Kamis, 17 April 2014

Lost in Pathos (1/2) - BTS Fanfic


FF/LOST IN PATHOS/BTS/ROMANCE/TWOSHOOT
TITTLE                                   : LOST IN PATHOS
AUTHOR                              : Anak Timun (@noninodi)
MAIN CAST                         : KIM SEOKJIN
                                                CHO YUNJI (OC)
           JOON JUNGKOOK
GENRE                                  : ROMANCE-ANGST, BROTHERSHIP, SCHOOL LIFE
LENGTH                                : THREESHOOT
RATING                                 : General / PG-15,
BACKSONG                         : BTS – Boy in Luv
           BTS – Haruman (Just One Day)
SUMMARY                            : setiap orang memiliki titik perubahan dalam diri. Yang dapat mengubah wajah, perilaku, sikap bahkan perasaannya seiring dengan perubahan masa. Sekalipun waktu terus bergulir, musim terus berganti, tepat pada puncak musim dingin itu hatiku turut membeku, kau tetaplah dirimu dan aku tetaplah diriku. Sekeras apapun aku mencoba, aku tak dapat memusnahkan perasaanku. Karena pada titik aku berangsur menjadi seorang namja, di sanalah titik keterlambatanku menyadari bahwa seutuhnya kau adalah seorang yeoja.

Declimer                        : all cast and rule of this story is mine. kim seokjin sama joon jungkook milik diri mereka sendiri, keluarga, agency dan fandom Army. cho yunji just an original cast who was lucky to be a rule of my story :D kkk xD. Lost in Pathos milik Timun. Bangtan milik Army, Boy in Luv milik BigHit :D

Timun Says                    : yeorobueeennn...! annyeong ^^! officially author labil blog ini nemuin jati dirinya sendiri :D yuhuuu T.S.A yang dulu sekarang berubah nama jadi Anak TIMUN :D kkk. oke ff ini ori milik timun sendiri. tercipta setelah melalui proses yang panjang dan penuh liku selama satu minggu menuju Ujian Negara yang Mematikan itu. *Bahasanya* well ff ini terinspirasi dari mv boy in luv-nya BTS yang ngehiiiittsss abeees xD. gw juga ambil beberapa part di mv yang gw masukin di ff ini. tapi ada di part 2 :D oke sekalian promosi, timun rekomen banget baca ff ini sambil dengerin lagu Harumannya BTS. nah,daripada makin ngebacot, silahkan baca ff ini.happy reading :D #NoBash #NoProtes #CommentIsNeeded ^^ #JustMention @noninodi

*PS :                             : maybe there so many typos hehehe ^^V












LOVE IN PATHOS Part. 1/2

28 February 2014, Hwan High School, Pathos Porch at 07.00 KST

Aku menarik nafas dalam. Merentangkan tanganku dan memejamkan mataku sesaat, merasakan hembusan angin terakhir musim dingin. Merasakan dinginnya sisa-sisa embun salju yang mulai mencair.Merasakan kehangatan mentari di penghujung musim. merasakan semerbak wewangian sakura yang mulai bersemi.

Pathos. Tempat indah ini bernama pathos. Entah mengapa di tempat kau dapat melihat mentari bersinar dengan semilir angin yang membuaikan, tempat indah ini justru menyimpan makna kepedihan. Pada saat itu aku belum mengerti.

Pathos. Di beranda ini, aku menyendiri. Di tempat ini aku menatap. Ditempat ini aku bernafas. Di tempat ini aku hidup dan di tempat ini pula aku mati.

Dan lagi, wajah itu kembali merusak pikiranku. Menusuk tepat pada ulu hatiku. Menancap dalam pada jantungku. Ketika sekelebat bayangan semu itu berpendar menggerayangi otakku.

>>> 

FlashbackDecember 2013

Author POV

“hyung…!” seru suara serak dari balik pintu. Ia membuka paksa pintu kecil penghubung lorong dan beranda ini. memaksa seseorang yang tengah tertidur pulas di sana terbangun karena lengkingan suaranya.

Tanpa ba-bi-bu ia menarik-narik manja almamater kakaknya. Tanpa rasa bersalah telah menghancurkan ketenangan tidur siangnya.

Merasa terganggu, si kakak hanya mendesis gemas melihat tingkah menjengkelkan adiknya yang dapat melakukan apa saja untuk membangunkannya.

“mwo?” sahut si kakak meringsut membenarkan posisi nyamannya.

“ah, hyung! Ireona!” geram namja berambut maroon itu masih berusaha membangunkan kakaknya. “HYUNG…!” pekiknya lagi tepat di telinga kakaknya.

“YA!”

“Jin Hyung…!” serunya lagi masih berusaha keras membangunkan hyungnya itu.

Namja yang dipanggil jin itu mengalah. Merasa ketenangan tidur siangnya tak mungkin dapat diperbaiki lagi karena kegaduhan yang dibuat oleh adiknya, ia memilih bangun dan menatapnya.

“mwo?” ulangnya lagi. “appa mengatakan sesuatu lagi padamu?” tebaknya menyandarkan tubuhnya pada dinding pembatas beranda.

“ani.” Gelengnya cepat, ikut duduk bersandar pada pembatas beranda.

“lalu?”

“ah, hyung dengarkan aku!” rengek si adik masih bersuara begitu menyebalkan.

“apa yang perlu kudengarkan? Kau bahkan belum bercerita!” dengus jin benar-benar kesal.

“geu noona!” jin menaikkan sebelah alisnya. Belum sepenuhnya mengerti arah pembicaraan adik semata wayangnya ini.

Jungkook memutar bola matanya menahan sabar. ia dapat menebak bahwa namja tampan di sampingnya ini telah melewatkan lagi kelasnya hari ini. hingga ia tak dapat menangkap maksud kedatangannya.

“katakan dengan jelas!” sahut jin geram.

“keure, kau belum bertemu dengannya?”

“nugu?”

“heol…! Kau benar-benar melewatkan kelasmu lagi hari ini? kau benar-benar belum bertemu dengannya?” ujar jungkook masih berputar-putar. “pantas saja appa tak memperbolehkanku menirumu!” cercanya kemudian.

Jin melempar pandangan tajam mematikan. Seketika membungkam bibir tipis adiknya itu. “arraseo, arraseo! Bukan itu maksudku.” Ralat jungkook merasa bersalah.

“geundae, kau belum bertemu dengannya?”

“jika kau hanya ingin bermain tebak-tebakkan denganku, pergilah! Kau mengganggu tidur siangku.” Ujar jin gemas bersiap kembali pada posisi terbaiknya. Mengatupkan mata dan berpura-pura tak mendengar ocehan menyebalkan adiknya.

“Yunji noona!” sahut jungkook cepat sebelum jin benar-benar terlelap dan tak mendengarkannya. “Cho Yunji.” Imbuhnya lagi mempertegas nama gadis yang sedari tadi telah mengguncang perasaannya.

Jin membatalkan rencana tidur siangnya. Matanya kembali terbuka. Menegakkan tubuhnya dan menghadap jungkook penuh tanda tanya.

Jungkook mengangguk mantap, “dan kau benar-benar tak tahu?”

“eonje? Kapan kau bertemu dengannya?” tanya jin terbangun.

“ckckck…” decak jungkook begitu menyebalakn. “karena itu jangan hanya habiskan waktumu untuk tidur-tiduran saja di beranda sekolah. Sering-seringlah mengikuti kelasmu dan berhenti membolos seperti saat ini.” oceh jungkook mengggurui.

“bahkan seharusnya tak ada lagi jarak di antara kalian berdua. Dan kau belum mengetahuinya? Ck, menyedihkan.”

“YA! Joon Jungkook!”

“hari ini dia dipindahkan kemari.” Jelas jungkook menghadap lurus. “dia satu kelas denganmu hyung! Ia bahkan duduk tepat di depanmu.”

Jin terdiam sesaat. Tak berani berkomentar tentang apa yang diutarakan oleh adiknya. Ia menahan dirinya kuat untuk tidak membuka suara menanggapi kehadiran teman lamanya.

Hening.

“keurom!” jungkook kembali bersuara. Ia bangkit dan merapikan almamaternya. Menghadap ke bawah. Menatap jin yang masih mempertahankan posisi dan kediamannnya. “kau tahu bukan,aku tak akan membiarkannya pergi lagi seperti saat itu?” tanya jungkook retoris.

“jangan lagi usir dia dan membuatnya menangis hyung!” imbuhnya berlalu meninggalkan kakaknya yang masih mematung.

>>> 

“… Fragmentasi Habitat adalah sebuah proses perubahanlingkungan yang berperan penting dalam evolusi dan biologi konservasi, yang dapat disebabkan oleh proses-proses…” suara parau itu menggema memenuhi ruang kelas berpenghunikan 31 orang siswa itu. suara guru tua berkepala botak itu terus berkicau tanpa seorangpun yang mendengarkannya. Hanya sepi senyap dengan wajah-wajah malas yang memenuhi seisi  kelas.

Jin memutar-mutar bolpoinnya. Pandangannya lurus tertuju pada wujud tegap yang duduk manis di depannya. Tak sekalipun kelopakknya berkedip, berhenti memperhatikannya. Matanya terus menelusur ke dalam kenangan lamanya. Mencari dan mencari dimana letak kesalahannya.

“nappeun neo!”
“kau mengacaukan semuanya! Kka!”

Suara tangisan itu berpendar menari-nari di sekeliling kepalanya. Suara tangisan itu lagi-lagi membuatnya bingung bagaimana ia dapat menjadi yang tertuduh. Hingga saat ini ia tak dapat mengerti kejadian itu.

>>> 
Satu Minggu Kemudian, Hwan High School 15.00 KST

Jin terdiam di satu ruangan. Duduk bebas memperhatikan pergerakan teman lamanya yang hingga saat ini tak pernah menatapnya.

Yunji sesekali tersenyum membalas beberapa anak yang menyapanya. Tangannya tak berhenti bergerak memainkan tongkat sapu yang ia gunakan untuk membersihkan kelasnya. Mulai dari sudut depan kelas hingga tepat berada di sudut belakang kelas tempat jin bersemayam.

Jin menjatuhkan gumpalan kertas bertepatan dengan pergerakan tangan yunji yang menyapu kolong mejanya. Menjatuhkannya begitu saja tanpa rasa bersalah.

Yunji meniup poninya. Menahan sabar menghadapi orang asing yang begitu mengganggu kehidupannya. Mencoba bersabar berusaha tak memperdulikannya.

“yunji-ah!” sapa seorang gadis mendekatinya. Diikuti dengan 2 gadis lain yang turut menghampirinya.

“ne?”

“bukankah ini sudah satu minggu?”

“mwo?”

“bukankah ini tepat satu minggu kau bersekolah di sini?” ulang seorang gadis bermata bulat di sampingnya.

“ah, ne maja!” jawabnya disertai senyum.

“kau tidak lupa hari ini bukan?” ingat si gadis berambut merah menyala memain-mainkan ujung rambut ikalnya.

“hari ini?”

“ck,” decak gadis gembul yang pertama menyapa memutar bola matanya. “Kau tidak melupakan kesepakatan kita bukan? Kami telah mempersiapkan semuanya. Kau hanya perlu ikut bergabung.” Yunji nampak berpikir keras. Merasa ragu mengiyakan ajakan teman-temannya. Namun tolakan bukan pula ide yang tepat untuk berbaur bersama tema-teman barunya.

“ne, arrata! Aku akan ikut bersama kalian.”

“brakkk…” suara tendangan menyertai pembicaraan singkat mereka. jin menendang mejanya kasar dan berlalu menabrak bahu yunji secara frontal. Meninggalkan gerombolan gadis-gadis yang membuat telinganya pengang.

“aish… kim seok jin!” geram gadis bermata bulat begitu sebal.

“jinja… ada apa dengan orang itu?” gerutu gadis berambut merah menahan kesal.

“lupakan dia!” sahut gadis bertubuh gempal menengahi, “jadi, tunggu kami di ruang praktikum ipa sepulang sekolah. Arrachi?” imbuhnya lagi meninggalkan gadis cantik bertubuh semampai itu setelah mengiyakan ajakan ketiganya.

“ck, geu namja!”batin yunji ikut kesal.

>>> 

“wasseo?” tegur jungkook masih asyik bermain dengan ponsel mahalnya. Berangsut duduk di lantai beranda. Menempati tempat terbaik jin melarikan diri. Membuat si empunya berdecak sebal melihat singgahsananya telah berpenghunikan seorang namja dan smartphonenya.

“pikyo!”ujar jin dingin menendang kaki jungkook yang terulur bebas menghalangi jalannya. Ia ikut duduk di samping adiknya. Memposisikan dirinya pada tempat terbaiknya merajut mimpi di Pathos beranda.

“otte? Bagaimana menurutmu?” buka jungkook memasukkan ponselnya. “bukankah dia tetap terlihat cantik? Aigo… bagaimana mungkin ia tak berubah sedikitpun?” Puji jungkook mengembangkan senyum bebasnya.                               

Jin tak menjawab. berpura-pura tak mendengar pertanyaan adiknya. “aigo, ini semua karena jadwal latihanku, aku belum sempat menyapanya. Apa menurutmu ia masih mengenaliku?” Ocehnya lagi skeptis.

“haruskah aku memperkenalkan diriku lagi?” pikirnya masih belum mendapat jawaban dari kakaknya, “Atau mungkin aku harus mengajaknya berkencan?” imbuhnya.

Jin membuka matanya. Menoleh, memperhatikan adiknya yang tengah bergelut pada dunia fantasinya, “otte hyung? Menurutmu apa yang harus kulakukan?”

“molla.” Jawab jin seadanya.

“YA! Hyung!” pekik jungkook kencang.

“aish… bocah ini.” jin mendengus kesal, “lakukan apapun yang kau inginkan! Dan jangan datang lagi kemari!” usir jin tak senang.

“ck, shireo.” Tolak jungkook menarik kakinya, “hyung, apa menurutmu ia mengingatku?” tanyanya lagi.

“apa yang ingin kau dengar?” balas jin hendak mengatupkan lagi matanya.

“aish hyung! Aku benar-benar bertanya padamu.”

“menurutmu apa yang dapat membuatnya mengingtamu?” balas jin apatis.

“molla.” Gumam jungkook melemas. “aku tak pernah satu kelas dengannya. Dia jelas-jelas berada di atasku. Ck, menyebalkan sekali, mengapa ia harus satu kelas denganmu dan tak pernah satu kelas denganku?” Gerutunya mengerucutkan bibir.

“saat-saat aku bersamanya hanya pada saat persiapan pentas malam natal itu. Aku ragu apa dia masih mengingatku sekalipun aku mengingatkannya. Bagaimana menurutmu?”

“molla.”


“hyung!” lagi-lagi jungkook memekik.

“aku benar-benar menyukainya hyung. Neomu joahae!” akunya. “apapun yang terjadi, aku akan melindunginya. Aku akan menjadi seorang namja di matanya. Akan kubuat dia jatuh cinta.” Ujar jungkook membulatkan tekatnya.

Jin hanya tersenyum tipis di sudut bibirnya sambil memejamkan matanya.

>>> 

Hwan High School, Science Laboratory at 19.30 KST

Yunji kembali melihat jam di tangan kirinya. Entah sudah ke berapa kalinya ia melihat jam tangan hitamnya. Memastikan waktu yang telah berlalu begitu lambat. Ketika ke tiga teman barunya tak juga menampakkan diri menemuinya.

Koridor utama telah sepi. Hanya ada suara dering serangga yang menemaninya. Tak jarang pula beberapa nyamuk berdengung menggoda telinganya. Serta lampu neon yang menyala seadanya. Di sudut koridoritu ia terus menunggu.

sreeekk… sreeekk… sreekk…”  sesekali suara gesekan daun mengganggunya. Menimbulkan hawa horror di sekitarnya. Ia mencoba tetap tenang mengabaikan semuanya. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya.

sreeekk… sreeekk… sreekk…” Deg. Lagi-lagi suara itu semakin gencar mengganggunya. Sekeras apapun ia mencoba mengabaikan gangguan itu, ketenangannyapun mulai tumbang. Suara itu menuntunnya kembali mengingat cerita mistis yang menerornya.

Seorang namja bertangan martil berjalan goyah menyeret korbannya. Kedua tangannya di penuhi darah. Aromanya tajam menusuk. Wewangian aneh bercampur dengan anyir nanah. Bahkan derap langkahnya selalu diikuti oleh suara tangisan meronta para korbannya. Ketika sampai di ujung koridor, daun-daun akan bergoyang ketakutan. Menimbulkan suara gesekan yang membuatmu membeku seketika. Dan di saat itulah kau tak akan bisa lari dari sergapan mautnya.

Yunji menggeleng-gelengkan kepalanya. Menepis segala rasa takutnya. Tetap berusaha tenang. Sekalipun suara gesekan daun-daun itu membuatnya tak berkutik.

Derap langkah mulai terdengar memecah kesunyian. Matanya membulat sempurna. tangan kanannya mencengkram kuat dada kirinya yang berdebar hebat saking takutnya. Nafasnya mulai tersengal tak beraturan. Dengan segala keberanian yang tersisa ia mencoba bangkit memastikan sekelilingnya. Dan…

“omona!” pekiknya terkejut.Seorang namja tampan bertubuh tinggi tegap mengejutkannya. Memandangnya dingin seperti biasa.

“ka.. kau…?”

Jin masih diam dalam posisinya. Menelusuri wajah pucat gadis cantik bermarga cho itu. lalu menghela, “apa kau begitu bodoh?” ucapnya kemudian.

“mwo?”

“bagaimana bisa seorang gadis dapat dibodohi semudah itu?” jelas jin melirik bangku panjang di depan ruang praktikum ipa. Yunji ikut menoleh. Memperhatikan arah pandang namja jakung di hadapannya.

“apa maksudmu?”

“kau masih ingin menunggu mereka semalaman?”

“eoh?” Yunji membulatkan bibirnya sempurna. seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. “apa kau baru saja menawariku pulang bersama?” tanyanya memastikan.

“terserah.” Balasnya melangkah. Yunji mengikutinya. Berjalan tepat di belakang namja itu tanpa bersuara. Mengikutinya menyususuri koridor sepi yang begitu mencengkam. Sesekali ia menarik ujung jaket kulit jin ketika suara gesekan-gesekan daun kembali menakutinya.

“sampai kapan kau akan terus menempeliku?”

Yunji melepaskan cengkraman tangannya. menepis beberapa helaian rambutnya yang bergelayutan di sekitar dahinya. Mengatur dirinya sebelum mengucapkan terima kasih pada namja yang menghampirinya di tengah ketakuatn yang teramat sangat.

“gomapta!” ujarnya tersenyum kaku.

“apa kau benar-benar cho yunji?” batin jin tak lepas memperhatikannya.

“naneun cho yunji imnida.” Seolah mendengar suara hati jin, yunji memperkenalkan diri pada namja beralis tebal di hadapannya.

“apa aku menanyakannya?” sindir jin dingin.

Seolah menelan pil berukuran super yang terasa begitu pahit, yujin menahan sabar masih mempertahankan senyumannya. “ani. Tapi kurasa aku harus tetap memperkenalkan diri. Bukankah kita tak pernah bertegur sapa sebelumnya? karena itu…”

“jangan lagi menyapaku. Itu lebih baik.” Potong jin mengambil satu langkah di depan yunji.

“ah, maja!” jawab yunji menyudahi senyumannya. Terdiam beberapa saat menelan pil raksasa yang disumpalkan ke mulutnya.

“jangan mudah mempercayai ucapan orang yang baru kau kenal.” Ujar jin masih pada tempatnya.

Yunji menoleh menatap punggungnya, “kau tak pernah berubah sedikipun.” Gumam jin masih terdengar jelas. Melangkah pasti meninggalkan gadis itu seorang diri di depan gerbang Hwan di pertengahan malam.

Menyisahkan gadis cantik itu dengan puluhan tanda tanya yang melayang-layang di kepalnya, “tak pernah berubah?” ulangnya mengerutkan dahi. “eonje?”

>>> 

Hwan High School, 3-7 at 07.30 KST

“yunji-ah!”

“cho yunji!” koor suara 3 sekawan itu memenuhi telinga. Mereka berbondong-bondong menghampiri tempat persinggahan gadis cantik berlesung pipi.

“otte?”

“apa yang kau lihat?”

“apakah namja martil itu menampakkan diri?”

“apa kau berhasil merekamnya?”

“apakah dia benar-benar berbau nanah?”

“apa kau melihat wajahnya?”

“dimana namja itu memegang palunya? Di tangan kanan atau kirinya?” berbagai pertanyaan menyerbunya. menanyakan ini itu yang tak ada sangkut pahutnya dengan keadaannya.

“eopta.” Jawabnya ringan menampakkan senyumannya. “tak ada yang datang semalam.” Imbuhnya lagi memmbuat mereka meringsut malas mendengar kelanjutan ceritanya.

“heol!… apa-apaan ini?” omel gadis berambut merah.

“aish… ahjussi itu lagi-lagi menipu kita.”

“jinja, ini semua karenamu, aku kehilangan uang 100,000 wonku.” Dengus gadis bermata bulat itu.

“aish… jinja! Akan kubuat perhitungan dengan cenayang busuk itu. aigo…” racau seorang lagi.

“omo omo…!” pekik beberapa gadis berkerubung di depan kelas.

“aigo… kyeopta!”

“aigo… bukankah itu joon jungkook dari kelas 1-3?” sayup-sayup terdengar bisikan gemas para gadis menyambut kedatangan namja tampan berwajah imut yang menggemparkan seisi kelas. Yunji ikut menengok. Memperhatikan kerumunan yang terbentuk. Mencari celah dari tempatnya duduk untuk melihat siapa yang berdiri di sana.

“aku dengar dia adalah seorang trainee. Omona neomu kyeopta!” gadis gembul itu bergidik gemas.

“benarkah?” sahut seorang gadis berpita merah mengikuti obrolan mereka.

“eoh. Apa kau tak melihatnya menari di festival tahunan sekolah kemarin? Dia yang terhebat.” Jelas gadis gembul mengawali gosipnya, “aku dengar dia juga diperebutkan beberapa agensi ternama.”

“jinjayo?” gadis itu ternganga tak percaya.

“aku juga mendengar, bahwa seorang coordi noona menawarinya mengikuti casting setelah melihat vidio-vidionya menariyang diunggah di akun youtubenya. Noona-noona itu terus mendatanginya. Terus meyakinkannya untuk mengikuti casting di perusahaan tempatnya bekerja.” Jelas gadis berambut merah turut membanggakannya.

“geu… daebak…!” sahut gadis bermata bulat dan berambut merah bersamaan.

“keuge, apa yang ia lakukan di sini?”

Tak berselang lama, namja yang menjadi bahan obrolan mereka itupun terlihat. Tersenyum menawan ketika tepat berada di hadapan gadis cantik berambut lurus panjang yang menjadi pusat perhatiannya. Menatapnya dalam penuh isyarat. Yunji yang merasa diperhatikan, membalasnya dengan senyum dan tatapan tak mengerti pula.

“noona, annyeong!”

“MWO…?” seketika suara koor berjamaah kembali terdengar menggelegar. Memenuhi seisi ruangan dengan penuh keterkejutan. Ketika seorang trainee tampan yang menjadi pujaan, melemparkan senyum menawan kepada gadis asing yang tak terkenal. Semua tercengang. Tidak untuk jin yang telah menafsirkan kapan kejadian ini datang.

>>> 

Hwan High School, Cafetaria at 12.00

“cha!” jungkook meletakkan senampan penuh makanan di hadapan yunji yang masih keheranan dengan sikap manis namja di hadapannya. “ada lagi yang kau inginkan? Katakan saja, aku akan mentraktirmu.” Imbuhnya senang memamerkan deratan gigi putihnya.

“ani. Ini sudah lebih dari cukup.” Tolak yunji mengangkat kedua tangannya sejajar dengan meja. Dia masih diam. terheran-heran melihat namja tampan di depannya yang juga menatapnya penuh keteduhan.

“kau tidak ingin memakannya?” tegur jungkook melambaikan tangannya.

“ani.”

“apa kau sedang diet?” yunji menggeleng masih dengan senyuman.

Jungkook mengusap belakang rambutnya kikuk. Untuk pertama kalinya ia menyapa bahkan satu meja dengan gadis yang telah mencuri posisi cinta pertamanya sejak pertama kali mereka bertemu 7 tahun silam.

“jadi…” ucap jungkook menggantung.

“apa kita saling mengenal?” pertanyaan polos itu terucap begitu saja tanpa dosa. Yunji masih memperhatikan wajah tampan di depannya. Merasa aneh dengan orang asing yang bersikap baik padanya.

Jungkook tersenyum miris, “kurasa kau benar-benar tak mengingatku.”

“nde?”

“haruskah aku mengingatkanmu?” tawar jungkook merogoh saku dalam almamaternya. Mencari suatu benda yang dapat kembali mengingatkan gadis itu padanya.

“aku sudah lama tak memainkannya. Ada beberapa not yang sedikit terlupakan. Mian jika terdengar sumbang.” Ujar jungkook mengeluarkan harmonika dari dalam sakunya.

Ia berdehem sebentar. Mengatur suaranya sebelum membunyikan alat tiup bermelodi itu. ia mengatupkan matanya. Meniup perlahan harmonica di tangannya. memainkan sebuah lagu yang tak asing lagi di telinga gadis bermarga cho itu. beberapa saat ia terus memainkannya hingga lagu habis dan yunji tak sekalipun berkedip memperhatikannya.

“otte?”

“neo…?”

“kau sudah ingat?” tanya jungkook lagi tersenyum.

“neoneun joon jungkook?” tanya yunji skeptis. Memastikan kembali bahwa namja di hadapannya adalah namja yang sama dengan bocah kecil yang pernah ia temui beberapa tahun di masa lalunya.

Jungkook mengangguk mantap, “joon jungkook yang tergabung dalam kelompok paduan suara Stella?” namja itu kembali mengangguk, “satu-satunya anak dari kelas 3?”

“bingo!” sahutnya senang telah kembali mengingatkan gadis cantik itu.

“aigo… benarkah ini kau?” yunji semakin berbinar senang. “omona, neomu kyeopta! Kau benar-benar berbeda sekarang.”

“bukankah sekarang aku terlihattampan?” godanya berkerling menggemaskan.

Yunji tertawa kecil melihat namja tampan yang dulunya sering mengikutinya kabur dari kelas musik dan memainkan harmonica untuknya ketika ia menangis.Kini bocah itu telah tumbuh dewasa begitu mengagumkan. Masih sama manisnya jungkook yang dulu dan jungkook yang sekarang. Hanya saja goresan tegas wajah tampannya itu benar-benar menipu bahwa dirinya yang dulu tak lebih dari bocah kecil berpipi bulat bakpao.

Mereka tertawa bersama, “kau ingat saat pertama kali kau bergabung bersama kami?”

“tentu saja aku ingat. Noona-noona itu mengkerubungiku dan berlomba mencubit pipiku. heol… setelah itu aku harus pulang dengan pipi merah selama 3 hari. benar-benar memalukan.”

“apa kau mengingat eunsoo?”

“eunsoo noona? Ah, maja! Bukankah dia noona gemuk yang pipis di celana karena ketakutan melihat kacamata guru park?” yunji mengangguk sambil tertawa.

“Noona apa kau mengingat taejoon hyung? Hyung kurus yang dulu suka sekali mengejarmu?”

“taejoon? Ah, aku ingat. Dia sering sekali mengejarku dan dikejar angsa-angsa gereja. Ne, aku mengingatnya.”

“waktu benar-benar berjalan begitu cepat dan semua orang telah berubah.” Ujar yunji menyudahi tawanya.

“tentu saja. setiap orang memang memiliki titik perubahan dalam dirinya. Yang dapat mengubah wajah, perilaku, sikap bahkan perasaan mereka seiring dengan perubahan masa. Karena itulah kita berubah.” Jungkook tersenyum menatapnya.

“ne, benar.”  jawab yunji mengiyakan.

“semua orang berubah. Tapi kau tetap cho yunji yang sama.” Imbuhnya menyejukkan.Mereka saling menatap sesaat dan tertawa lagi kemudian.

“keurom…”

“mwo?” yunji menghentikan tawanya. Menatap senang adik kelasnya.

“apa kau masih mengingat ucapanku saat malam natal itu?” tanya jungkook berdehem membenarkan suaranya.

“ucapan? Ucapana apa?”

Jungkook masih tersenyum, “gwanchana. Kau tak perlu berpikir keras tentang apa yang kukatakan. Aku akan mengingatkanmu lagi nanti.” Ujar jungkook bangkit mengacak singkatrambut gadisnya.

“YA! joon jungkook!” pekik yunji tak senang.

Orang yang diteriaki justru tertawa kegirangan, mengambil kuda-kuda untuk meninggalkannya. Namun satu hal kembali menariknya, membuatnya teringat dan kembali berucap.

“noona-ya! yeogi! Datanglah kemari jika kau membutuhkan.apapun yang terjadi, jangan pernah pergi-pergi lagi seperti saat itu. arrachi?” Ujar jungkook mantap mengusap dada kirinya. Tangannyayang bebas melambai mundur pergi dari hadapan yeoja yang telah mempercepat kerja jantungnya hanya karena melihat senyumannya.

Yunji mengusap pipinya yang telah menyemu merah. Meredakan hawa panas yang menyerbak di sekitarnya. Cukup dengan beberapa kalimat singkat dari hoobaenya itu mampu membuat musim panas lokal di sekeliling wajahnya. Aigo…

>>> 

The Next Day, Hwan High School at Gynamsium

“aigo… kau lihat? Kau lihat?” seorang gadis memulai gossip paginya.

“ya. aku melihatnya.”

“nado. Aku juga melihatnya.”

“aku melihatnya juga.”

“otte? Apa kalian akan membiarkan hal ini terjadi?” ujarnya semakin memanas-manasi 2 orang temannya. “gadis itu, dia telah merebut uri kookie oppa. Jika ini terus dibiarkan, bisa saja gadis tak tahu diri itu akan benar-benar merebutnya.”

“ah, ne maja!”

“apa kita perlu menyiramnya?”

“ah, bagaimana dengan telur atau APR?”

“aish… tak bisakah kita melabraknya sekarang?”

“ya itu benar. Aku sudah tidak sabar menjambaknya dan memaki kasar tepat di depan wajah sialannya itu.”beberapa saran brutal mulai berdatangan. Gadis-gadis menyeramkan yang tergabung dalam klub tak resmi pecinta trainee joon jungkook itu mulai merundingkan rencana jahat untuk gadis yang membuat mereka mati kepanasan.

“ani. Ani. Ini baru awal. Kita adalah klub terhormat. Uri jungkookie tak akan menyukai aksi yang terlalu brutal ini. karena itu…” Jawab gadis gembul itu menggantung.

“lantas apa yang harus kita lakukan?”

“sesuatu yang ringan yang dapat membuatnya tersadar.” Ke-4 rekannya merapatkan barisan. “aku telah menyisipkan beberapa paku payung di sepatu olahraganya.” Bisiknya.

“omo!”

“jika ia beruntung ia tak akan memakai sepatunya dan hanya akan mendapatkan detensi dari guru Young karena tak mengenakan sepatu olahraganya. Tapi jika ia tak beruntung maka…”

“ia akan melukai kakinya hingga membuanya harus berjalan pincang selama beberapa hari ke depan? Benar?” sahut gadis bermata bulat menebak.

“bingo!” jawabnya senang mengedikkan jarinya. Begitu membanggakan rencana jahatnya yang akan membuatnya semakin diakui sebagai gadis terjahat seantero Hwan.

“heol…!”

“itu adalah rencana terbaik yang pernah kudengar.”

“maja. Kau benar-benar ratu dalam hal menyiksa orang.”

“jjang!” puji keduanya senang.

“tentu saja. Apapun demi jungkookie oppa! Hwaiting!” serunya menyemangati klub jahatnya.

“HWAITING!!!” sahut keempatnya serempak mengepalkan kedua telapak tangannya.

“ya ya ya… lee youngbin, bukankah itu dia?” lapor gadis berambut merah menunjuk seorang gadis yang menjadi bahan perbincangan mereka.

Yunji memasuki gynamsium seperti biasa. Tanpa luka ataupun sesuatu yang berbeda pada ke dua kakinya. Ia terlihat biasa saja.

“kau bilang kakinya akan terluka.” Todong gadis berambut merah berbisik.

“kau yakin telah memasukkan paku payung pada sepatunya?”

“ia terlihat biasa-biasa saja.” Sahut seorang lagi curiga.

“ck,” Si ketua klub brutal itu berdecak, “YA! Cho Yunji!” serunya memanggil yunji.

“nde?” yunji yang merasa terpanggil menghampiri ke-lima teman barunya.

“YA! neo…”

“kau… apa yang kau lakukan di sini?”

“nde? Tentu saja mengikuti kelas guru young.” Jawan yunji sekenanya.

“bagaimana kau bisa mengikuti kelasnya?” imbuh gadis berambut merah.

“mwol? Ada apa dengan kalian? Pertanyaan kalian aneh sekali.” yunji tersenyum keheranan.

“ck, gadis ini.” decak gadis gembul menahan sabar, “ya, bukankah sepatumu…”

“ah… seseorang meletakkan beberapa biji paku payung di sepatuku. Aku tak mungkin menggunakan sepatu berpaku seperti itu.” sahut yunji memotong pertanyaannya.

Jleb. wajah ke-limanya memucatseketika. Seolah seseorang telah menghentikan jalan pernafasan mereka setelah mendengar pernyataan singkat gadis yang gagal menjadi korbannya.

“namun untungnya, seseorang meninggalkan sepatunya untukku.”

“nu… nugu?” tanya gadis gembul tergagap melawan kebisuannya.

“emm, molla. Sepatu itu tiba-tiba muncul saat aku membutuhkannya.” Jawabnya menyungging senyuman, “keure, aku pergi!” pamitnya kemudian. Masih meninggalkan senyum kemenangan dengan sepatu yang terlihat jelas kebesaran pada kaki mungilnya.

“saesange… gadis itu!” umpat gadis berambut merah.

“sepertinya ia sedikit sulit dihadapi.”

“ck, awas saja gadis busuk itu!”

>>> 

Hwan High School, Pathos Porch 08.30

“kreeekk…” badan pintu pathos terbuka. Membuat seseorang di baliknya terlihat senang mengumbar senyum pada seorang namja yang telah lebih dulu menyendiri di bibir beranda.

“hyung!” sapanya. Tanpa menoleh, jin sudah bisa menebak siapa yang menemukannya. Si biang keributan dalam hidupnya. Satu-satunya orang yang berani mengusik ketenangannya di pathos beranda.

“mwo?” balas jin masih mempertahankan posisinya bersandar pada pembatas beranda. Matanya tak lekat memperhatikan sepasang burung yang menghinggapi pohon maple besar di depannya. “cepat katakan dan segeralah pergi!”

“aish… apa seperti ini sikap kakak kepada adiknya?” cibir jungkook melipat bibirnya.

Jin tak menggubrisnya, “keure, sebenarnya…” jungkook menggantung kalimatnya. Ia memperhatikan kedua kaki jin yang hanya terbungkus kaos kaki putih tanpa sepasang sepatu seperti biasa.

“hyung…! Sepatumu? Kau tidak memakai sepatu?” pertanyaan itu refleks terucap dari bibir tipis namja yang 2 tahun lebih muda darinya. “eodie?” imbuhnya lagi penasaran.

Jin terdiam sesaat tak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, “hyung…!” desak jungkook merengek manja.

“mwol?”

“aish… sepatumu. Dimana sepatumu?”

“guru park menyitanya.” Jawab jin singkat.

“mwo?” pekik jungkook tak percaya.”wae? bagaimana bisa guru park menyitanya?”

“molla.”

“mwo? Aigo…” jungkook tak dapat menahan tawanya. “jangan bilang dia menyita sepatumu karena kau selalu melewatkan kelasnya! Hahaha apa ini cara terbaru menghukum murid badung sepertimu? Eoh? Hahaha…” ejeknya semakin tertawa.

Jin hanya mendelik kesal melihat adik kurang ajarnya. Ia melirik sekilas kedua kaki jungkook yang tak jauh berbeda dengannya. Berkaki polos tanpa sepasang sepatu di sana.

“nodo. Dimana sepatumu?” balas jin menegakkan tubuhnya.

“aku lupa memakainya.”

“wae?”

“kurasa kau tak akan tertarik mendengarnya.” Jawab jungkook acuh.

“cih,” cibir jin memutar kembali kepalanya menghadap pohon maple di sebrang sana.

“hyung!” seru jungkook tanpa suara gelegaran tawanya. Intonasinya kembali serius seperti biasa.

Ia mengikuti pergerakan jin yang telah lebih dulu menyandarkan sikunya menghadap pemandangan indah di bibir beranda. Merasakan semilir angin yang membuai keduanya. “aku menyukainya.” Ujarnya tersenyum getir di sudut bibir.

“arro!” sambung jin menanggapi ocehan adiknya yang entah sudah ke berapa kalinya. “kau sudah sering mengatakannya.”

Jungkook kembali mengembangkan senyumannya mendengar tanggapan ringan dari kakaknya yang tak seperti biasa. “sangat menyukainya, hyung!” imbuhnya.

“rasanya begitu mencekik jika melihatnya terluka. Rasanya sangat mengiris melihatnya menangis. Rasanya begitu menyenangkan menggodanya. Dan rasanya begitu mendebarkan melihat senyumannya. Bukankah semua ini gila? Ini membingungkan hyung, tapi aku menikmatinya.” Jelas jungkook mengusap dada kirinya. Menetralisir getaran hebat hanya karena membayangkan rupa ayu gadis manis pujaannya.

“hyung, kau percaya kita bersaudara?”





-TBC-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar