FF/HATRED
BREATH/EXO/TWOSHOOT/SONGFIC
TITTLE : HATRED BREATH
(2/2)
AUTHOR : BIM @noninodi
CAST : OH SEHUN
KIM
YOOJUNG
WU
YIFAN
LENGTH : ONESHOOT
GENRE : FANTACY-HOROR
MISTERY/ SONGFIC (INSP : WOLF – EXO)
RATING : PG14
NB : gak pake banyak cincong di jam yang sama, nih gw kasih kelanjutan ff super gaje buat kalian. oh yah, buat adek2 kalian yang hobi baca ff, tolong dampingin yah pas baca ff ini. takut-takutnya hal2 yang gak perlu dicontoh di ff ini malah ditiru. *KanGakBolehJadiAnakDurhaka* yang belum baca part sebelumnya, nih gw kasih linknya HATRED BREATH (1/2) sekali lagi ff gaje ini murni dari otak gw setelah baca translate WOLF. cerita, alur, tokoh, tempat semua milik Tuhan dan juga gw. #NoBash #NoProtes #TidakMenerimaTerorDalamBentukApapun #TelorMataSapiItuLebihSyahdu #plakkk...
gw cinta readers gw tersayang. gw cinta Tuhan. Illuminati udah kelaut aja barengan sama Siders :P dan please, TOLONG JEJAKI BLOG INI :) *AkuCintaKalian
>>>
Yoojung POV
Aku mengerjap.
Bangun dari tidurku. Kepalaku serasa begitu berat. Kutatap sekeliling. Hanya
ada pohon-pohon besar di sekitarku dan sinar mentari yang menembus kelebatan
pinus di kanan kiriku.
Kurasakan sebuah
perih di tanganku. Sebuah goresan dalam melingkari pergelangan tanganku. Entah.
Aku tak dapat mengingat pasti bagaimana aku mendapat goresan ini maupun aku
terbangun di sini. Hanya saja kurasa sesuatu mengusikku. Oh Sehun.
Entah mengapa harus
dia yang melintasi otakku ketika kuterbangun dari tidurku. Dan entah serasa
sebuah ganjalan mematut jantungku tiap kali wajah dingin itu melintasi
memoriku.
Tak banyak waktuku
yang kuhabiskan bersamanya. Bahkan mengenal baik dirinyapun tidak. Hanya saja
sebuah hutang budi yang membuatku terikat padanya. Keure, aku harus menemuinya.
>>>
Satu, dua, tiga
hari berlalu dan hari ini adalah hari ke-7ia tak terlihat oleh mataku. Ya tepat
satu minggu dari hari dimana aku terbangun di tengah hutan pinus dan begitu
penasaran dengan sosok dinginnya.
Ya, sejak hari itu,
nama itu, wajah itu dan kepribadian itu tak dapat kuusir dengan mudah dalam
benang-benang memoriku. Seseorang yang benar-benar mengusik tidur dan sadarku.
Entah bisa apa yang telah masuk dalam
aliran darahku hingga meracuniku tak dapat membuangnya dari benakku.
Dan tepat di tempat
ini aku terbangun. Bangun dari tidur singkat yang membuatku linglung.
Kuusap perlahan
batang kokoh pohon pinus yang jauh dari tempatku berdiri. Sebuah bayangan hitam
menyusup kasar dalam sadarku. Menjabarkan sekelebat memori yang menyakitiku.
Dapat dengan jelas kutangkap wajah dingin itu yang menghempaskan tubuh seorang
gadis pada permukaan kasar yang kusentuh. Menatap tajam dengan kornea yang
telah memerah entah mengapa. Terus mendekat hingga wujudnya telah berubah.
Kubuka mataku perlahan,
beralih mengusap kepalaku yang tiba-tiba terasa begitu berat. Aigo... bayangan
apa itu? Bagaimana bisa gambaran-gambaran buruk itu menyeruk dalam otakku.
Kenangan siapakah itu?
Kusandarkan
tubuhku. Menyisingkan sebagian lengan baju kiriku. Kuusap perlahan bekas luka
yang entah dari mana aku dapatkan. Memaksaku menyambungkan potongan-potongan
pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi?
“apa yang kau
lakukan di sini?” aku menoleh.kudapati wujud gagah itu lengkap dengan blazer
Sopa yang serupa denganku.
“kau... kau di
sini?” balasku menurunkan lengan bajuku. Sehun menatapku dingin seolah tak
menginginkan keberadaanku.
“pulanglah! Di sini
bukanlah tempatmu.” Imbuhnya berbalik hendak meninggalkanku. Segera kucegah
langkahnya dan menahan lengannya.
“ada yang ingin aku
bicarakan denganmu.”
“mworago?”
“gumawo karna kau
telah membantuku melunasi seluruh hutang keluargaku.” Sehun hanya terdiam mengabaikan ucapanku. Dia
mencoba melepaskan tanganku dan hendak berlalu meninggalkanku.
“apa kau pernah merasakan apa yang
aku rasakan Oh Sehun?” Imbuhku menghentikan langkahnya.
“sebenarnya aku malu untuk datang
lagi ke Sopa. setelah semua orang di sana mengetahui masalah ekonomi
keluargaku. Aku malu harus berhadapan dengan mereka yang setiap harinya
mengejek ayahku sebagai penipu. Melontarkan kata-kata kasar untuk menyakitiku.
Mengucilkanku dan mencampakkanku seolah tak ada derajat diantara kami. Sungguh
menyakitkan dan begitu mengganggu.”
“ya dan aku hampir
frustasi untuk menghadapi semua keadaan ini. Keadaan yang membuatku berniat
mengutuk orang tuaku karna telah melibatkanku dalam masalah mereka. Aku selalu
bertanya mengapa harus aku yang merasakan hukuman sosial yang mereka lakukan?
Bolehkah aku membenci mereka yang telah membuatku merasakan semua kemelut ini?”
“Namun, aku sadar.
Apa yang mereka lakukan hanyalah untuk diriku. Aku tak berhak sama sekali untuk
berfikir membenci apalagi tak mengakui keberadaan mereka. Apa yang aku rasakan
saat itu tak seberapa berat dengan segala beban mereka selama ini. Tak adil
bila aku menuntut lebih padahal mereka tak pernah meminta imbalan karna telah
membesarkanku. Bukankah semua orang tua selalu mencintai anak-anak mereka?”
End POV
>>>
Sehun POV
Hey
Just bite her
Do it with a style you’ve never used,
get rid of her before that full moon sets
bisikan suara sadis itu terdengar
lagi mencambuk pertahananku untuk menjadi manusia normal sebelum langit
menggelap. Suara iblis itu masih berdering terus berulang beradu dengan suara
serak gadis di belakangku.
Sang surya telah berubah warna.
Mengembangkan warna kemerahan di ujung
ufuk dan menandakan malam gelap akan datang. Memberikan peringatan bahwa
bulatan rembulan akan segera bertengger manis di puncak kepalaku.
Hawa panas mulai merasuki ragaku.
Inilah detik-detik yang paling tak menentu. Detik kebimbangan pada diriku. Aku
tak dapat menahan diri untuk tak mencabiknya. Namun entah halauan dari mana
yang membuat hati kecilku memberontak tak memangsanya. Yeah, you’re in big trouble.
“...Bukankah semua
orang tua selalu mencintai anak-anak mereka?” celotehnya.
Api dan es dalam hatiku berkecamuk
saling memburu. Dan aku mulai tak dapat menahan diriku. Untuk kedua kalinya
kuhempaskan tubuhnya dan menguncinya untuk siap menerkamnya.
“a... a... apa yang kau lakukan?”
tanyanya masih tak mengerti.
“jangan salahkan aku jika kau pulang
hanya dengan nama. Aku sudah memberimu kesempatan untuk lari. Namun kau tak
menggubrisku.” Kudengar suara detakan jantungnya tak menentu. Dapat dengan
jelas kulihat urat nadinya yang menegang ketakutan. Kurasa ia mulai mengerti
mengapa aku memposisikan diriku sedekat ini dengannya.
“masih adakah hati manusia pada
dirimu? Untuk apa kau melakukan semua ini? Jelaskan padaku apakah hidup tanpa
arah seperti ini membuatmu bahagia tuan Oh?” kecamnya.
“apa kau hanya mengulur waktumu?”
sindirku tersenyum licik dan meliriknya sekilas.
“ani. Aku hanya ingin mengetahui
sebahagia apakah kehidupan orang dingin sepertimu.”
Hey
Just bite her
she’ll lose her conscious
Do before the time’s over
lantunan iblis itu terdengar lagi
memenuhi otakku. Pemperingatkanku, sebelum masaku habis. Memperingatkanku
sebelum aku terlena dan kehilangan kebencianku. Aku masih saja terdiam tak tahu
apa yang akan aku lakukan. Memangsanya ataukah melepaskannya.
“pernahkah kau menangis di pangkuan
ibumu? Pernahkah kau tertawa lepas bersama dengan ayahmu? Ataukah kau pernah
bertengkar dengan mereka? Menyalahkan mereka atau mungkin melepaskan segala
amarahmu dan berkeluh kesah kepada mereka?”
Sedetik aku
terdiam. Memori-memori lamaku meradang. Kenangan-kenangan kelam yang tak pernah
ingin kuingat dalam kepalaku kini menyeruak menghancurkan pertahananku.
“ani. ayah dan ibu? Tak ada nama
mereka dalam ingatanku. Mereka telah lama mati. Tak ada satupun kenangan mereka
yang hidup mendampingiku. Dan aku pun tak menganggap kehadiran mereka. Hatiku
telah lama mati.hanya ada kebencian dalam iringan hidupku. Aku tak tahu dan tak
ingin tahu hal lainselain kebencian. Karena kebencianlah yang membuatku hidup
hingga saat ini.”
“apa itu dapat membuatmu hidup
bahagia?”
“setidaknya ia tak membuatku lemah.”
Tandasku siap menggigitnya.
“aku tak tahu sekelam dan sehampa apa
hidupmu tuan Oh. Cobalah ingat sesuatu yang ingin kau lupakan itu. Aku yakin
satu hal itu ada namun selalu kau pungkiri. Bukankah kebencian dan cinta adalah
dua hal yang serupa?”
Aku menatapnya dalam. Begitupun
dengannya. Menatapku sendu penuh harapan bahwa aku akan kembali menjadi sosok
yang mungkin lebih manusiawi. Memancing segala emosiku yang berkaitan dengan
orang tuaku.
Hanya ada bayangan sosok ringkih
bocah kecil yang dibiarkan terlunta-lunta oleh keluarganya sendiri. Oleh
orang-orang yang menagatasnamakan keluarganya demi setumpuk harta. Seorang anak
yang terjerembab dalam lingkaran hitam yang sulit untuk diputuskan. Ya, anak
itu telah lama menghilang. Bergabung dengan kaum-kaum hitam yang tak pernah
menyebut nama Tuhan.
Namun bayangan bocah kecil yang
tertawa lepas bersama namja tua di sisinya terpapar jelas menyalin memoriku
sebelumnya. Wajah cantik yeoja itu terus terbayang mengacaukan mainsetku.
Suara-suara tawa itu menyusup gendang telingaku kian mempersulit pernafasanku.
Membuaku berharap dua wajah itu akan menyelamatkanku dari belenggu kebencianku.
Berharap mereka akan meraih tanganku dan membawaku kembali pada masa itu.
Ani. Mereka telah lama mati. Begitu
lama bahkan sebelum aku mengenal betul mereka.Orang-orang yang membuatku telah
menggantungkan hidupku pada mereka. Namun dengan kejamnya mereka meninggalkan
dan mencampakkanku di dunia ini seorang diri.Aku membenci mereka dan begitulah
seharusnya.
Aku membenci umat manusia.
Manusia-manusia brengsek yang hidup penuh dengan kebohongan dan kelicikan.
Manusia-manusia yang telah membesarkanku dengan kebencian untuk membenci
mereka. Jadi jangan salahkan aku bila aku hidup, hanya dengan kebencian. Sama
halnya dengan ratusan bangsaku yang hidup dengan nafas kebencian.
“sebenarnya apa yang patut kau benci?
Apa hanya karna kematian mereka yang tak dapat kau hentikan? Mengapa kau harus
membenci dan menyalahkan orang tuamu yang meninggalkanmu terlebih dahulu? Apa
dengan menyalahkan takdir dapat membuat mereka hidup kembali? Apakah dengan
melupakan mereka dapat membuatmu bahagia? tak adakah pilihan lain selain membenci
mereka? Kematian adalah hal pasti yang akan terjadi pada setiap mahluk Tuhan. Berhentilah
berfikir bahwa kau hanya dapat hidup dengan kebencianmu itu.” Ujarnya masih
menatapku dalam kian berharap.
~ I have lost strength in my toenail,
my appetite is disappearing
Am I sick? Do I have an illness? ~
Ada getaran hebat di dadaku. Bukan
lantaran wujud kotor serigala itu akan mengambil alih ragaku. Ani. Kurasa bukan
karna itu.
Lalu ada apa dengan dadaku? Mengapa
hatiku sepilu ini? Bayang-bayang wajah 2 orang yang dulu kucintai itu terus
mematut mengikis sebagian kebencianku selama ini. Aigo, ada apa denganku? Aku
tak mungkin tergoyah hanya karna wajah palsu mereka. Ayolah. Aku hanya perlu
membenci mereka dan terus membenci mereka.
Tapi, mengapa hatiku semakin terluka
ketika aku harus membenci mereka?Terlebih pancaran ketulusan yang terbias oleh
bening mata bulatnya. Mengapa ia terus mengatakan hal yang tak ingin aku
dengar? Mengapa aku harus merasa tersiksa? Tak sepatutnya aku mengasihi mereka.
Ani. Aku tak ingin seperti ini.
Hey
Snap out of it
How could your heart be stolen by a human?
She is just one bite
Suara itu lagi-lagi menampar
kesadaranku yang mulai tergoyah. Bersamaan dengan kepekatan malam yang mulai
mencekam. Dengan terang bulatan sempurna rembulan. Perlahan mengubahku menjadi
sosok serigala besar di hadapannya.
“o... Oh Sehun? Kau kah itu?” aku
hanya mengerang memintanya diam. Mengumpulkan seluruh nafsuku untuk mencabiknya
sebelum akhirnya aku yang menghilang.
Namun aku sadar. Kebencianku telah
terpupus. Sedikit menghilang. Tak cukup kuat untuk mempertahankan wujud
kotorku. Aku melemas, berubah menjadi wujud yang aku benci lagi.
End POV
>>>
Author POV
Wujud besar anjing pemangsa itu
perlahan berubah kembali menjadi wujud lemah namja dingin bernama oh itu. Sehun
kembali menjadi manusia setelah kebencian hatinya sedikit terkikis oleh ingatan
yang Yoojung ucapkan.
Seorang namja berjubah hitam muncul
dalam baris deretan pohon-pohon besar. Ia mendekat, menatap Sehun sanksi.
Menghardiknya karna kelemahan hatinya. Ia terus mendekat dan menampar kasar
wajah pucat Sehun. Begitu tak senang melihat kelemahan salah satu pengikut
alirannya.
“ya, apa yang kau lakukan?” cegah Yoojung
ketika tangan kuat itu siap melayangkan pukulannya pada tubuh ringkih tak
berdaya Sehun. Dia hanya diam menampik tangan mungil yang menghalanginya.
“apa kau tuli? Apa kau tak
mendengarku? Apa kau lupa? Apa kau tak menganggapku lagi? Apa kau tak ingat
siapa kau ini? Eoh?” namja itu terus memukul Sehun pada setiap pertanyaan yang
ia lontarkan.
“Kebencian. Hanya kebencian yang kau
butuhkan. Kau tak seharusnya mendengarkan semua ucapan gadis itu. Hanya patuhi
dan dengarkan panggilan MAMA. Ingat
hanya MAMA. Jangan pernah lupa siapa yang membuatmu seperti ini!” imbuhnya lagi
tak henti mendaratkan kepalan kepalan tangannya pada tubuh Sehun yang kini
telah dipenuhi lumeran darah segarnya.
“hentikan! Kumohon! Berhentilah!
tolong berhenti memukulnya.” Ujar Yoojung terus berusaha meredam kemarahan
seseorang yang tak henti menghardik Sehun dan terus menyebut nama MAMA.
“kurasa inilah saat terakhirku. Sudah
10 tahun aku bersamamu dan tak pernah mengingat mereka. Dan sekarang aku tak
cukup kuat untuk membenci mereka. Aku telah kehilangan kebencianku untuk tetap
bertahan, Kris-ssi!” gumam Sehun tersenyum getir diantara kucuran darahnya yang
keluar dari mulutnya.
“Sehun-ah, apa yang kau katakan?”
“kau telah membuang sedikit
kebencianku dan membuatku mengingat mereka. Seperti yang aku katakan. Aku hanya
hidup dalam nafas kebencian. Jika aku tergoyahkan, maka nyawakulah yang
melayang.”
“baguslah jika kau mengerti. MAMA
akan segera mengambil miliknya lagi.” Ujar namja sadis bernama Kris itu. Ia
menghempaskan tubuh lemah Sehun ke tanah. Mulai membuka tudung kepalanya.
Menatap sadis Sehun yang tengah sekarat di samping Yoojung yang berusaha
menguatkannya.
Seberkas cahaya merah menyeruak
mencabik wujud Sehun diikuti dengan kucuran darah dari dalam dadanya bersama
dengan suara jeritan siksaan.
“hentikan tuan. Berhenti
menyiksanya.” Tangis Yoojung meminta Kris menghentikan proses pencabutan
nyawanya.
Krishanya menatap licik wujud Sehun
yang terus meronta kesakitan karna cambukan penyiksaannya.
End POV
>>>
Sehun POV
Apo. Neomu apayo. Cabikan ini sungguh
menyakitkan. Dan inilah akhir dari semua siksaanku selama ini. Aku salah jika
berfikir menjadi manusia serigala adalah pilihan terbaik dalam hidupku. Dapat
mencabik jiwa-jiwa manusia yang paling aku benci. Hidup dalam segala kebencian
pada tiap langkahku.
Dan hari ini, gadis di sampingku ini
telah membuka mataku bahwa aku masih memiliki sesuatu untuk aku ingat.
Membuatku sedikit saja melupakan kebencianku.
terima kasih kau telah membuka perban
yang membelengguku. Sebuah perban yang berbalut kebencian yang menutupi jiwa
kelamku selama ini. Aku akan bahagia di alam keduaku sebagai Oh Sehun dan mulai
mencari lagi arti kebahagiaan tanpa nafas kebencian. Kim Yoojung. Gumawoyo. Aku
tak akan pernah melupakan dirimu.
End POV
>>>
Yoojung POV
Aku menangis. Terus menangis
melihatnya tersiksa seperti ini. Seolah cabikan-cabikan tajam ini mengenaiku
pula. Hingga tetesan air mataku tak sanggup kubendung lagi.
Tubuh itu tak bergerak. Terdiam kaku.
Tertanda telah menjadi jasad yang terbujur kaku. Lagi dan lagi tangisku
terpecah menangisi keputusannya melenyapkan dirinya.
“ya, apa yang telah kau lakukan
padanya? Kembalikan dia!” bentakku mencengkram jubahnya.
Dia menatapku tak senang. “manusia
lancang!” gumamnya menghempaskan tanganku dari jubahnya.
“bukan aku yang membuatnya seperti
ini. Tapi dirimu. Nona!” balasnya menekankankata terakhirnya.
“mwo?”
“kaulah yang membuatnya seperti ini.
Kau telah membuatnya kehilangan kebenciannya. Kau harus tahu, dia seperti ini
karna kehendaknya. Dia sendiri yang bersedia hidup seperti kami. Memohon
kehidupan ini kepada MAMA kami. Meminta kekekalan hidup hanya untuk membenci.
Ya, dia sendiri yang ingin membenci manusia dan mencabik mereka. Kehidupannya tak
hanya sekedar memangsa. Dan kebencian adalah nafasnya. Kau sendiri yang
menghilangkan kebenciannya. Kau sendiri yang membuatnya tercekik kehilangan
nafasnya. Kau sediri yang membuatnya mati seperti ini.” Tandas namja itu
membuatku membeku. Meninggalkanku sendiri bersama jasad Sehun di sampingku.
Aku melemas. Aigo, apa yang telah aku
lakukan? Benarkah aku yang telah membuatmu seperti ini Oh Sehun? Bangunlah dan
jelaskan padaku apa yang telah terjadi! Jangan biarkan aku berfikir sendiri
mengapa kau bisa menjadi seperti ini. Aku terlalu bodoh untuk memahamimu Oh
Sehun. Mianhae.Nan jongmal mianhaeyo.
>>>
Angin segar berhembus menerpaku
bergantian. Hari ini setelah sekian lama tak kusambangi tempat ini, aku berdiri
tegap lagi. Memandang batang pohon pinus gagah yang berdiri kokoh di hadapanku.
Pohon pinus yang telah menjadi saksi bisu kematian seseorang yang tak aku harapkan, yang hidupnya dipenuhi dengan api kebencian.
Oh Sehun, pertemuan singkatku
denganmu memberiku satu pelajaran. Ya aku tahu. Cinta itu ada, sekalipun
tertutup rapat dinding kebencian di hatimu selama ini. Yang membuatmu hidup
bukanlah kebencian melainkan secuil cinta yang terkubur rapat di relung jiwamu.
Sesuatu yang selama ini kau atas namakan
kebencian. Dan itulah akhir hidupmu yang aku saksikan. Melepaskan belenggu
kebencianmu karna kau tau hidup tak sekedar hanya untuk membenci. Sekalipun
kebencian itu tak akan membuatmu lemah dan terperdaya.
Aku tahu kau telah hidup tanpa
gumpalan kebencian di sana. Aku selalu melihat binar bintang yang kau kirimkan
padaku setiap malam. Aku melihatnya yang menyapaku hangat sebagai kawan lama
yang tak pernah terlihat. Semoga kebencian yang kau buang dapat membuatmu
bahagia sekarang.
---------- END ----------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar