Sabtu, 15 Juni 2013

FF / HATRED BREATH / EXO / TWOSHOOT / (2/2)

FF/HATRED BREATH/EXO/TWOSHOOT/SONGFIC
TITTLE : HATRED BREATH (2/2)
AUTHOR : BIM @noninodi
CAST : OH SEHUN
KIM YOOJUNG
WU YIFAN
LENGTH : ONESHOOT
GENRE : FANTACY-HOROR MISTERY/ SONGFIC (INSP : WOLF – EXO)
RATING : PG14




NB : gak pake banyak cincong di jam yang sama, nih gw kasih kelanjutan ff super gaje buat kalian. oh yah, buat adek2 kalian yang hobi baca ff, tolong dampingin yah pas baca ff ini. takut-takutnya hal2 yang gak perlu dicontoh di ff ini malah ditiru. *KanGakBolehJadiAnakDurhaka* yang belum baca part sebelumnya, nih gw kasih linknya HATRED BREATH (1/2) sekali lagi ff gaje ini murni dari otak gw setelah baca translate WOLF. cerita, alur, tokoh, tempat semua milik Tuhan dan juga gw. #NoBash #NoProtes #TidakMenerimaTerorDalamBentukApapun #TelorMataSapiItuLebihSyahdu #plakkk...

gw cinta readers gw tersayang. gw cinta Tuhan. Illuminati udah kelaut aja barengan sama Siders :P dan please, TOLONG JEJAKI BLOG INI :)   *AkuCintaKalian


>>>

Yoojung POV

Aku mengerjap. Bangun dari tidurku. Kepalaku serasa begitu berat. Kutatap sekeliling. Hanya ada pohon-pohon besar di sekitarku dan sinar mentari yang menembus kelebatan pinus di kanan kiriku.
Kurasakan sebuah perih di tanganku. Sebuah goresan dalam melingkari pergelangan tanganku. Entah. Aku tak dapat mengingat pasti bagaimana aku mendapat goresan ini maupun aku terbangun di sini. Hanya saja kurasa sesuatu mengusikku. Oh Sehun.
Entah mengapa harus dia yang melintasi otakku ketika kuterbangun dari tidurku. Dan entah serasa sebuah ganjalan mematut jantungku tiap kali wajah dingin itu melintasi memoriku.
Tak banyak waktuku yang kuhabiskan bersamanya. Bahkan mengenal baik dirinyapun tidak. Hanya saja sebuah hutang budi yang membuatku terikat padanya. Keure, aku harus menemuinya.

>>> 

Satu, dua, tiga hari berlalu dan hari ini adalah hari ke-7ia tak terlihat oleh mataku. Ya tepat satu minggu dari hari dimana aku terbangun di tengah hutan pinus dan begitu penasaran dengan sosok dinginnya.
Ya, sejak hari itu, nama itu, wajah itu dan kepribadian itu tak dapat kuusir dengan mudah dalam benang-benang memoriku. Seseorang yang benar-benar mengusik tidur dan sadarku. Entah bisa apa yang telah masuk dalam aliran darahku hingga meracuniku tak dapat membuangnya dari benakku.
Dan tepat di tempat ini aku terbangun. Bangun dari tidur singkat yang membuatku linglung.
Kuusap perlahan batang kokoh pohon pinus yang jauh dari tempatku berdiri. Sebuah bayangan hitam menyusup kasar dalam sadarku. Menjabarkan sekelebat memori yang menyakitiku. Dapat dengan jelas kutangkap wajah dingin itu yang menghempaskan tubuh seorang gadis pada permukaan kasar yang kusentuh. Menatap tajam dengan kornea yang telah memerah entah mengapa. Terus mendekat hingga wujudnya telah berubah.
Kubuka mataku perlahan, beralih mengusap kepalaku yang tiba-tiba terasa begitu berat. Aigo... bayangan apa itu? Bagaimana bisa gambaran-gambaran buruk itu menyeruk dalam otakku. Kenangan siapakah itu?
Kusandarkan tubuhku. Menyisingkan sebagian lengan baju kiriku. Kuusap perlahan bekas luka yang entah dari mana aku dapatkan. Memaksaku menyambungkan potongan-potongan pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi?
“apa yang kau lakukan di sini?” aku menoleh.kudapati wujud gagah itu lengkap dengan blazer Sopa yang serupa denganku.
“kau... kau di sini?” balasku menurunkan lengan bajuku. Sehun menatapku dingin seolah tak menginginkan keberadaanku.
“pulanglah! Di sini bukanlah tempatmu.” Imbuhnya berbalik hendak meninggalkanku. Segera kucegah langkahnya dan menahan lengannya.
“ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“mworago?”
“gumawo karna kau telah membantuku melunasi seluruh hutang keluargaku.”  Sehun hanya terdiam mengabaikan ucapanku. Dia mencoba melepaskan tanganku dan hendak berlalu meninggalkanku.
“apa kau pernah merasakan apa yang aku rasakan Oh Sehun?” Imbuhku menghentikan langkahnya.
“sebenarnya aku malu untuk datang lagi ke Sopa. setelah semua orang di sana mengetahui masalah ekonomi keluargaku. Aku malu harus berhadapan dengan mereka yang setiap harinya mengejek ayahku sebagai penipu. Melontarkan kata-kata kasar untuk menyakitiku. Mengucilkanku dan mencampakkanku seolah tak ada derajat diantara kami. Sungguh menyakitkan dan begitu mengganggu.”
“ya dan aku hampir frustasi untuk menghadapi semua keadaan ini. Keadaan yang membuatku berniat mengutuk orang tuaku karna telah melibatkanku dalam masalah mereka. Aku selalu bertanya mengapa harus aku yang merasakan hukuman sosial yang mereka lakukan? Bolehkah aku membenci mereka yang telah membuatku merasakan semua kemelut ini?”
“Namun, aku sadar. Apa yang mereka lakukan hanyalah untuk diriku. Aku tak berhak sama sekali untuk berfikir membenci apalagi tak mengakui keberadaan mereka. Apa yang aku rasakan saat itu tak seberapa berat dengan segala beban mereka selama ini. Tak adil bila aku menuntut lebih padahal mereka tak pernah meminta imbalan karna telah membesarkanku. Bukankah semua orang tua selalu mencintai anak-anak mereka?”

End POV

>>> 

Sehun POV

Hey
Just bite her
Do it with a style you’ve never used,
get rid of her before that full moon sets

bisikan suara sadis itu terdengar lagi mencambuk pertahananku untuk menjadi manusia normal sebelum langit menggelap. Suara iblis itu masih berdering terus berulang beradu dengan suara serak gadis di belakangku.
Sang surya telah berubah warna. Mengembangkan warna kemerahan  di ujung ufuk dan menandakan malam gelap akan datang. Memberikan peringatan bahwa bulatan rembulan akan segera bertengger manis di puncak kepalaku.
Hawa panas mulai merasuki ragaku. Inilah detik-detik yang paling tak menentu. Detik kebimbangan pada diriku. Aku tak dapat menahan diri untuk tak mencabiknya. Namun entah halauan dari mana yang membuat hati kecilku memberontak tak memangsanya. Yeah, you’re in big trouble.
“...Bukankah semua orang tua selalu mencintai anak-anak mereka?” celotehnya.
Api dan es dalam hatiku berkecamuk saling memburu. Dan aku mulai tak dapat menahan diriku. Untuk kedua kalinya kuhempaskan tubuhnya dan menguncinya untuk siap menerkamnya.
“a... a... apa yang kau lakukan?” tanyanya masih tak mengerti.
“jangan salahkan aku jika kau pulang hanya dengan nama. Aku sudah memberimu kesempatan untuk lari. Namun kau tak menggubrisku.” Kudengar suara detakan jantungnya tak menentu. Dapat dengan jelas kulihat urat nadinya yang menegang ketakutan. Kurasa ia mulai mengerti mengapa aku memposisikan diriku sedekat ini dengannya.
“masih adakah hati manusia pada dirimu? Untuk apa kau melakukan semua ini? Jelaskan padaku apakah hidup tanpa arah seperti ini membuatmu bahagia tuan Oh?” kecamnya.
“apa kau hanya mengulur waktumu?” sindirku tersenyum licik dan meliriknya sekilas.
“ani. Aku hanya ingin mengetahui sebahagia apakah kehidupan orang dingin sepertimu.”

Hey
Just bite her
she’ll lose her conscious
Do before the time’s over

lantunan iblis itu terdengar lagi memenuhi otakku. Pemperingatkanku, sebelum masaku habis. Memperingatkanku sebelum aku terlena dan kehilangan kebencianku. Aku masih saja terdiam tak tahu apa yang akan aku lakukan. Memangsanya ataukah melepaskannya.
“pernahkah kau menangis di pangkuan ibumu? Pernahkah kau tertawa lepas bersama dengan ayahmu? Ataukah kau pernah bertengkar dengan mereka? Menyalahkan mereka atau mungkin melepaskan segala amarahmu dan berkeluh kesah kepada mereka?”
Sedetik aku terdiam. Memori-memori lamaku meradang. Kenangan-kenangan kelam yang tak pernah ingin kuingat dalam kepalaku kini menyeruak menghancurkan pertahananku.
“ani. ayah dan ibu? Tak ada nama mereka dalam ingatanku. Mereka telah lama mati. Tak ada satupun kenangan mereka yang hidup mendampingiku. Dan aku pun tak menganggap kehadiran mereka. Hatiku telah lama mati.hanya ada kebencian dalam iringan hidupku. Aku tak tahu dan tak ingin tahu hal lainselain kebencian. Karena kebencianlah yang membuatku hidup hingga saat ini.”
“apa itu dapat membuatmu hidup bahagia?”
“setidaknya ia tak membuatku lemah.” Tandasku siap menggigitnya.
“aku tak tahu sekelam dan sehampa apa hidupmu tuan Oh. Cobalah ingat sesuatu yang ingin kau lupakan itu. Aku yakin satu hal itu ada namun selalu kau pungkiri. Bukankah kebencian dan cinta adalah dua hal yang serupa?”
Aku menatapnya dalam. Begitupun dengannya. Menatapku sendu penuh harapan bahwa aku akan kembali menjadi sosok yang mungkin lebih manusiawi. Memancing segala emosiku yang berkaitan dengan orang tuaku.
Hanya ada bayangan sosok ringkih bocah kecil yang dibiarkan terlunta-lunta oleh keluarganya sendiri. Oleh orang-orang yang menagatasnamakan keluarganya demi setumpuk harta. Seorang anak yang terjerembab dalam lingkaran hitam yang sulit untuk diputuskan. Ya, anak itu telah lama menghilang. Bergabung dengan kaum-kaum hitam yang tak pernah menyebut nama Tuhan.
Namun bayangan bocah kecil yang tertawa lepas bersama namja tua di sisinya terpapar jelas menyalin memoriku sebelumnya. Wajah cantik yeoja itu terus terbayang mengacaukan mainsetku. Suara-suara tawa itu menyusup gendang telingaku kian mempersulit pernafasanku. Membuaku berharap dua wajah itu akan menyelamatkanku dari belenggu kebencianku. Berharap mereka akan meraih tanganku dan membawaku kembali pada masa itu.
Ani. Mereka telah lama mati. Begitu lama bahkan sebelum aku mengenal betul mereka.Orang-orang yang membuatku telah menggantungkan hidupku pada mereka. Namun dengan kejamnya mereka meninggalkan dan mencampakkanku di dunia ini seorang diri.Aku membenci mereka dan begitulah seharusnya.
Aku membenci umat manusia. Manusia-manusia brengsek yang hidup penuh dengan kebohongan dan kelicikan. Manusia-manusia yang telah membesarkanku dengan kebencian untuk membenci mereka. Jadi jangan salahkan aku bila aku hidup, hanya dengan kebencian. Sama halnya dengan ratusan bangsaku yang hidup dengan nafas kebencian.
“sebenarnya apa yang patut kau benci? Apa hanya karna kematian mereka yang tak dapat kau hentikan? Mengapa kau harus membenci dan menyalahkan orang tuamu yang meninggalkanmu terlebih dahulu? Apa dengan menyalahkan takdir dapat membuat mereka hidup kembali? Apakah dengan melupakan mereka dapat membuatmu bahagia? tak adakah pilihan lain selain membenci mereka? Kematian adalah hal pasti yang akan terjadi pada setiap mahluk Tuhan. Berhentilah berfikir bahwa kau hanya dapat hidup dengan kebencianmu itu.” Ujarnya masih menatapku dalam kian berharap.

~ I have lost strength in my toenail,
my appetite is disappearing
Am I sick? Do I have an illness? ~

Ada getaran hebat di dadaku. Bukan lantaran wujud kotor serigala itu akan mengambil alih ragaku. Ani. Kurasa bukan karna itu.
Lalu ada apa dengan dadaku? Mengapa hatiku sepilu ini? Bayang-bayang wajah 2 orang yang dulu kucintai itu terus mematut mengikis sebagian kebencianku selama ini. Aigo, ada apa denganku? Aku tak mungkin tergoyah hanya karna wajah palsu mereka. Ayolah. Aku hanya perlu membenci mereka dan terus membenci mereka.
Tapi, mengapa hatiku semakin terluka ketika aku harus membenci mereka?Terlebih pancaran ketulusan yang terbias oleh bening mata bulatnya. Mengapa ia terus mengatakan hal yang tak ingin aku dengar? Mengapa aku harus merasa tersiksa? Tak sepatutnya aku mengasihi mereka. Ani. Aku tak ingin seperti ini.

Hey
Snap out of it
How could your heart be stolen by a human?
She is just one bite

Suara itu lagi-lagi menampar kesadaranku yang mulai tergoyah. Bersamaan dengan kepekatan malam yang mulai mencekam. Dengan terang bulatan sempurna rembulan. Perlahan mengubahku menjadi sosok serigala besar di hadapannya.
“o... Oh Sehun? Kau kah itu?” aku hanya mengerang memintanya diam. Mengumpulkan seluruh nafsuku untuk mencabiknya sebelum akhirnya aku yang menghilang.
Namun aku sadar. Kebencianku telah terpupus. Sedikit menghilang. Tak cukup kuat untuk mempertahankan wujud kotorku. Aku melemas, berubah menjadi wujud yang aku benci lagi.

End POV

>>> 

Author POV

Wujud besar anjing pemangsa itu perlahan berubah kembali menjadi wujud lemah namja dingin bernama oh itu. Sehun kembali menjadi manusia setelah kebencian hatinya sedikit terkikis oleh ingatan yang Yoojung ucapkan.
Seorang namja berjubah hitam muncul dalam baris deretan pohon-pohon besar. Ia mendekat, menatap Sehun sanksi. Menghardiknya karna kelemahan hatinya. Ia terus mendekat dan menampar kasar wajah pucat Sehun. Begitu tak senang melihat kelemahan salah satu pengikut alirannya.
“ya, apa yang kau lakukan?” cegah Yoojung ketika tangan kuat itu siap melayangkan pukulannya pada tubuh ringkih tak berdaya Sehun. Dia hanya diam menampik tangan mungil yang menghalanginya.
“apa kau tuli? Apa kau tak mendengarku? Apa kau lupa? Apa kau tak menganggapku lagi? Apa kau tak ingat siapa kau ini? Eoh?” namja itu terus memukul Sehun pada setiap pertanyaan yang ia lontarkan.
“Kebencian. Hanya kebencian yang kau butuhkan. Kau tak seharusnya mendengarkan semua ucapan gadis itu. Hanya patuhi dan dengarkan panggilan MAMA.  Ingat hanya MAMA. Jangan pernah lupa siapa yang membuatmu seperti ini!” imbuhnya lagi tak henti mendaratkan kepalan kepalan tangannya pada tubuh Sehun yang kini telah dipenuhi lumeran darah segarnya.
“hentikan! Kumohon! Berhentilah! tolong berhenti memukulnya.” Ujar Yoojung terus berusaha meredam kemarahan seseorang yang tak henti menghardik Sehun dan terus menyebut nama MAMA.
“kurasa inilah saat terakhirku. Sudah 10 tahun aku bersamamu dan tak pernah mengingat mereka. Dan sekarang aku tak cukup kuat untuk membenci mereka. Aku telah kehilangan kebencianku untuk tetap bertahan, Kris-ssi!” gumam Sehun tersenyum getir diantara kucuran darahnya yang keluar dari mulutnya.
“Sehun-ah, apa yang kau katakan?”
“kau telah membuang sedikit kebencianku dan membuatku mengingat mereka. Seperti yang aku katakan. Aku hanya hidup dalam nafas kebencian. Jika aku tergoyahkan, maka nyawakulah yang melayang.”
“baguslah jika kau mengerti. MAMA akan segera mengambil miliknya lagi.” Ujar namja sadis bernama Kris itu. Ia menghempaskan tubuh lemah Sehun ke tanah. Mulai membuka tudung kepalanya. Menatap sadis Sehun yang tengah sekarat di samping Yoojung yang berusaha menguatkannya.
Seberkas cahaya merah menyeruak mencabik wujud Sehun diikuti dengan kucuran darah dari dalam dadanya bersama dengan suara jeritan siksaan.
“hentikan tuan. Berhenti menyiksanya.” Tangis Yoojung meminta Kris menghentikan proses pencabutan nyawanya.
Krishanya menatap licik wujud Sehun yang terus meronta kesakitan karna cambukan penyiksaannya.

End POV

>>> 

Sehun POV

Apo. Neomu apayo. Cabikan ini sungguh menyakitkan. Dan inilah akhir dari semua siksaanku selama ini. Aku salah jika berfikir menjadi manusia serigala adalah pilihan terbaik dalam hidupku. Dapat mencabik jiwa-jiwa manusia yang paling aku benci. Hidup dalam segala kebencian pada tiap langkahku.
Dan hari ini, gadis di sampingku ini telah membuka mataku bahwa aku masih memiliki sesuatu untuk aku ingat. Membuatku sedikit saja melupakan kebencianku.
terima kasih kau telah membuka perban yang membelengguku. Sebuah perban yang berbalut kebencian yang menutupi jiwa kelamku selama ini. Aku akan bahagia di alam keduaku sebagai Oh Sehun dan mulai mencari lagi arti kebahagiaan tanpa nafas kebencian. Kim Yoojung. Gumawoyo. Aku tak akan pernah melupakan dirimu.

End POV

>>> 

Yoojung POV

Aku menangis. Terus menangis melihatnya tersiksa seperti ini. Seolah cabikan-cabikan tajam ini mengenaiku pula. Hingga tetesan air mataku tak sanggup kubendung lagi.
Tubuh itu tak bergerak. Terdiam kaku. Tertanda telah menjadi jasad yang terbujur kaku. Lagi dan lagi tangisku terpecah menangisi keputusannya melenyapkan dirinya.
“ya, apa yang telah kau lakukan padanya? Kembalikan dia!” bentakku mencengkram jubahnya.
Dia menatapku tak senang. “manusia lancang!” gumamnya menghempaskan tanganku dari jubahnya.
“bukan aku yang membuatnya seperti ini. Tapi dirimu. Nona!” balasnya menekankankata terakhirnya.
“mwo?”
“kaulah yang membuatnya seperti ini. Kau telah membuatnya kehilangan kebenciannya. Kau harus tahu, dia seperti ini karna kehendaknya. Dia sendiri yang bersedia hidup seperti kami. Memohon kehidupan ini kepada MAMA kami. Meminta kekekalan hidup hanya untuk membenci. Ya, dia sendiri yang ingin membenci manusia dan mencabik mereka. Kehidupannya tak hanya sekedar memangsa. Dan kebencian adalah nafasnya. Kau sendiri yang menghilangkan kebenciannya. Kau sendiri yang membuatnya tercekik kehilangan nafasnya. Kau sediri yang membuatnya mati seperti ini.” Tandas namja itu membuatku membeku. Meninggalkanku sendiri bersama jasad Sehun di sampingku.
Aku melemas. Aigo, apa yang telah aku lakukan? Benarkah aku yang telah membuatmu seperti ini Oh Sehun? Bangunlah dan jelaskan padaku apa yang telah terjadi! Jangan biarkan aku berfikir sendiri mengapa kau bisa menjadi seperti ini. Aku terlalu bodoh untuk memahamimu Oh Sehun. Mianhae.Nan jongmal mianhaeyo.

>>> 

Angin segar berhembus menerpaku bergantian. Hari ini setelah sekian lama tak kusambangi tempat ini, aku berdiri tegap lagi. Memandang batang pohon pinus gagah yang berdiri kokoh di hadapanku. Pohon pinus yang telah menjadi saksi bisu kematian seseorang yang tak aku harapkan, yang hidupnya dipenuhi dengan api kebencian.
Oh Sehun, pertemuan singkatku denganmu memberiku satu pelajaran. Ya aku tahu. Cinta itu ada, sekalipun tertutup rapat dinding kebencian di hatimu selama ini. Yang membuatmu hidup bukanlah kebencian melainkan secuil cinta yang terkubur rapat di relung jiwamu. Sesuatu yang selama ini  kau atas namakan kebencian. Dan itulah akhir hidupmu yang aku saksikan. Melepaskan belenggu kebencianmu karna kau tau hidup tak sekedar hanya untuk membenci. Sekalipun kebencian itu tak akan membuatmu lemah dan terperdaya.
Aku tahu kau telah hidup tanpa gumpalan kebencian di sana. Aku selalu melihat binar bintang yang kau kirimkan padaku setiap malam. Aku melihatnya yang menyapaku hangat sebagai kawan lama yang tak pernah terlihat. Semoga kebencian yang kau buang dapat membuatmu bahagia sekarang.








---------- END ----------



Tidak ada komentar:

Posting Komentar