TITTLE : SOME
TENABLES [2/2]
AUTHOR : T.S.A / @noninodi
MAIN CAST : -LEE YOUNGIN (OC)
-KIM MYUNGSOO
SUPPORTED CAST : -WU YIFAN (KRIS)
-JUNG SOOJUNG
(KRYSTAL)
-CHOI JINRI
LENGTH : TWOSHOOT
GENRE : ROMANCE
"EVIL lough bahagia xD hai chingudeul... keke ada yang nungguin ff gw yang super ketjeh tapi enegnya naudzubillah gak??? heheh LOL well, gw minta maaf karena FF ini telat di post gegara lemotnya provider gw minta dihajar... gggrhh >,< ah sudahlah. buat yang penasaran yang pengen tw kelanjutannnya, yang pengen baca silahkan aja baca. gw cuman mau ngingetin lagi kalo ff ini ff gw. pure dari otak alay sebelah kanan gw. pls jgn asal ngebash ff gw gegara lo nemuin kesamaan ff ini ama milik author lain. bash aja dia yang (mungkin) niru punya gw xD #PLAKKK hahahh ^^V semua jalan cerita udah gw takdirin, jadi gausah marah2 dan terima aja :P ini ff punya siapa? alur punya siapa? setting punya siapa? masbuloh?? xP #Plakkk:DiLemparinPanda10Ton
udah dari pada makin ngebacot. yuk langsung aja baca ff gw ini. oh yah, typo bertebaran, siapkan kantong kresek kalo, sakit berlanjut hubungi dokter... pay pay #NoBash #NoProtes. silahkan jejaki blog ini :) :* ILoveYa :D "
>>>
“KEBENARAN tak akan pernah menjadi benar selama kau tak pernah
menganggapnya benar.”
>>>
Youngin POV
“karma itu ada! Karena
darah selalu dibayar dengan darah. Apa yang telah kau lakukan, itu pula yang akan kau terima nantinya. berhentilah bersikap naïf dan
berhenti membuat dirimu seolah-olah terlihat tak bersalah.”
Aku berkedip perlahan. Begitu perlahan untuk mengatur ritme emosiku
setelah bayangan pertengkaran itu merasuki alam sadarku. Sudah cukup aku
menjadi gadis bodoh di masa lalu. Tak kan kubiarkan diriku semakin bodoh hanya
karena pancingan emosinya.
Clep. Tanganku menghangat seketika. Seseorang
menggenggam telapak tanganku dan menenangkan kegugupanku. Entah perasaan damai
apakah ini yang membuatku begitu nyaman berada dalam genggaman tangannya.
Aku menoleh. Menitih pandang, siapakah yang telah
menggenggam tanganku tanpa ijin. Yang telah menyelamatkanku dari semua
kegugupanku. Korneaku membualat tak percaya. Bahwa ia telah berada di sampingku
dan menenangkanku dengan genggaman hangat tangannya.
“tak
sepantasnya kalimat itu kau katakan pada teman lamamu yang telah lama
menghilang dari pandanganmu.” Ujar Myungsoo kian menggenggam tanganku.
“apa kau ingin merutuki hubungan kami lagi? Sampai
kapan kau akan berpura-pura tak tahu bahwa bukan pada Youngin maupun diriku
yang salah pada sistem perpecahan ini? Apa kau masih mencari kambing hitam
untuk kau persalahkan karena sifat kekanak-kanakaanmu itu?” tandas Myungsoo
membungkam kalimat-kalimat dingin Krystal dan menarikku keluar dari coffe shop
ini. Menyelamatkanku dari situasi yang selalu saja menyudutkanku.
“ya...! sampai kapan kau diam ketika ular itu
mulai berbicara? Kapan kau akan membalas tindasannya itu? Bukalah matamu Lee
Youngin. Tak selamanya apa yang ia katakan salah akan tetap menjadi salah. Jika
kau masih bertahan memilih diam sebagai jawaban, jangan harap ia akan sadar
dengan sikap kekanak-kanakannya itu.” Bentak Myungsoo frustasi masih
menggenggam tanganku.
“aku tak memintamu datang dan membelaku.” Balasku
dingin melepaskan cengkraman tangannya.
Aku berpaling. Membuang pandanganku dari tatapan
lurusnya. Terlalu berat rasanya jika aku harus menatapnya lagi. Namun, Deg.
Sepasang mata menatapku dalam penuh kerapuhan. Tatapan itu. Kris.
Ia tersenyum getir mendekatiku dan Myungsoo yang
masih berdiri di bawah kerindangan pohon sakura yang tak jauh dari coffe shop
yang telah menciptakan reuni dingin antara aku, jinri, Krystal dan Myungsoo.
“apakah dia alasan pentingmu mengapa kau
meninggalkanku?” tanya Kris masih tersenyum padaku dengan tatapan dalam yang
susah kuartikan.
“mwo?”
“seharusnya kau mengatakan padaku bahwa kau ingin
menemuinya.” Imbuhnya lagi tetap tak mengalihkan matanya dari pandanganku.
“ani. Kau pasti salah faham...”
“aku tak dapat diam saja membiarkan gadis ini
diperlakukan seperti itu. Lain kali aku akan mentraktirmu. Mian hyung.” Jelas Myungsoo
membuatku secara spontan menatapnya.
Hyung? Hyung katanya? Jangan katakan bahwa mereka
adalah 2 orang yang saling mengenal. Jangan katakan bahwa 2 namja ini memiliki
suatu hubungan dekat yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Jangan katakan bahwa
aku terlibat lagi dalam lingkup cinta segitiga dengan Kris ataupun dengan Myungsoo.
Tuhan hanya ada 2 mahluk inikah yang berjenis kelamin laki-laki di dunia ini?
Haruskah aku berhubungan dengan 2 orang ini?
“oh, kurasa kalian butuh banyak waktu untuk
berbicaradan menyelesaikan semuanya. Aku akan memberi kalian waktu.” Pamit Kris
tersenyum getir beranjak meninggalkanku.
Aku hanya mematutkan mataku memandang
kepergiannya. Mataku masih menatapnya lurus memperhatikan langkah kaki
panjangnya tertuju. Terus memperhatikan pergerakan punggungnya hingga
menghilang terbawa mobil hitam metaliknya.
“apa sebenarnya hubunganmu dengan Kris oppa?”
tanyaku kemudian bersikap sewajarnya pada Myungsoo.
“oppa? Sedekat itukah kalian hingga kau
memanggilnya oppa?” balas Myungsoo dingin tak langsung menjawab pertanyaanku.
“lalu bagaimana denganmu? Sedekat itukah
hubunganmu dengannya hingga kau memanggilnya hyung? Eoh?” balasku tak mau
kalah.
“ya! jangan mengalihkan pembicaraan.”
“ani. Bukan aku yang mengalihkan pembicaraan.
Akulah yang terlebih dahulu menanyakan hubungan kalian.”
“itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui.” Jawab Myungsoo
begitu menyebalkan.
Aku menghela. “kereom jika kau tak ingin menjawab.
hidupku akan tetap baik-baik saja sekalipun aku tak mengetahuinya.” Ujarku
bersiap melangkah meninggalkannya.
Myungsoo kembali mencengkram lenganku “bagaimana
kau mengenalnya? Sedekat itukah kalian? apa sebenarnya hubungan kalian? Apa kau
menyukainya?” tanyanya beruntun.
Aku
memandangnya sinis. “dan itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui.”
“mwo?” aku
melepaskan tangannya. “terima kasih atas bantuanmu hari ini.” Ujarku
meninggalkannya.
“Youngin-ah!” panggilnya lagi yang membuatku
terpaksa berhenti.
“mworago?” aku berbalik enggan. Myungsoo memelukku
secara tiba-tiba. Memelukku dalam dan menyingkirkan jarak diantara kami.
Mendekapku hangat dan semakin mendekapku ketika kubergerak memberontak
melawannya.
“nan jongmal bogoshippo. Aku merindukanmu dan
pelukanmu.”
“itu bukan urusanku. Lepaskan aku.” Elakku
memberontak.
“kumohon tetaplah seperti ini. Hanya 1 menit saja.
Biarkan aku memelukmu seperti dulu.” Pintanya masih memelukku.
“aku masih menyukaimu. terlalu sulit bagiku untuk
melepaskanmu dari sisiku. Aku ingin kita kembali, dapatkah kau melihatku lagi?”
Ujarnya melepaskan dekapannya setelah sekian detik aku terus memberontaknya.
Aku mencoba setenang mungkin mengatur nafas dan
detakan jantungku mendengar permintaannya. Terlalu naif jika aku menjawab iya
setelah apa yang telah ia lakukan padaku. Cukup saat itu saja aku menjadi gadis
bodoh yang mudah terperangkap rayuannya.
“apa kau baru saja dicampakkan oleh seseorang?
Atau apa bagimu aku sebodoh itu?” cercaku menatapnya tajam.
“mwo?”
“menurutmu apa yang akan aku jawab setelah semua
yang telah kau lakukan padaku? Dunia pastilah akan menertawakan diriku jika aku
masih membuka hati untuk orang brengsek yang jelas-jelas telah menyakitiku.”
Tutupku benar-benar meninggalkannya. Menghiraukan semua panggilannya yang terus
memintaku menghentikan langkahku.
Shit.
>>>
“nomor
yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Silahkan ...” klik. Tutupku mengakhiri panggilanku. hanya
jawaban standar dari operator yang aku dengar setiap berusaha menghubunginya.
Entah sejak kapan ia berubah manjadi petugas penerima
pengalihan panggilan hingga jawaban itu saja yang aku terima. Dan entah sejak
kapan aku mulai memperdulikan pengabaiannya itu. Kris-ah, kumohon hentikan
permainanmu yang terus mengjindariku. Berhenti membuatku gila karena rasa
bersalah.
Aku mulai
frustasi karena tak dapat menghubunginya. Ini sudah kesekian kali aku tak dapat
menemuinya dan ini adalah hari kesekian aku tak dapat menghubunginya. Semuanya
menjadi sulit setelah pertemuan rumit itu.
Aku berjalan lesu menyusuri jalanan setapak menuju
tempat tinggalku. Ditemani semilir angin dan kegelapan malam, aku terus
berusaha menata hatiku. Dan bertanya apa yang salah dengan sistem perasaanku.
Setelah hari itu aku tak dapat hidup tenang. Hidup
bebas tanpa lilitan permintaan Myungsoo. aku tak tahu apa yang salah disini.
Entah mengapa semuanya menjadi rumit. Tak ada yang harus kusesali dari apa yag
telah aku ucapkan. Bukankah sudah sangat jelas bahwa apa yang kulakukan memang
benar?
“ddddrrrttt.... ddddrrrttt...” poselku berdering.
Kulihat nama Kris menyeringai di layar smartphoneku. Aku tersenyum, “ne,
yeoboseyo!” sapaku pada orang di sebrang sana.
“yeoboseyo!”
balasnya serak.
“kau baik-baik saja?”
“tidak
cukup baik setelah mengetahui apa yang terjadi antara kau dengannya.” Jawabnya seadanya.
“eh, apa maksudmu?” tanyaku hati-hati, berharap
bahwa apa yang aku fikirkan adalah salah.
“selama
ini aku fikir kau hanya tak mengerti semua perhatianku, sehingga apapun yang
aku lakukan tak akan pernah menyentuhmu. Namun hingga hari itu aku sadar mengapa
kau tak pernah melihat ketulusanku? Mengapa perhatianku tak pernah menyentuhmu?
Mengapa diriku tak pernah terlihat olehmu? Mengapa untuk mendapatkanmu aku
harus merasakan semua pilu?”
“oppa...!”
“Youngin-ah,
mianhae!” pintanya “aku menyukaimu. Mungkin kau sudah bosan dengan pengakuanku.
Tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa hingga detik dimana aku tak dapat menahan
perasaanku, detik dimana aku tak dapat menghindarimu hingga detik aku terpuruk
karenamu, aku masih ingin mencintaimu, ya pada detik ini aku masih ingin
mengatakan aku mencintaimu. maaf karena telah membebanimu.” Jelasnya semakin serak.
“oppa, apa yang kau katakan?”
“jangan
pedulikan aku jika kau memang masih ingin mencintainya. Aku telah terluka
begitu parah karenamu. Menerima cintamu sebagai rasa iba tak akan mengubah
apapun juga. Jadi, bahagialah bersamanya.”
“apa maksudmu? Apa kau ingin aku kembali dengan
seseorang yang telah menyakitiku? Aku baik-baik saja. Tanpanya aku bahagia.”
Elakku.
“benarkah?” kudengar suara tawa kecil darinya. “apa benar wajah seperti itu adalah wajah
gadis yang tengah berbahagia?” pancingnya.
Aku menoleh ke sekitar. Mencari seseorang berwujud
tegap dengan wajah tampan yang tengah berdiri dengan ponsel yang tergenggam dan
memperhatikanku dari kejauhan. Namun sayang. Hingga beberapa langkah aku
mencarinya tak kujumpai wujud sempurnanya.
“non eodiseo? Apa kau melihatku saat ini?” tanyaku
penuh selidik.
“aku
selalu melihatmu dimanapun kau berada. Itulah kekuatan cinta.” Godanya masih bersuara serak.
“berhenti menggodaku.” Ia tertawa, “Youngin-ah, kau perlu tahu. Myungsoo masih
sangat mencintaimu. dan kau juga masih mencintainya. Tak ada alasan lagi
mengapa kau harus menghubungiku untuk menjelaskan semuanya. Tak ada alasan lagi
bagiku untuk memintamu menjadi milikku. Dan
tak ada alasan lagi untuk diriku berada diantara kau dengannya.”
“oppa, Myungsoo hanya masa lalu.”
“ia bukan
masa lalumu. Ia adalah saat ini bagimu yang hanya sempat terhapus di masa
lalumu.”
“tapi oppa...” sanggahku mulai runtuh dari pertahananku.
“berbaliklah
dan lihat siapa yang telah menunggumu!” titahnya menutup panggilannya.
Aku terdiam melemas. Aku tak senang mendengar apa
yang ia katakan sekalipaun itu semua memang benar. Ya, aku memang masih
mencintainya. Masih membeku tak dapat melepaskan bayangannya. Namun aku tak
ingin menjadi bodoh untuk kesekian kalinya karena terlalu menyayanginya. Aku
membenci semua kebenaran ucapannya.
“Youngin-ah!” sapa suara dingin di balik
punggungku.
Myungsoo berdiri tegap menatapku hangat sama persis
dengan tatapan lamanya. Begitu dalam tiap memperhatikanku. Tak ada 1 jengkalpun
pergerakanku yang terluput dari penglihatannya.
“apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku dingin.
“hanya ingin memastikan apa yang aku rasakan
memang benar.” Jawabnya datar.
“kepastian apa? Kurasa tak ada yang perlu kau
pastikan.”
“aku dan Kris hyung. Jika ada yang ingin kau
ketahui tentang hubungan kami.” Ia menghela dan berjalan mendekat.
“aku berteman cukup dekat dengannya karena
hubungan kedua orangtua kami. Dan juga kami memiliki selera yang sama. Hampir
semua yang ia benci akupun membencinya dan semua yang aku sukai, juga ia sukai pula. Termasuk
dirimu.”
“aku tak akan terkejut jika kami menyukai wanita
yang sama. Namun aku tak dapat menerima jika yang ia sukai adalah dirimu.
Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku belum bisa melepasmu dari benakku.
Susah sekali menerima kenyataan bahwa Kris hyung begitu menyukaimu.” Ujarnya kian
mendekat.
Aku tertenggun, “berhenti! Jangan mendekat! Jangan
berdiri terlalu dekat denganku! Aku tak ingin lebih dekat lagi denganmu dan
teringat semua kebusukanmu!” seruku menjulurkan lengan dan melangkah mundur.
“sebenci itukah kau denganku?”
“lebih dari yang kau lihat. Aku sangat membencimu,
kau telah membuatku menjadi gadis yang benar-benar bodoh. karena itu,
berhentilah muncul di hadapanku dan mengatakan semua kebohonganmu itu! Jangan
lagi menemuiku setelah kau dicampakkan oleh wanita lain di hidupmu.”
“siapa maksudmu?”
“aku melihatmu bersama gadis lain di sebuah rumah
makan Kim Myungsoo. Jangan katakan kau tak memiliki hubungan apapun dengannya
jika kalian seakrab itu. dan sekarang kau menemuiku tanpa dosa seperti ini? Aku
benar-benar tak dapat memahamimu.”
“lalu hubungan apa yang kau harapkan antara aku
dengannya selain hubungan yang memang tak pernah ada seperti yang kau bayangkan?”
tanyanya frustasi.
“jadi apa sekarang kau terikat sebuah hubungan
dengan Kris hyung setelah ia mengusap air matamu pada makan malam itu?”
“mwo?”
“aku juga melihatmu dengannya. Jangan fikir aku
tak melihatnya begitu lembut memperlakukanmu. Dan jangan fikir aku baik-baik
saja setelah itu. Aku tahu Kris hyung begitu menyukaimu, tapi aku juga tahu
masih ada sesuatu yang dapat kita benahi dari semua kesalahpahaman ini.”
Ia hanya diam melihatku yang menunduk tak sanggup
menatap kedalaman tatapannya. Aku tak ingin menunjukkan padanya betapa aku
tersiksa karena semua perasaan yang membelitku. Aku tak ingin ia semakin mudah
mengambil alih lagi hatiku.
“lantas kebohongan apa lagi yang kau maksud?
Tidakkah kau percaya dengan ketulusanku?” ujarnya kembali dingin dan
mendekatiku lagi.
“aku bilang berhenti mendekat...” jeritku
meneteskan sebulir bening air mataku.
Myungsoo mengabaikan perintahku. Ia terus mendekat
hingga berhasil mengunciku dengan satu tangannya yang terulur bersandar pada
dinding di belakangku. Hanya ada aku, ia dan jarak 5 cm saja diantara kami.
Mata tajamnya semakin dalam menatapku dan kian mendekatkan wajahnya denganku.
Semakin dekat hingga dapat kurasakan dengan jelas
hembusan nafasnya. Dan dapat dengan jelas pula aku mendengar degupan kencang
jantungku karenanya. Ini adalah kali pertama ia sedekat ini denganku.
“apa ini kebohongan yang kau maksud itu?” bisiknya
tepat di telingaku setelah sekian detik aku kesulitan mengatur ritme nafas dan
jantungku. Setelah sekain detik aku tak dapat berkutik dalam dunia gelapku.
Ia melepaskanku, “apa kau fikir aku benar-benar
berciuman dengan gadis lain yang tak kusukai?”
“mwo?”
“aku hanya membantunya mengenakan kalung. Ia bukan
siapa-siapa. Sekalipun tak pernah terbesit di fikiranku menghianatimu ataupun
mencium gadis yang tak kusukai. Kaulah satu-satunya gadis di hatiku saat itu,
kini dan nanti. Aku masih mencintaimu Youngin-ah!” jelasnya.
Aku masih mencoba mencerna apa yang terjadi
beberapa detik yang lalu. ketika aku tak dapat berkutik pada posisi yang begitu
menyudutkanku. Masih mencoba menyisihkan anggapan bahwa apa yang ia katakan
adalah benar.
“manis sekali ucapanmu.” Sindirku. “apa itu yang
selalu kau ucapkan pada semua gadis yang kau campakkan dan meminta mereka
kembali lagi padamu?”
“aku tak pernah mencampakkan gadis manapun dan tak
pernah meminta mereka kembali. Karena selama ini hanya kau gadis yang kusukai.
Tak ada yang lain.”
“tuan kim, berhentilah bersikap manis seperti ini.
Bagiku kau hanya angin di masa laluku. Biarkan aku terlepas dari belenggu
ucapan manismu. Cukup saat itu saja aku bodoh dan termakan ucapanmu.” Ujarku
berbalik membelakanginya.
“Youngin-ah!” panggilnya. “apakah waktu selama ini
belum cukup untuk mengubah pandanganmu bahwa itu hanya suatu kesalahpahaman
yang tak semestinya ada.”
“kesalahpahaman? Kau bahkan tak memberiku
penjelasan apapun saat itu. Mengapa kau baru mengatakannya ketika tak ada
satupun yang dapat dibenahi dari hubungan ini?”
“apa kau benar-benar membutuhkan penjelasanku saat
itu? Bukankah yang ingin kau percayai hanyalah apa yang kau lihat? Untuk apa
aku bersusah payah menjelaskan sesuatu yang tak pernah kuperbuat? Selamanya
sebuah kebenaran tak akan pernah menjadi benar selama kau tak menganggapnya
benar.”
“sama halnya denganmu yang tak yang tak dapat
mengubah presepsi Krystal tentang hubungan kita dulu hanya karena ia selalu
menilai bahwa tak ada yang benar dari apapun yang kau ucapkan. Karena itu aku
terus menunggu kapan kau akan mempercayai dan membenarkan apa yang aku
ucapkan.”
Aku tertenggun dengan apa yang ia katakan. Selama
ini yang aku fikirkan hanyalah sebuah kerancauan hubungan yang telah ia
ciptakan. Aku tak pernah berfikir ini hanyalah sebuah kesalahfahaman.
“aku tahu aku ceroboh karena telah membiarkanmu terlepas terlalu
jauh dari sisiku. Terlalu lama membiarkanmu menungguku menjelaskan semua
kejadian itu. Sekalipun aku memberimu waktu yang lebih lama lagi, dan kau tak
dapat mengubah fikiranmu, bukankah semuanya hanya kesia-siaan belaka? Namun
percayalah padaku, aku masih mencintaimu.”
Kami terdiam. Berdiam diri dalam kemelut fikiran
kami. Aku masih mencerna semua yang ia katakan. Aku benar-benar takut bahwa ini
hanya kasih semu yang ia ciptakan. Aku benar-benar takut terjatuh dilubang yang
sama untuk kedua kalinya.
“kereom, sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku
benar-benar tak dapat membedakan mana yang benar dan mana salah. Semua
ucapanmu, semua sikapmu dan perasaanku, itu semua bagaikan kabut semu yang
berarak mengelilingiku.”
Myungsoo tersenyum, “kau hanya perlu mempercayaiku
bahwa tak akan ada kata putus lagi diantara kita setelah ini.” Ujarnya mundur
satu langkah.
Ia berlutut dihadapanku. Mengeluarkan satu kotak
mungil dari kantong jaketnya. “Lee Youngin, maukah kau menjadi satu-satunya
gadis dalam hidup Kim Myungsoo? menjadi satu-satunya gadis yang dapat
membuatnya segila ini mengejar cinta dan kepercayaanmu kembali?” ungkapnya
membuka kotak kecil itu dan memperlihatkan sebuah gantungan handphone kayu yang
sama persis dengan gantungan yang aku buang dulu dan beberapa hari lalu kembali
padaku.
Aku ragu. Masih berkutat dalam benakku, ‘dapatkah
aku memparcayai ketulusannya itu.’ Aku menutup kotak manis yang ia persembahkan
padaku dan menggenggam telapak tangannya yang terhalang kotak kecilnya itu.
“aku harap dunia tak akan menertawakanku karena
telah menarik ucapanku. Aku harap bukan tangisan ataupun penyesalan setelah aku
menerimamu kembali malam ini.” Ujarku perlahan. Ia tersenyum lalu bangkit.
Dan ~C h u~
Aku merasakan bibirnya yang menyentuh perlahan
bibirku. Menciumku manis dan begitu lembut. Beberapa saat hingga ia tersenyum
kembali menatapku.
Aku menyukai akhir bahagia dalam sebuah cerita. Aku
harap Myungsoo adalah adalah akhir bahagia dalam hidupku dan saat ini adalah
awal dari happy endingku.
-END-
gimana udah puas sama endingnya??? kalo belum lo bikin aja sendiri endingnya... ahah xD well, ff ini adalah ff yang paling ngegalauin bwt gw. kenapa? yupz, karena gw ngerasa bener2 di posisinya youngin. gw jelas bakal galau milih myungsoo apa kris. sayangnya youngin itu bukan gw. jadi gampang aja buat dia yang mau milih myungsoo lagi.
buat yang nge-ship "Young-Kris" gw minta maaf karena gak kasih youngin ke kris. karena dari awal ide ff ini yang gw temuin pas mlm2 di kamar mandi yah, youngin ama myungsoo. nyampein pesan "kebenaran tak akan pernah menjadi benar selama kau tak pernah menganggapnya benar" jadi buat lo yang ngerasa perlu kasih penjelasan ke seseorang yang marah sama lo, mending kaish waktu dia buat tennag dan tanyain aja "apa udah ada 1% omongan gw yang bakal lo percayain?" sejauh ini kan kalo orang udah marah dang ngecap lo salah, sampai kiamat diperpanjangpun dia gak bakal percaya sama kita. yah gak? karena itu. mohon pengertiannya yah readersku sayang... hehe :*
jujur aja, gw juga sempet survei tanya ke temen2 gw, berdasarkan angket gw, 10 dari 13 partisipan milih kris (milih moveon) dan sisanya ngaku gak bisa moveon. kalo gw sendiri, gw bedasarkan logikanya, gw bakal milih myungsoo, tapi kalo berdasarkan perasaan gw, jelas dong gw pilih kris.
udah sih, gitu aja yang mau gw sampaiin, mungkin gw bisa bikin ending yang beda kalo ada permintaan... heheh makanya jangan jadi siders :P. oh yah, karena bentar lagi suami masa dpn gw mau ultah *ToelToelKris *CatetTanggalLahirnya, gw udah nyiapin 1 ff special buat dia. jadi keep calm and wait my next post yah :* ILoveYa!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar