa baru yang seharusnya menjadi milikku. Impianku hancur seketika dalam semalam oleh orang itu. Bagiku dia tak lebih dari seorang gadis berwajah dua yang memanfaatkanku.
“Suho…!” seru suara lembut dibelakang punggungku. Aku mengenali suara ini. suara sendu yang dulu membuatku susah sekali untuk tidak menoleh mencari dari mana suara ini berasal. Namun kali ini, otakku turut mensugesti agar kepalaku tak berputar untuk menatapnya. Tak sudi rasanya mataku harus menangkap goresan tegas wajahnya.
“Suho-ah…!” ulangnya lagi yang melihatku sama sekali tak bereaksi menerima kehadirannya. Kudengar suara langkahnya mendekatiku yang masih saja terdiam di anak tangga darurat, tempatku melenyapkan diri.
“bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?” tanyanya hati-hati duduk di sampingku. Aku tak bergeming dan terus mengabaikannya.
“apa kau sudah makan? Bagaimana dengan latihanmu? Aku dengar, kaulah yang merancang konsep pertunjukan tahunan ini. aku juga sudah mendengar…”
“hentikan!” tandasku dingin. Aku menatapnya sejenak dengan tatapan penuh kebencian yang sedari dulu telah aku persiapkan jika hari ini datang.
“berhenti bertindak seolah-olah kita saling mengenal.” Imbuhku lagi.
“kau… apa kau baik-baik saja?” tanyanya terkejut memastikan bahwa yang ia dengar salah dengan senyum palsu yang terpajang pada tebal topengnya.
“ne, seperti yang kau lihat. sangat baik… untuk membencimu.” Aku berbalik hendak meninggalkannya.
“mwo?”
“ada apa sebenarnya denganmu? mengapa kau menjadi seperti ini? kau yang memulainya, tapi mengapa justru aku yang menjadi yang bersalah seperti ini?” Yunhee menahanku dengan ucapannya. Aku mendengar suara serak dalam tiap ucapnnya.
“perlukah aku menegaskan seberapa jahatnya kau?” tawarku tetap menatapnya dingin dengan sedikit senyum merendahkan di sudut bibir. Dia terdiam tak menyangka bahwa kalimat itu akan keluar dari mulutku. Dia mencoba untuk tetap tenang menahan tangisnya. Kulanjutkan langkah kakiku pergi menjauhinya.
>>>
“apa perlu kau keluar dari pertunjukan itu?” tanya Chanyeol siap melayangkan bola basketnya ke ring. Aku masih terdiam memeluk gitarku dengan tatapan kosong.
“menurutmu apa yang harus aku lakukan? Tetap bertahan dan setiap hari harus melihat topengnya itu?” kurebahkan gitarku di samping dan memperhatikan Chanyeol yang masih berkutat dengan bolanya.
“lalu apa dengan meninggalkan pertunjukkan itu tidak sama saja dengan melepas impianmu? Jangan libatkan dia bila suatu saat nanti kau menyesali ini.”
“tak ada yang akan kusesali nantinya. Terus melihatnyalah yang akan membuatku semakin menyesal dan terus mengingat betapa busuknya dia.”
“apa dia serendah itu di matamu?”
“Kau tau diriku dan juga bagaimana aku dihianati. Apa masih perlu aku menjelaskan seburuk apa dia bagiku?” cibirku.
“apa kau yakin dia yang menghianatimu? Apa benar kaulah pihak yang paling menderita pada masalah ini? tidakkah kau tau bahwa dialah yang selama ini tersiksa dengan semua perlakuanmu itu? Kau jelas tahu itu kan, Kim Junmyung?” tindas Chanyeol menekankan namaku begitu dalam pada akhir kalimatnya.
“Jangan katakan kau tidak tahu, pada kenyataannya kau hanya menyangkal dan berpura-pura tidak tau. ayolah Kim Junmyung, tak ada yang salah dengan semua pilihannya. Salahkah dia tidak menolak kesempatan bagus baginya? Salahkan dia bisa menjadi seperti ini? Bukan kesalahan mereka pula yang bisa melihat bakat Yunhee lebih besar daripada dirimu. Ini juga bukan kesalahanmu karna kaulah yang membuatnya dapat memainkan gitar. Maka berhentilah mensugesti dirimu untuk membencinya. Aku tahu betul bahwa sekeras apapun kau mencobanya, kau tak akan pernah bisa untuk seutuhnya membencinya.”
“…”
“jangan seperti anak kecil lagi. Sudah cukup kau menyiksanya selama ini karna semua kediaman dan kata benci yang tak dia mengerti. Jelaskan padanya apa yang sebenarnya ada hatimu.” Imbuh Chanyeol. Dia hanya tersenyum dan pergi meninggalkanku setelah mengemasi tasnya.
Aku masih terdiam ditempat. Baiklah, ini bukan kali pertama Chanyeol mengatakan semua kalimatnya hari ini, dan lagi-lagi aku hanya terdiam tiap mendengarnya. Mungkin memang tak ada yang salah dengan semua apa yang dikatakannya, hanya saja aku yang tak ingin mengakui bahwa apa yang ia ucapkan adalah semua kebenaran yang selalu kuhindari.
“Suho-ah…!” seru prof jung tiba-tiba muncul sedikit mengejutkanku.
“bisakah kita bicara sebentar?” dia membenahi posisi kaca matanya dan turut bergabung duduk di sampingku. Aku diam tak menanggapi kehadirannya dan justru kian menyibukkan diri dengan gitarku.
“aku memang tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa kau begitu tiba-tiba mengundurkan diri dalam pertunjukkan ini. masalah apakah yang mungkin membebanimu hingga kau melepaskan pertunjukkan ini pun, aku tak tahu. Aku juga tak akan memaksamu untuk menceritakan masalahmu. aku hanya berharap kau dapat bersikap professional. Jika benar semua keputusanmu ini karna masalah pribadi, kumohon, sampingkanlah masalah itu, mari kita ciptakan pertunjukkan hebat untuk tahun ini.” pinta prof jung.
“mian saem, aku telah mengecewakan anda. Tapi keputusanku ini tak dapat berubah.”
“pertunjukkan ini tak akan berjalan baik tanpa adanya kau. Suho, kau telah mempersiapkan pertunjukkan ini begitu lama. Apa kau rela hasil kerja kerasmu menjadi sia-sia begitu saja?”
“anda tak perlu khawatir. Ada banyak orang yang terlibat dalam pertunjukkan itu, aku yakin mereka tak akan mengecewakan anda. Bukankah sudah ada gitaris dari Australia itu?” tegasku masih sibuk dengan gitarku tanpa menatap langsung matanya.
“tapi…”
“mian saem, jika sudah tidak ada lagi yang ingin anda katakan, anda dapat meninggalkan lapangan ini!” usirku menghentikan aktifitasku dan menatapnya dingin bersamaan dengan suara dering ponsel Chanyeol yang tergeletak di samping tempatku duduk. Tanpa banyak bicara lagi, prof jung beranjak meninggalkanku yang mulai tak senang dengan bujukannya untuk kembali.
Kulirik sekilas layar ponsel canyeol yang sedari tadi terus berbunyi. Kim Yunhee. Nama itu yang dapat aku tangkap pada layar itu. Untuk apa gadis itu menghubungi Chanyeol? Dengan ragu kugeser tanda dial hijau dan mendengarkan suara orang di sebrang sana yang terus-terusan memanggil Chanyeol.
“Chanyeol… apa yang harus aku lakukan…? Aku benar-benar tak mengenalinya lagi. Aku salah bila selama ini menunggu waktu untuk bertemu dengannya lagi. Aku lelah menanti dan hanya ini yang aku terima. Apa dia benar-benar membenciku? Apa salahku?” kudengar suara isak dalam tiap ceritanya. Benar ini memang suara tangisannya.
“Aku tak dapat bersabar menerima perlakuannya. Aku tak dapat berontak untuk memakinya dan menuntut penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Chanyeol-ah, tak dapatkah kau memberitahuku apa alasannya. Jebal, aku benar-benar ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Aku…” Ku tekan tanda merah pada layar ponsel Chanyeol, mengakhiri semua celotehnya. Aku tak ingin mendengarnya menangis seperti ini. dan ada apa dengannya yang harus meminta Chanyeol untuk mengatakan semuanya padanya. Apa dia benar-benar bodoh atau tak tahu diri tentang apa yang telah ia perbuat selama ini?
End POV
>>>
Author POV
Gemuruh mulai terdengar menyeringai langit senja. Perlahan titik-titik gerimis berjatuhan membasahi bumi Seoul. Membuat para pejalan kaki mempercepat langkahnya dan tak jarang pula dari mereka menepi pada halte bus maupun pelataran toko-toko di sepanjang distrik Gangnam. Begitupun dengan Suho yang juga mempercepat langkahnya untuk mencapai tudung halte, bersembunyi dari serbuan rintik hujan. Dia membuka jaketnya dan meletakkannya pada gitarnya yang kini telah bersandar di sampingnya untuk menghalau rintikan hujan yang mungkin akan menghujani gitar kesayanagnnya lagi.
“Suho-ah…!” pekik suara cempreng menggetarkan gendang telinganya. Seorang gadis berambut ikal sebahu menghampirinya dan langsung melingkarkan tangannya pada lengan Suho.
“non nuguseyo?” Suho menatap gadis itu aneh dan menepis tangan kurus yang bergelayut manja pada lengannya.
“mwo? Kau lupa siapa aku? aigo… sudah berapa kali kau tanyakan siapa aku tiap kali kita bertemu. apa ingatanmu sebegitu parahnya hingga tak dapat mengingat siapa diriku. Eoh?” oceh gadis itu berlebihan. Suho menatapnya malas dan mengedarkan pandangannya memastikan titik-titik bening yang menghalaunya tak begitu deras, hingga ia bisa melanjutkan perjalannya lagi.
Matanya berheti mengedar di ujung jalan ketika mendapati sosok gadis yang paling ia benci tengah menatapnya juga. Sebuah tangan melambai menghalangi pandangannya. Suho melirik siapakah pemilik tangan yang menutupi penglihatannya, Yunhee membungkuk dan tersenyum kearahnya, atau lebih tepatnya pada tangan gadis yang berdiri di sampingnya.
“apa maumu?” tanya Suho pada Naeri yang masih melambai pada Yunhee. Dia tersenyum senang menatap Suho yang nampak mulai menerima kehadirannya tak seperti biasa yang terus-menerus mengabaikannya.
“aku tak akan membiarkanmu terserang flu karna menembus hujan, jadi biarkan aku mengantarkanmu ke tempat tujuanmu.” Ujarnya membuaka payung pink transparannya dan menarik lengan Suho untuk mengikutinya.
Suho membuang nafas menahan sabar pada sikap agresif gadis di sampingnya ini. lagi-lagi Suho menepis tangan Naeri dan menatapnya datar. “lupakan, aku tak akan dengan mudah terserang flu hanya karna gerimis kecil seperti ini.” ujar Suho dingin mengambil gitarnya yang terbungkus jaket hitamnya dan berjalan lurus menyebarangi jalan raya dengan satu tangan menutupi kepalanya.
“ya... Kim Junmyung!” seru Naeri mengikuti langkah pelarian diri Suho.
Kepala Suho sedikit mendongak memperhatikan pergerakan rintikan hujan yang kini tak menyerbunya lagi. Sebuah payung melindunginya dari gerimis yang belum berhenti menghantarkan berkah dari langit. Dia memutar kepalanya dan mendapati Naeri dengan senyum merekah menyambutnya.
“setidaknya biarkan aku melindungi gitarmu.” Uajrnya tanpa menunggu Suho bertanya apa yang ia lakukan sekarang. Suho tersenyum simpul, kembali memperhatikan jalannya dan membiarkan Naeri terus mengekorinya dengan senyum bahagia merekah di bibir merahnya.
“Suho-ah…!” panggil Naeri hati-hati setelah sepersekian menit tak ada kalimat yang keluar darinya. Dia hanya mengekor kemana Suho melangkah dengan satu tangan terus memayungi Suho yang tak begitu menganggap kehadirannya.
“hemm?”
“jadilah namjachinguku! Jebal!” ujar Naeri tanpa dosa yang tak diindahkan oleh Suho yang masih saja berjalan menatap lurus kedepan.
“shireo.”
“wae…?” rengek Naeri menarik ujung kaos putih Suho yang langsung mendapat tatapan sinis Suho yang risih dengan tingkah gadis manis di sampingnya ini.
Perlahan Naeri melepaskan tangannya dan mengatur dirinya, “apa kau mencintai gitarmu melebihi apapun di dunia ini?” Suho mengangguk tanpa menatap Naeri.
“jongmal? Jika diberi kesempatan satu kali untuk memilih, manakah yang akan kau selamatkan, gadis yang kau cintai ataukah gitarmu yang bergantungan di ujung tebing? Dimana jika kau menyelamatkan satu diantaranya akan ada satu yang terjatuh di dasar tebing yang curam.” tanya Naeri lagi menghentikan langkah Suho. Dia menatap Naeri sejenak dan melanjutkan lagi lajunya.
“gitarku.” Jawab Suho singkat setelah sepersekian menit terdiam dalam pusaran pikirannya.
“jinjayo? Wae?”
“karna gadis yang kucintai sekarang bukanlah apa-apa lagi bagiku. Gitarku jauh lebih berharga dari gadis itu.” Jawab Suho setenang mungkin.
“Kau jahat sekali. apa kau akan menikahi gitarmu suatu hari nanti? Mengapa kau begitu melindunginya? Tanpa kau selamatkan pun gitarmu itu tetap menjadi benda mati yang hanya dapat kau sentuh. bagaimana mungkin kau membiarkan gadis yang kau cintai tergantung di tebing dan hanya memikirkan gitarmu saja?” komen Naeri kesal. Sejenak ia berpikir mungkin ada baiknya ia menyerah untuk memenangkan hati Suho sekarang saja daripada nantinya ia akan bersaing dengan benda mati semacam gitar yang baginya tak berarti.
Suho menghentikan langkahnya lagi. Ia berbalik dan menatap Naeri tajam yang langsung menghentikan ocehannya, “mian! Aku telah lancang.” Gumam Naeri menyibak poninya salah tingkah.
“untuk apa kau memintaku menjadi namjachingumu bahkan kau tak tahu apa-apa tentang diriku.” Cibir Suho yang kini sudah berbalik tak memperhatikan Naeri lagi.
“aku tahu semua tentangmu. Tantang duniamu yang hanya terisi olehmu dan juga gitarmu. Bagaimana seorang gadis yang mewarnai hidupmu dan bagaimana kau dicampakkan. Aku tahu semua itu…”
“karna kau tahu semua itulah yang membuatku semakin tak suka jika kau terus mengulik privasiku.” Tandas Suho memotong ucapan Naeri.
“Hubungan seperti apakah yang kau inginkan dariku? Jika hanya sebatas ingin memenangkan hatiku, selamanya kau tak akan pernah berada pada posisi gadis di ujung tebing itu. Karna itu jangan berikan payungmu lagi meski gitarkulah yang kau jadikan alasan. Dan jangan pernah dekati aku lagi jika kau hanya mengincar sesuatu dariku.” Ujar Suho menjauhkan tangan Naeri yang sedari tadi menggenggam batang payungnya dan pergi meninggalkan Naeri yang mematung karna semua kalimat penolakan Suho yang ia terima barusan dengan guyuran hujan yang mengiringi langkahnya.
“aish… jongmal paboya. Pabo pabo paboya….” Rutuk Naeri kesal pada dirinya sendiri. “ tak seharusnya aku selancang itu mengatakan semua yang kuketahui tentang dirinya. Ottokhaeyo? Apa yang harus kulakukan, dia tak mungkin memaafkanku… aish…” ujar Naeri frustasi mencampakkan payung pinknya menahan kesal.
>>>
“kau masih di sini?” tegur Chanyeol menyalakan lampu utama audithorium yang sedari tadi terpejam. Wujud Yunhee kini terlihat jelas di atas panggung dengan gitar akustiknya.
Yunhee tersenyum kecil dan menghentikan jemarinya, “hemm, apa yang kau lakukan disini?”
“hanya ingin memastikan keadaanmu saja.” balas Chanyeol mendekati Yunhee. “kau ingat lagu ini?” Dia mengambil alih gitar Yunhee dan memainkannya, membuat memori Yunhee berputar teringat lagu pertama yang ia nyanyikan bersama Chanyeol dan Suho.
~ lucky i'm in love with my best friend,
lucky to have been where i have been,
lucky to becoming home again
lucky we're in love in every way
lucky to have stayed where we have stayed
lucky to becoming home someday
huu ~
Yunhee menunduk dan menutupi wajahnya. sebulir air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Lagu penuh kenangan ini serasa benar-benar menyayat hatinya. seolah ini hanyalah sebuah lagu dengan melodi rumpang tanpa kesempurnaan, tiap kali ia mengingat tatapan kebencian Suho beberapa hari lalu.
“menangislah bila itu bisa membuatmu lebih baik.” Ujar Chanyeol meletakkan gitar Yunhee di sampingnya. Ia mengusap bahu Yunhee perlahan. Dan suara isak itupun kian terdengar.
“Chanyeol-ah…! Katakan padaku apa salahku hingga membuatnya begitu membenciku.”
“dia tak membencimu.” Yunhee menatap chnayeol sejenak dengan mata sembab berairnya.
“jangan membual. Dia jelas mengatakan ia membenciku.”
“apa kau tidak mengenal Suho? Manamungkin dia membencimu. Dia hanya ingin membencimu. Tak bisakah kau membedakan mana ‘membenci’ dan 'hanya ingin membenci’?”
“wae? Untuk apa ia melakukan semua itu?”
“kenapa tak kau tanyakan langsung saja padanya?” balas Chanyeol mengisyaratkan Yunhee untuk berbalik menengok siapa yang sedari tadi memperhatikan mereka. Suho berdiri tegap di ambang pintu. Terdiam terpaku memperhatikan pergerakan mereka.
“tanyakan langsung padanya! Jika kau tak ingin terus tertekan maki sajalah dia kenapa ia melakukan semua ini padamu.” Chanyeol beranjak berdiri dan meninggalkan Yunhee yang masih mematung menguasi diri.
“Suho-ah!” panggil Yunhee mencegah perpindahan Suho yang hendak meninggalkan audithorium. Dia berbalik menatap Yunhee sejenak. Kakinya malangkah perlahan mendekati Yunhee.
“10 tahun lalu tepat pada pertengahan musim semi. Di bawah patung raja Sunjong, untuk pertama kalinya kita bertemu.” ujar Suho perlahan terus melaju mendekati Yunhee. Matanya tak henti berpendar menatap Yunhee dingin. Bibirnya hanya terangkat seperti berbisik. Namun telinga Yunhee masih dapat menangkap jelas setiap kata pedas yang keluar dari pergerakan bibir Suho.
“dan ternyata kita bertemu lagi 6 tahun kemudian. Kau terus mendekatiku, memintaku untuk mengajarimu memainkan gitar. Bodohnya aku yang menyerah begitu saja dan membiarkan diriku mengajarimu. Dan setelah itu kau merampas impianku. Pergi begitu saja tanpa penyesalan…” potong Suho menatap tajam Yunhee yang telah berada di hadapnnya.
“Semua yang kukatakan tak ada yang tertinggal. Aku benar bukan?”
“Ah, aku lupa, dan akhir dari kisah antara kau dan aku, kau datang lagi di hadapanku, menanyakan apa kesalahanmu. Hahah kau lucu sekali, aku fikir kau adalah gadis pintar yang dapat berfikir cepat, hingga aku tak perlu repot-repot mengungkap kelicikanmu. Dan kau tak perlu lelah terus menangis di hadapan Chanyeol untuk meminta penjelasan kebencianku ini. jika kau mau menggunakan waktumu untuk berfikir, bukankah semuanya akan lebih cepat kau mengerti?” imbuh Suho lagi dingin.
Yunhee terbelenggu dalam diam serasa tersengat setruman listrik bertegangan tinggi yang melumpuhkannya seketika. Tak lebih dari 5 menit Suho mengungkap 10 tahun terakhir yang terjadi antara mereka.
Suho berbalik meninggalkan Yunhee yang masih saja terdiam belum bereksi dari setruman yang menyengatnya. “Suho-ah!” cegah Yunhee menguasai diri.
“napeun namja. Aku salah menilaimu selama ini.” pekik Yunhee lagi.
“aku tak menyangka bahwa kau sepicik itu. Aku salah selama ini berfikir kau berbeda dengan namja lain. Ya, kau memang berbeda, kau jauh lebih buruk dari mereka. dan kau benar, aku memang bodoh. Bodoh pernah menyukai namja sepertimu….” Hati Suho mencelos seketika. Dia berbalik menatap Yunhee yang tengah berjuang sekuat tenaga menahan laju air matanya. Bibirnya bergetar terus memakinya.
“kutarik kembali ucapanku, tak selamanya apa yang terjadi hari ini adalah rencana terbaik Tuhan untuk kehidupan di masa depan. aku menyesal mengapa aku harus memintamu saat itu. Dan aku tau kau jauh lebih menyesal dariku karna telah bertemu denganku. Keure, lupakan pertemuan kita 10 tahun yang lalu, lupakan aku pernah memintamu dan lupakan apa yang terjadi hari ini. setelah ini kita bukanlah siapa-siapa lagi. Akan kuhapus semua memori yang berhubungan denganmu. Kau dan aku, tak akan ada kata ‘kita’ setelah hari ini dan kau dapat membenciku tanpa alasan maupun selamanya membenciku aku…”
“prang…!” suara debam keras mencuat diantara pertengkaran mereka. sebongkah tiang tergoncang dan perlahan berputar hendak perpendar menindihi diapa saja yang berada tak jauh darinya. Suho berlari cepat menggapai tangan Yunhee. Ditariknya Yunhee dalam dekapannya. Tangan kirinya terangkat spontan menahan tiang yang menghantamnya kasar.
“non gwanchanayo?” lirih Suho memperhatikan keadaan Yunhee yang mematung sesaat karna 1 detik lalu mungkin dirinyalah yang terhantam tiang berat itu.
“Suho-ah…! Kau.. kau terluka.” pekik Yunhee mulai menguasai diri. Suho hanya tersenyum kecil. Tangannya terkulai lemas di lantai dengan darah yang merembes keluar dari ujung sikunya. matanya perlahan terpejam dan seketika semuanya meremang.
End POV
>>>
Yunhee POV
hantaman besi itu cukup kuat hingga membuat sendi engselnya bergeser dan keretakan pada ujung tulang pipa lengan bawahnya yang bersitatap langsung dengan tiang itu. Hal ini juga mengakibatkan pasien akan mengalami kesulitan untuk menekuk tangannya. meskipun operasi dapat berjalan lancar, setelah ini fungsi tangannya tak dapat kembali optimal seperti semula. Ada beberapa saraf yang bersinggungan dengan sendi ini terjepit. Sehingga jari tengah dan jari manisnya akan sering mati rasa setelah ini.” suara dokter itu terus berputar dan menari-nari di telingaku.
Aku menangis. Terus menangis melihatnya seperti ini. terkulai lemas dengan selang infus yang merekati kulitnya, tangan kirinya lurus terbidai dengan balutan perban membelitnya. Mata bulatnya masih saja terpejam belum mau terbuka sejak 2 hari lalu.
1 jam sebelum pentas dimulai aku masih di sini. Terus di sisinya menggenggam erat tangannya. setidaknya aku ingin tetap seperti ini sebelum ia benar-benar terbangun dan membenciku. Sebelum ia sadar dan melupakanku. Aku hanya ingin menggenggam tangannya dan menguatkanku sebelum aku melihat kenyataan aku akan menghilang dari kehidupannya secara pasti.
“kau harus kembali untuk persiapan.” Ujar Chanyeol membuyarkan lamunanku. Dia mengusap bahuku perlahan dan tersenyum meyakinkanku, “dia akan baik-baik saja. Kau mengenalnya. Dia tak akan mudah dikalahkan meskipun terhantam ribuan besi yang akan mematahkan seluruh tulangnya sekalipun.”
“bukan itu yang aku khawatirkan. Aku hanya takut apakah setelah ini aku masih sanggup melihatnya dari jauh dan melenyap dari hidupnya.”
“jangan lakukan! jika itu hanya sekedar formalitas dari penyesalanmu. Kau tak perlu menghukum dirimu sendiri melebihi kemampuanmu. Kau pasti tahu, Tuhan tak pernah menghukum hamba-Nya melampaui batas kemampuan hamba-Nya. Jadi jangan melampaui kekuasaan Tuhan dengan cara yang tak pernah Ia lakukan.” Aku menarik nafas dalam menenangkan diriku. Aku mengangguk “ini bukanlah formalitas. Aku akan pergi untuknya.” Ujarku bangkit dan perlahan melepaskan genggaman tanganku.
Clep, kurasakan seseorang menghalau lajuku dengan menggamit jemariku. Tangan berinfus itu meremat telapak tanganku lembut. Seolah memintaku untuk tak beranjak meninggalkan tangan kakunya itu. kulirik sekilas mata bulat Suho yang masih mengatup. Perlahan kelopak matanya terbuka. Sebulir Kristal bening mengalir membuka matanya.
“Suho-ah…!” panggilku memastikan bahwa dirinya benar-benar tlah terbangun.
“Suho-ah…!” panggil Chanyeol juga mendekat. “aku akan memanggil dokter.” Imbuhnya lagi keluar ruangan.
Aku memandangnya sendu menahan tangisku. Entahlah air mata apakah ini. buliran kebahagiaan karna ia telah bangun ataukah ini awal dari tangisanku yang benar-benar takut tak bisa melenyap dari hadapannya.
“Suho-ah, mi-mianhae! Aku… Aku tak bermaksud tak menepati janjiku dengan masih berada di sekitarmu. Aku hanya… aku hanya ingin…” ujarku tercekat dengan suara tangisku.
“lanjutkan saja!” lirihnya hampir tak terdengar.
“mwo?”
“katakanlah semua yang masih ingin kau utarakan padaku. bukankah pertengkaran kita belum usai? Katakan saja semua yang masih mengganjal hatimu.” Jelasnya lembut tersenyum tipis.
Dia mengangguk perlahan meyakinkanku. Bibirku bergetar menahan tangis dan mencoba menguasai diriku, “napeun namja. Jongmal baboya!” rutukku masih bertahan dari sesak tangisku.
“apa yang kau lakukan? Mengapa kau justru melindungiku? Kau bilang kau membenciku, tak seharusnya kau menyelamatkanku. Harusnya kau membiarkan tiang itu mengancurkanku. Bagaimana sekarang aku harus melenyap dari kehidupanmu? Bagaimana aku harus hidup dalam rasa bersalah seperti ini. bagaimana aku harus…” Aku menagis di sela makianku. Aku menangis ditangannya, sungguh aku tak kuasa melanjutkan ucapan-ucapanku yang ia minta. Kim junyung, noneun jongmal baboya. Jongmalhaeyo.
“setidaknya kita impas sekarang.” Jawab Suho mendongakkanku. Lagi-lagi dia tersenyum tulus seperti dulu sebelum ada jurang antara kita. “setidaknya aku tak harus meminta maaf karna telah menyakitimu. Setidaknya sakit ini dapat menghapus dosaku. Bukankah ini cukup adil?”
“jangan bercanda. Tak sadarkah kau dengan apa yang kau ucapkan? Tak ada yang adil di sini. Apa kau tidak merasakan sakitnya tanganmu? Kali ini kau harus benar-benar membenciku.”
“sekalipun aku harus kehilangan tanganku dan juga gitarku, aku tak akan menyesal telah melindungimu. Setelah ini kita bisa melenyapkan diri tanpa memiliki penyesalan. Jika ada takdir diantara kita, mungkin suatu hari nanti kita dipertemukan lagi dalam suatu kisah yang tak kita ketahui.”
“Suho-ah!”
“dimana Chanyeol? Apa dia ada luar?” tanya Suho mengalihkan pembicaraan.
Chanyeol muncul bersama dengan seorang dokter dan diikuti dengan seorang suster. Mereka melihat kami canggung, “Yunhee-ah. Ingat pertunjukkanmu.” Ujar Chanyeol mengingatkanku. Aku memandangnya risau, berpikir sejenak. Haruskah kuhadiri pertunjukkan itu dan benar-benar meninggalkan Suho tanpa kembali lagi. Aigo…
“ne.” lirihku melepaskan tangan Suho dan beranjak meninggalkan ruangan putih berbau tajam obat. Meninggalakn Suho bersama dengan orang-orang yang kupercaya untuk merawatnya. Tuhan semoga ini memang rencana terbaik yang Kau siapkan untukku.
>>>
Aku berdiri tepat diambang pintu yang akan mengantarkanku melihat dirinya di dalam ruangan serba putih itu. hatiku berkecamuk antara 2 pilihan yang tak dapat aku tentukan saat ini. ‘ya’ untuk benar-benar menghilang darinya dan tak akan muncul lagi di hadapannya. Atau ‘tidak’ untuk pengingkaran janjiku ini. Menerobos pintu itu dan melihatnya untuk terakhir kalinya sebelum aku kembali ke Australia dan benar-benar menghilang dari hidupnya. Ah, otokhae?
Aku masih diam tak beranjak dari tempatku di ambang pintu. Menanti jawaban pasti yang tak akan kusesali nantinya. Namun sayang selama apapun aku menantinya tak akan pernah ada jawabannya jika aku tak mulai bergerak. Putuskan sekarang Kim Yunhee. Ya ataukah tidak.
“kreekk…!” pintu putih itu terbuka. Seorang gadis muncul dari ruangan itu. seorang gadis yang kukenal. Yang beberapa hari lalu kujumpai dirinya tengah bergelayut manja mengekori Suho. Yang dengan ramahnya ia melambai padaku meskipun aku tak mengenalnya.
“kau di sini?” tanyanya membungkuk ramah padaku. aku tersenyum mengiyakan dan membungkuk pula padanya.
“chukkaeyo. Pertunjukkanmu 3 hari lalu sungguh luar biasa. Jika aku tak salah dengar, ketika kau menyanyikan lagu ‘Lucky’, kau bilang itu adalah lagu pertama yang kau nyanyikan bersama dengan 2 orang yang berarti dalam hidupmu ketika kau mulai menguasai permainan gitar. mengapa kau menyukai lagu itu?”
“pada saat SMA aku menyukai seseorang, dia membuatku jatuh hati ketika ia memainkan lagu itu, setelah itu aku mendekatinya dan memintanya untuk mengajariku memainkan gitar. Lagu itu bagaikan refleksi dari perasaanku yang merasa beruntung karna telah jatuh cinta pada sahabatku sendiri dan aku juga berharap dia bisa membalas perasaanku meskipun pada kenyataannya dia begitu membenciku.”
“benarkah? Kisahmu begitu serupa dengan kisah seseorang yang kusukai. Hanya saja dalam cerita itu, kau berperan sebagai gadis yang mencampakan perasaannya.” Ujarnya mengingat-ingat.
“untuk pertama kalinya ketika aku tahu bagaimana perasaannya, aku benar-benar penasaran dan ingin tahu seperti apakah gadis dalam kehidupannya. Yang dapat meluluhkan kutub dalam hatinya. Dan dengan mudah pula membakar habis perasaanya. Sungguh aku ingin bertemu dengan gadis itu dan memakinya karna membuatku begitu sulit untuk menaklukan hatinya,” ujarnya menatapku sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
“tapi setelah bertemu langsung dengannya, aku rasa aku tak ada hak untuk memakinya. dia gadis yang luar biasa. Matanya tak pernah mendusta untuk tetap bertahan dari tekanan yang ia terima. Jika aku berada di posisinya kala itu, aku tidak yakin bahwa aku akan bertahan tetap mencintanya.” Imbuhnya masih tak kumengerti.
“apa maksudmu?”
“ani. Bukan apa-apa. Hanya mengingat orang pertama yang tak memandangku seutuhnya. ige!” ujarnya menyodorkan secarik kertas padaku.
“mwoeyo?” perlahan aku mengambilnya dengan tanda tanya menyeruak kepalaku. kertas apa ini.
“seorang suster memberikan ini padaku. dia bilang Suho telah meninggalakan rumah sakit subuh tadi. dia berpesan untuk memberikan surat ini kepada seorang gadis yang datang kemari. Tapi aku fikir suster itu sudah salah orang. Kurasa kaulah yang ia maksud.” Jelasnya tersenyum ramah.
“Keure, aku harus pulang sekarang. Sampai jumpa lain waktu. Anyeonghi gasipsio!” pamitnya membungkuk ramah lagi padaku dan beranjak pergi meninggalkanku yang terus mengawasinya hingga wujud kurusnya menghilang di ujung koridor.
Kuperhatikan lagi kertas yang baru saja ia berikan padaku. sebuah tulisan lama yang begitu kukenal. Merangkai kata demi kata yang memenuhi halamannya.
ketika kau membaca surat ini, itu berarti perlahan aku mulai menghilang dari kehidupanmu sesuai dengan apa yang kau mau. aku memang tak bisa menghilang secara misterius begitu saja. Surat ini hanya sebuah jejak yang akan menunjukkan padamu ada apa antara kau dan aku.Taukah kau, jika aku diperbolehkan memilih, aku tak akan menyesal menghampirimu yang tengah menangis di bawah patung raja sunjong 10 tahun lalu. Aku tak akan menyesal kau tiba-tiba hadir dan masuk dalam hidupku. Memaksaku untuk mengajarimu memainkan gitar, dan aku tak akan menyesali rasa benciku yang tak dapat aku kendalikan seperti apa keinginanku. Selama masa suram itu datang, aku belajar untuk memahami perasaanku sendiri mengapa aku begitu ingin membencimu dan mengapa kau begitu sulit untuk kubenci. Apakah sakit yang kau torehkan belum cukup untuk mengukir benci dalam hatiku? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul memenuhi kepalaku. Aish bahkan aku hampir gila memikirkan semua itu. dan taukah kau jawaban apa yang aku dapat sejak pertemuan pertama kita di hadapan raja sunjong hingga kau terus menggenggam tanganku? Sama halnya dengan Jason Mraz yang begitu beruntung merasakan cinta dari sahabatnya sendiri, akupun demikian karna alasan sesungguhnya aku membencimu adalah karna aku mencintaimu. Jebal mianhaeyo, Yunhee-ah!”
sakit. ulu hatiku terasa begitu sakit setelah membaca surat ini. mengapa kisah ini begitu rumit. Mengapa kita di pertemukan lagi untuk sebuah kebencian dan berakhir pada sebuah kenyataan pahit? Mengapa kau memaksaku harus memintamu melenyap, begitupun aku yang harus tak terlihat olehmu, setelah kita saling mengetahui bahwa ada sebuah kisah yang tak tertuntaskan antara kau dan aku? Napeun namja noneun jongmal paboika Kim Junmyung.
Baiklah, pergi dan melenyap adalah pilihan kita. Jika itu yang kau mau, aku pun akan pergi hingga takdir yang akan membawa kita bertemu lagi dengan sebuah kisah yang terahasiakan antara kau dan aku. yang mungkin nantinya akan menghantarkan kata kita lagi dalam kamus hidupmu dan juga diriku.














-------END-------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar