Sabtu, 12 Oktober 2013

FF/DISTANCE BETWEEN US/SHINEE/ONESHOOT


TITTLE                   : DISTANCE BETWEEN US
AUTHOR              : T.S.A [@noninodi]
LENGHT                : ONESHOOT
GENRE                  : FAN-SHIP, SONGFIC (INSP : SELENE 6.23)
RATING                                : GENERAL
SOUNDTRACK   : SELENE 6.23




ahay setelah sekian lama vakum dari dunia per-FF-an, gw kambek algi dengan ff super gaje . sory banget buat @irpha_RA dan @YuyunOfficial yang mungkin nunggu FF yang pernah gw ceritain tapi gw gak punya endingnya. huhu TT__TT itu ntar-ntar dulu deh :O sebagai gantinya ini gw kasih ff super kilat yang cuman gw garap 2 malem doang xD LOL Happy Reading, *SoriGwLagiMalesNgecuap langsung aja

PS : typo bertebaran, POVnya punyanya Sharon Nasution :)

>>>> 
“AKU terluka, tersakiti dan tersiksa karenmu. Aku lelah dengan sebuah hubungan fantasi yang tak kan pernah kumiliki. Dapatkah kau melepasku dan membiarkan aku benar-benar membencimu? Aku terlalu lelah mengharapkan kehadiranmu.”
>>>> 

Seoul, 23 juni 2012
Aku menghela. Berdiri lesu di tepi halte bus. Menunggu sesuatu yang tak kuingini. Menanti sebuah kendaraan yang akan mengantarkanku menuju kendaraan lain yang akan membawaku pulang ke tanah asliku.
Aku menghela lelah. Buliran bening di pelupuk mataku mulai bergantung manja memintaku untuk berkedip mengeluarkannya. Terlalu lelah diriku merasakan penat hati yang hanya selalu dirundung kekecewaan.
Tuhan. Aku hanya meminta dapat dipertemukan dengan mereka. Aku hanya ingin mereka dapat melihatku. Mengerti dan tahu bahwa diriku adalah salah satu dari jutaan orang yang memuja mereka. Sungguh hanya itu.
Tuhan, haruskah aku membuat suatu kesepakatan pada-Mu? Bahwa aku tak akan pernah merengek meminta dicintai oleh satu diantara mereka? Haruskah aku membuat perjanjian dengan-Mu? bahwa aku tak akan pernah mencerca takdir yang telah Kau gariskan pada mereka? Aku hanya meminta bertemu dengan mereka. Melihat senyum mereka lebih dekat. Hanya 1 meter saja. Atau jika itu terlalu dekat, maka berilah jarak 5 hingga 10 meter agar aku dapat menjangkau mereka. Asal jangan kau bentangkah kiloan meter untuk memandang mereka.
Tes. Dan buliran air mataku tak dapat kubendung lagi. Sia-siakah semu yang telah kulalui ini? Sia-siakah usahaku untuk datang ke negri ini? Sia-siakah 3 hari ini kulalui tanpa satu kenanganpun yang dapat kupatutkan di memori?
Apa aku terdengar berlebihan? Apa aku terdengar benar-benar gila? Ya aku telah gila karena mereka. Karena telah lancang pergi ke negeri gingseng ini hanya untuk menuntaskan dahagaku bertemu dengan seseorang yang pada akhirnya tak dapat kutemui.
Aku bukan orang Korea. Bukan pula orang China maupun orang Jepang yang hanya terpisah jarak daratan dengan Korea. Bahkan ada lautan membentang di hadapanku dan ada bentangan benua yang memisahkanku.
Aku masih orang asia. Berdomisili jauh dari jangkauan 5 orang yang begitu kukagumi namun selamanya aku sadari aku tak akan pernah bisa menjangkau mereka sekalipun samudra telah kusebrangi. Karna aku hanya satu dari sekian yang mengharapkan mereka. Terlalu banyak saingan doaku jika aku memang ingin menjangkau mereka. Sulit.
Aku mengusap air mataku. Bersiap berdiri ketika pandangan mataku mulai menangkap sebuah benda kotak panjang telah siap mengangkutku. Bis itu berhenti. Bersamaan dengan kilauan lampu merah yang menusuk mataku.
Aku beranjak. Menaiki bus itu dan mulai menata perasaan kacauku. Aku masih belum rela jika harus kembali ke Indonesia tanpa hasil apa-apa. Aku masih belum ingin kembali jika hanya membawa kelelahan menunggu mereka yang tak kunjung muncul di hadapanku atau lebih tepatnya sekedar berkunjung di kantor dinas mereka.
Mataku terbelalak terbuka. Segera kutampis gejolak hatiku. Segera meninggalkan tempat dudukku yang tak lebih dari 1 menit kugunakan untuk meratapi nasib malangku. Aku berlari. Segera berlari mengejar seorang pesepeda yang kukenali.
“Jonghyun-ah!Kim Jonghyun!” panggilku meneriaki namanya di tengah keramaian trafic light malam. Ia menoleh. Mencari asal suaraku.
Aku terpaku. Dia benar... benar Kim Jonghyun. Satu dari 5 orang yang begitu ingin kutemui. Dia benar-benar Kim Jonghyun... ya Tuhan apa yang harus kulakukan?
Warna merah trafic light mulai berpindah berganti menjadi hijau terang yang lagi-lagi menusuk mataku.Jonghyun kembali mengayuh sepedanya tak lagi mempedulikan suara asing yang tak ia kenali siapa pemiliknya.
Aku segera berlari. Mengikuti kemana arah sepedanya melaju. Terus berlari dengan tas punggung yang membebani lariku malam itu. Terus berlari tak memperdulikan betapa lelahnya aku hariini. Yang aku inginkan hanya bertemu dengannya. Menyampaikan pesan bahwa aku adalah 1 dari jutaan shawols yang memujanya.
Ciiittt... suara rem mobil berdecit memekakkan telingaku. Tubuhku terjatuh. Tersungkur tertabrak sebuah mobil yang melaju dalam kecepatan tinggi yang melintas di hadapanku.
Orang-orang mengerumuniku. Mengkhawatirkanku dan mulai banyak berbisik siapakah yang harus bertanggung jawab atas keadaanku.
Aku berdiri. Mengusap darah yang menembus dan merobek lengan kemejaku. Mencoba tersenyum pada orang-orang yang mengkhawatirkanku. Seolah menunjukkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja.
Kuhiraukan tatapan orang-orang yang mengkhawatikanku. Menepis segala sakit yang menjarahi tubuhku. Kembali berlari dengan kucuran darah di siku dan memar di dahiku. Terus berlari dengan satu kaki yang menggantung. Mencengkramku dengan rasa ngilu yang begitu menghambat lajuku.
Aku kian memperlambat langkahku. Ayolah. Hanya butuh beberapa langkah lagi untuk dapat sampai di beranda gedung megah SM Entertaiment. Hanya butuh beberapa langkah lagi agar aku dapat menjangkau orag-orang yang begitu ingin kujumpai.
Sepi. Sepi senyap seperti 3 hari lalu. Bahkan sasaeng fanspun tak lagi memenuhi halaman bangunan ini. Tak ada banyak orang. Hanya seorang satpam dan beberapa mobil dan 1 sepeda yang terparkir rapi di halamannya.
Gagal. Kurasa lagi-lagi aku gagal untuk mengabadikan mememoriku mengenang mereka. Dan untuk kesekian kalinya aku merasa kedatangan bahkan lukaku ini hanya sebuah kesia-siaan karena terlalu mencintai mereka. Tuhan, apa aku ini bodoh?
Aku terduduk lemas. Menatap luka dan bangunan di hadapanku secara bergantian. Aku menangis. Menangis kencang meluapkan letupan emosiku. Aku menangis melihat lukaku. Bukan hanya sayatan luka yang menghiasi lenganku. Namun luka pedih yang tertancap tajam di dasar hatiku. Sakit sekali rasanya mencintai seseorang yang tak berhakuntuk kau miliki. Sakit sekali rasanya mengharapkan seseorang yang tak akan pernah dapat kau raih.
“kau baik-baik saja?” seseorang mendekatiku. Ikut berjongkok memandangiku iba. Seolah melihatku bagaikan seorang gadis yang telah kehilangan hidup dan masa depannya.
“kau terluka?” tanyanya memeriksa lenganku yang tak kuhiraukan sama sekali. Menjawabnya bukanlah hal penting bagiku. Saat ini yang ingin kuperioritaskan hanyalah luapan emosiku. Aku benar-benar butuh menangis saat ini juga.
Ia menarik lenganku. Menyisingkan untaian lengan kemejaku. Mulai membersihkan lukaku dan mengobatinya. “sudahlah. Jangan menangis lagi. Ini tak akan menyakitkan.” Ujarnya lagi menghiburku.
Aku kian melantangkan tangisku. Tak menggubris nasehatnya dan kian memuaskan diri meluapkan tangisanku. Aku tak perduli jika sesaat lagi,paman berseragam satpam ini akan mengusirku karena menangis sekencang ini di tengah kelarutan malam.
“bukankah kau gadis Indonesia 3 hari ini?” tanyanya lagi menyita perhatianku.
Aku menoleh. Menatap seseorang yang telah mencampuri urusanku. Atau lebih tepatnya seseorang yang telah berbaik hati mau menolongku. Aku mengangguk. Aku baru menyadari bahwa sedari tadi ia mengajakku berbicara dengan bahasa Indonesia. Bukan Korea.
“ah, jadi aku benar bahwa kau memang orang Indonesia?” ujarnya tersenyum. “apa yang kau lakukan selama ini. Apa kau baru saja pindah kemari?” aku menggeleng.
“lalu?”
“bukan apa-apa. Kau hanya akan menertawakan alasanku.”
“apakah ada hal lucu yang perlu kutertawakan setelah mendengar jawabanmu? Mungkinkah kau salah satu fans dari artis kami?” aku hanya diam menunduk dan menahan sesenggukan nafasku.
“apa aku benar? Siapa yang ingin kau temui? Super Junior? Exo? Shinee? Atau TVXQ?”
“aku kemari karena ingin bertemu dengan SHINee. Aku telah menunggu mereka begitu lama selama 3 hari ini. Sayangnya tidak seharipun aku berhasil menemui mereka.” Jawabku mengusap ingusku.
“bagaimana dengan lukamu? Bagaimana kau bisa terluka seperti ini?”
“aku hanya terjatuh ketika mengejar Jonghyun yang bersepeda kemari. Tapi keadaan malam ini tak ada bedanya dengan 3 malam yang lalu aku di sini. Tak ada SHINee dan hanya ada sepi. Keurom, dan sekarang aku ingin mengutuk diriku sendiri karena terlalu mendewakan mereka. Kurasa semua orang akan menertawakanku. Benarkan tuan? Apa sekarang aku terlihat bodoh?”
“tidak. Tak ada yang salah dengan mencintai dan membenci seseorang. Hanya saja kecintaan dan kebencianmu itu akan menjadi salah ketika kau berlebihan.” Aku menatapnya bingung, “berlebihan?”
“pernahkah kau mendengar istilah fans yang berubah menjadi anti fans?” aku mengangguk. “kebencian mereka jauh lebih berbahaya dibanding dengan kebencian seorang anti fans yang tak pernah mencintai mereka.”
“aku masih ingat betul kejadian 5 tahun yang lalu. Ketika seorang fans yang sakit hati kerena ulah idolanya. Ia berubah menjadi seorang anti fans dan menyerang idolanya hingga idolanya meninggal.” Ujarnya menerawang lurus garis pandangannya.
“aku tak akan melarangmu jika detik ini pula kau berhenti menjadi penggemar mereka. Tapi aku akan menjadi orang pertama yang melarangmu menjadi anti fans mereka. Aku akan menjadi tersangka pula jika kau menyerang mereka dan membuat salah satu ataupun dirimu sendiri terluka karena kebencian yang tak seharusnya ada.” Imbuhnya.
Aku tertenggun. Terdiam dalam balutan cerita paman tua ini yang membuatku berfikir ulang. Sedikit meragukan, benarkah ada seoraang penggemar yang menjadi pembunuh idolanya sendiri?
Aku tersenyum, “terimakasih tuan. Telah menolongku.” Imbuhku menunduk berterima kasih selayaknya orang Korea.
“apa kau akan kembali ke Indonesia sekarang?”
Aku mengangguk, “pesawatku berangkat 1 jam lagi. Aku harus kembali sekarang atau tidak selamanya.” Jawabku serak tersenyum getir mulai beranjak.
“tuan, apa kau orang Indonesia pula?” ia mengangguk tersenyum. “kalau begitu, bolehkah aku menitipakan ini padamu? Kumohon berikanlah ini pada SHINee jika mereka datang.”
“apa ini?”
“sebuah hadiah. Ini memang tak seberapa. Namun hadiah ini adalah salah satu sejarah dalam hidupku. Aku ingin mereka bersama dengan sejarah hidupku. Agar aku dapat bernafas tenang karena setidaknya jejak hidupku telah bersama dengan mereka.” Jelasku menyerahkan sebuah kotak persegi panjang yang cukup besar pada paman baik hati berseragam satpam di hadapanku ini.
“ya, akan ku sampaikan.” Jawabnya tersenyum menerima hadiahku.
“terima kasih.” Isakku tersenyum padanya. “tuan, aku ingin kau mengetahui satu hal. Salah satu alasanku dapat bertahan selama ini bersama mereka karena semua candu hatiku. Aku ingat bagaimana aku tertawa, menangis, cemburu, marah dan tersipu karena mereka. Bagaiamana aku menghabiskan waktuku menanti mereka. Bagaimana aku bersedih karena mereka dan bagaimana aku bangkit karena mereka. Seperti itulah aku mencintai mereka. Kaerna itu, aku tak akan pernah menjilat ludahku sendiri dengan berhenti mencintai mereka. Terima kasih.” Jelasku meyakinkannya juga diriku sendiri bahwa setelah hari ini aku masih menjadi penggemar mereka.
Sekalipun masaku datang dan memaksaku meninggalkan mereka aku akan tetap bertahan. Sekalipun aku benar-benar lelah menanti mereka di tengah belaian angin malam, aku akan tetap menunggu. Sekalipun aku harus kecewa melihat kemesraan mereka dengan gadis lain, aku akan mencintai mereka lebih dalam dari gadis di hadapan mereka. Apapun yang terjadi,Selamanya aku adalah penggemar mereka.
Selamat tinggal Korea!
>>> 

please look at my eyes,
i look at u from afar and wishper to my self,
please smile even once,
i can endure if i just look at your face,
if the end of my life, you are standing there,
if i scream and stretch out my hand and all my strength,
if i lash out from anger,
if i can grow lil closer to u,
i'd throw everything away and i'd run to you,
but, it’s useless,
it feels like we're closer,
so i call you in exitement,
but, there's no answer,
to you im just 1 person out of many
i pass u bye.
im not special to you
i think  i cant reach you
and i dont think i'll ever reach you
>>> 
Jakarta, 23 juni 2014
“han dul set... annyeong hasseyo! Bitnaneun SHINee-yeyo!” sapa SHINee kepada lautan lightstick hijau tosca yang memenuhi stadion gelora bung karno yang membuat kami menjerit histeris. Begitupun denganku. Menjerit histeris hingga menumpahkan setitik bening buliran air mataku.
“Indonesia... selamat malam!” sapa Onew mengulurkan microfonnya.
“have u been hot tonight...?” Hanya jeritan ya yang menggelegar memenuhi ruangan megah ini.
“ah, 3 jam telah berlalu. Benarkah 3 jam telah berlalu?” pungkas Key dengan mimik wajah kecewa yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah yang bersembunyi entah dimana. “aku benci jika encore harus datang.” Imbuh Taemin mengusap peluhnya.
“keure, setelah ini kami memiliki sebuah lagu yang di tulis sendiri oleh uri Jonghyunie.” Ujar Minho membuka lagu apa yang akan mereka nyanyikan sebagai penutup kemeriahan malam ini.
“do u love my song?” tanya Jonghyun yang mendapat jawaban ya serentak dari seluruh shawols yang memenuhi gelora bung karno.
“Jonghyun-ah, benarkah kau yang menulis lagu ini?” goda key. “sebenarnya aku tidak begitu percaya bahwa kau menulis lagu yang begitu manis seperti lagu ini. Benarkah itu dirimu?” imbuhnya lagi.
“ne tentu saja. Apa kau meragukanku?” semua shawols tertawa, “2 tahun lalu aku menerima sebuah kotak yang cukup besar berisikan sebuah lukisan unik dan sebuah jearsey basketball berwarna hijau dengan nama dan nomor punggung 6. Di dalam kotak itu juga terdapat sebuah surat berbahasa asing yang tak dapat kumengerti. Sehingga aku mengabaikan surat dan hadiah itu. Begitu lama aku mengabaikannya,
“hingga suatu hari seorang pegawai di kantor kami menceritakan seorang gadis yang berdiri berhari-hari di depan kantor kami menunggu kedatangan kami. Ia datang dari negara yang jauh dari kami. Ia datang hanya untuk bertemu dengan kami. Hingga hari terakhirnya di Korea, ia datang ke kantor kami lagi dengan simbahan darah di tubuhnya. Mendengar itu aku tertenggun tak percaya. Benarkah ada penggemar yang seperti itu? Yang begitu ingin menemui kami. Lalu ia menanyakan apakah aku sudah membaca surat itu?”
“lalu apa yang kau katakan?” tanya Onew.
“tentu saja aku mengatakan aku tak membacanya karena aku tak mengerti bahasanya. Lalu pegawai kantor itu memintaku mengambil surat itu dan bersedia menerjemahkan surat itu padaku.” Jonghyun menghentikan ceritanya. Ia tersenyum memandang kami secara bergantian dan berhenti tepat di depan kamera.
“lalu apa isi surat itu?” Taemin mulai penasaran dengan cerita Jonghyun.
“ungkapan perasaan seorang gadis yang terlalu lelah dan terluka karena mencintai kami. Ia menulis bahwa sulit sekali menggapai seberkas cahaya hidupnya. Ia juga mengatakan bodoh bila mengharapkan cahaya itu ia rengkuh. Karena selamanya seberkas cahaya hanyalah seberkas cahaya yang indah di jauh sana. Terlalu menyilaukan jika terlalu dekat dengannya. Karena seberkas cahaya bukan untuk dimiliki seorang diri. Begitulah ia menggambarkan kami yang tak dapat ia raih.” Jelas Jonghyun mulai berkaca-kaca. Matanya terus mengedar menceritakan keadaan seseorang yang turut membuatku tersentuh.
“untuk seseorang yang telah terluka karena kami, untuk seseorang yang telah mencintai kami selama ini, untuk seseorang yang mungkin telah berdiri dihadapan kami hari ini dan untuk seseorang yang mungkin telah berhenti mencintai kami. Lagu ini kami persembahkan untukmu. Terima kasih  karena telah bersama kami selama ini. Kami mencintaimu. Setulus cintamu kepada kami. Selene 6.23”
Tepukan meriah dan jeritan histeris terdengar lagi ketika Jonghyun menutup cerita mengharukan seorang fans dihadapan kami bersamaan dengan intro sebuah lagu yang telah mematut otakku. Entah perasaan hebat apa ini. Ini bukan yang pertama kalinya tengkukku merinding mendengar suara mereka. Namun ini yang pertama kalinya ketika mendengar mereka menyanyikan sebuah lagu yang seakan benar-benar mereka nyanyikan penuh ketulusan untuk kami. Bukan. Bukan untuk kami. Namun lebih tepatnya adalah lagu yang mereka nyanyikan untukku.
SHINee terima kasih. Pengalamanku 2 tahun lalu bukanlah kesia-siaan. Sekalipaun ketika itu aku tak lagi bernafas karenamu, aku tak akan pernah menyesal telah menangis di hadapanmu dan pada detik ini masih mencintaimu. terima kasih.

>>>> 



The latters



Seoul, 23 juni 2012
SHINee-yah! Bagaimana keadaanmu? Apa kau lelah? Apakah kau memiliki tidur yang cukup dalam 24 jam seharimu? Sudahkah kau berlibur sejenak?
Aish... aku gugup sekali menulis surat ini. Tanganku bergetar hebat ketika mulai bergerak menulis 5 kalimat pertama surat ini. Aku sangat gugup seolah kau benar-benar di hadapanku dan mengerti bahasaku.
SHINee-yah! Aku adalah penggemarmu. Salah satu penggemarmu yang bermukim jauh dari jangkauan matamu.  3 hari lalu aku datang ke Korea. Tanpa tempat dan tujuan yang jelas. Hanya gedung SM-lah tujuanku. Akupun tak tahu apakah hal yang kulakukan ini benar. Aku bukan sasaeng. Percayalah. Aku bukan stalker seperti mereka. Aku mungkin memang telah gila, tapi aku datang hanya ingin mengatakan bahwa aku adalah fansmu. Hanya itu, tak lebih.
Aku telah mengabaikan orang-orang yang telah melarangku datang kemari. Aku tak perduli. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau memiliki seorang fans sepertiku. Namun sayangnya apa yang mereka katakan benar. Sekalipun aku datang kemari aku tak dapat menemuimu.
Sesuatu membuatku menyadari satu hal. Sekalipun aku mendekati seberkas cahaya kehidupanku, bukan berarti aku dapat menjangkaunya. Karena seberkas cahaya itu hanya dapat dirasakan dan selamanya tak akan pernah kuraih dan kumiliki. Bodoh sekali jika aku benar-benar mengharapkan rengkuhanmu.
Bagiku kaulah seberkas cahaya itu. Seberkas cahaya yang begitu susah kuraih. Sekalipun aku mengulurkan tanganku dengan seluruh kekuatanku, aku tak akan pernah dapat menjangkaumu. Kau begitu dekat denganku, namun kau tak pernah mendengar suara teriakanku memanggil namamu. Karena bagimu, aku hanya satu diantara sekian juta penggemarmu. Lalu, apa lagi? Bagaimana aku bisa memanggilmu dan memintamu untuk sejenak menatapaku?
Terima kasih karena telah menjadi seberkas cahaya dalam hidupku, kau harus tahu bahwa seberkas cahaya akan terlihat indah ketika terlihat dari satu sudut kacamata yang berada jauh darinya. Ia akan terlihat begitu indah dan jelas. Namun, ia akan merusak mata ketika seberkas cahaya itu terlalu dekat denganmu. Dan itulah dirimu,SHINee. Dan aku tak pernah menyesal mencintaimu. tidak akan pernah lagi menyesal menjadi satu diantara orang-orang yang memujamu. Gumawoyo!



Tertanda,
Sharon Nasution


>>> 



 ~END ~

*) POINT OF VIEW IS SHARON NASUTION. 


well, aneh? gaje? harap maklum orang otak gw aja juga gaje bin lebey heheh xD oh yah ff ini juga di post di KOREASIDA happy reading all... :* 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar